Super MOM

Super MOM
Jangan terlalu berharap


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Alvin memperhatikan gerak gerik sang Bunda, Ia merasa ada yang aneh. Bundanya itu sering kepergok menatap keluar rumah, bahkan selalu menyambut kepulangannya dengan wajah sumringah namun tidak berlangsung lama, wajah itu kembali cemberut.


Tak hanya sampai disitu, Bu Winda bahkan menatap sarapan, makan siang bahkan makan malamnya lama sebelum akhirnya memakannya walau hanya sedikit.


" Bunda... ! "


" Alvin.....! "


Kedua Ibu dan anak itu berucap secara spontan dan bersamaan, Alvin memandang wajah sang Bunda begitu juga sebaliknya.


" Iya Bun, ada apa. " Tanya Alvin.


Bu Winda menggeleng, Ia kemudian meminta Alvin mengatakan maksudnya lebih dulu.


" Bunda saja lebih dulu, nanti Alvin belakangan. "


Bu Winda terdiam sesaat sebelum akhirnya mengatakan apa yang selama ini mengganggu pikirannya.


" Nak, apa kamu marahan sama Dokter Risma. "


Alvin terkejut mendengar pertanyaan Bundanya.


" Marahan ? Maksud Bunda apa. " Tanya Alvin bingung.


" Ya marahan, habis kamu nggak pernah membawa Dokter Risma kerumah ini lagi. "


Alvin memaksakan untuk tersenyum, sekarang Ia tau apa yang menjadi penyebab Bunda nya murung beberapa hari ini.


" Bunda, hm.... begini. Alvin sama Bu Risma itu tidak ada hubungan apa- apa, dan tidak ada alasan buat Alvin untuk marahan sama Dia. Soal Dokter Risma tidak datang kemari ya, memang karena tidak ada alasan buat Dokter itu datang kemari. Dokter Risma juga sibuk di rumah sakit, Dia punya banyak pasien yang harus di tangani. "


Bu Winda menundukkan wajahnya, Ia kecewa mendengar ucapan Putranya.


" Kenapa Dokter Risma tidak punya alasan kemari, bagaimana kalau kamu meminangnya saja Nak, jadikan Dia pacarmu atau kalau perlu jadikan Dia sebagai Istrimu. Gampang kan, jadi Dia punya alasan datang kemari. "


Alvin tersedak dengan cepat Pria tampan itu meneguk air yang tersedia untuknya. Alvin mengatur nafasnya perlahan, Ia harus memberi penjelasan pada wanita yang sudah melahirkan nya itu.

__ADS_1


" Bunda, tidak semudah itu. Kami berdua tidak saling kenal, tolong Bunda jangan berharap terlalu besar padanya. "


Bu Winda menatap mata Putranya dalam- dalam.


" Katakan pada Bunda, apa kamu tidak sedikitpun menyukainya. Selama berada di dekatnya bahwa kamu tidak pernah merasakan apapun padanya. "


Alvin semakin bingung dengan pertanyaan Bundanya.


" Bun, Alvin tidak merasakan apapun padanya, jadi Bunda tolong untuk tidak berpikiran aneh- aneh yang hanya akan membuat hati Bunda sakit nantinya. "


Alvin meninggalkan sang Bunda seorang diri di meja makan, Ia langsung melangkah masuk ke kamarnya. Di balkon Ia merenung seorang diri, beberapa kali Ia nampak menghela nafas.


Bibi menghampiri Bu Winda, takut wanita itu kenapa- kenapa.


" Aku tidak apa- apa Bi, lanjutkan saja pekerjaan mu dan setelah itu kamu bisa istrahat. "


Bibi mengangguk dan akhirnya memilih pergi melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Di tempat lain.


" Ada apa El. " Tanya Tari.


El semakin gugup, melihat itu Tari berniat meninggalkan El karena sudah terlalu lama Ia menunggu.


" Menikahlah dengan ku. "


Ucapan El yang tiba-tiba sontak menghentikan langkah kaki Tari. Ia membalikkan badannya dan menatap El dengan tatapan bingung.


" Iya Ri, aku kemari ingin mengatakan itu padamu. Aku ingin menikahimu, aku ingin menebus semua kesalahan ku padamu selama ini. Aku ingin memberi keluarga yang utuh pada Arka Putra kita, aku ingin.....


" Cukup. " Potong Tari.


" Tidak perlu menikah kalau hanya ingin menebus kesalahan mu selama ini, tidak perlu menikah kalau hanya demi memberi Arka orang tua yang utuh. Kita akan tetap menjadi orang tuanya meskipun kita tidak bersama. "


El menatap wajah Tari, Ia tidak menyangka akan mendapatkan penolakan dari wanita itu. Ada rasa sedih, kecewa dan juga sakit menyelimuti hatinya.

__ADS_1


" Kenapa Ri, apa aku tidak pantas untukmu, atau mungkin ada hati lain yang kamu jaga. "


Tiba-tiba El merasa cemburu mengingat kejadian beberapa hari lalu.


" Itu urusanku El, aku rasa kamu tidak berhak untuk ikut campur dalam hal ini. "


Hati El semakin sakit, apalagi di tambah rasa cemburu nya yang semakin menggerogoti hatinya.


El meninggalkan ruangan Tari dengan langkah gontai, Ia seakan kehilangan banyak tenaga. El memutuskan untuk pulang, namun sebuah suara menghentikan langkahnya.


" Papa. " Panggil Arka


Arka masih berdiri di lantai dua, menunggu sang Ayah. Akhirnya El memutuskan menemui Putranya.


" Hei Nak. "


El jongkok dan memeluk Arka, bocah tampan itu menatap heran pada Ayahnya yang nampak murung.


" Pa, apa Papa sudah bertemu dengan Mama. " Tanya Arka.


El mengangguk dan memaksakan untuk tersenyum.


" Oh gitu, tapi kenapa Papa murung. Apa Mama dan Papa bertengkar lagi, ah rumitnya jadi orang dewasa. " Batin Arka.


" Papa, Arka mau ketemu Tiara. Bagaimana kalau Papa temani Arka kesana, Tiara pasti senang kalau lihat Papa juga ikut bersamaku. "


Sebenarnya El sedang malas kemana-mana, namun Ia tidak mungkin mengecewakan bocah tampannya.


" Baiklah sayang, terus kita kesananya kapan. " Tanya El akhirnya.


" Ya sekarang dong Pa, masa nunggu lebaran haji. "


Arka mencoba menghibur sang Ayah dan benar saja, El yang terkejut mendengar gurauan Arka akhirnya bisa tersenyum.


" Wah, anak Papa sudah besar ya. Sudah bisa memikirkan habis bulan haji, memangnya ada apa dengan bulan haji. Ya sudah sayang, sebelum berangkat lebih baik ijin dulu sama Mama, biar Mama nggak bingung nyariin nanti. "

__ADS_1


Arka mengangguk, Ia menarik tangan El untuk menemui Tari. Lagi-lagi El ingin menolak tapi tidak tega pada Arka


__ADS_2