
Semua mata memandang seorang Pria tampan yang memasuki ruangan kepala sekolah, tentu mereka yang hadir disana langsung mengenal siapa dia. Cowok tampan rebutan para gadis di kota, namun yang jadi pertanyaan adalah kenapa Pria itu ada disini.
" Siapa yang mengatakan kalau dia tidak punya Ayah, baiklah. Mari perkenalkan, aku Axell lionel atmajaya adalah Ayah dari Arka raffasha atmajaya. "
El menghampiri Arka dan memeluknya memberikan ciuman di wajah Arka. Arka begitu bahagia, karena hari ini Om Dokternya menolongnya.
" Makasih Om Dokter " Bisik Arka di telinga El.
Ada rasa sakit yang di rasakan El saat mendengar Arka masih memanggilnya Om.
" Bukan Om Nak tapi Papa " Bisik El juga.
Arka tersenyum dan mengangguk senang, keduanya kembali berpelukan. Berbagai macam ekspresi wajah di ruangan itu, ada yang senang, ketakutan dan juga gelisah.
" Bagaimana bisa anak itu tiba-tiba menjadi anak dari orang terpandang di kota ini " Batin Hesti yang mulai ketakutan.
Kalau di lihat fisik keduanya memang memiliki banyak kemiripan, apalagi mata biru yang sama sama di miliki keduanya.
" Jadi Nak Arka adalah anak Bapak "
Pertanyaan yang bodoh yang pernah di tanyakan Hera pada seorang yang memiliki kekuasaan besar.
Maklumlah selama ini banyak orang yang tidak mengetahui kabar keluarga besar itu, meskipun mereka keluarga terpandang dan setiap sedikit kesalahan saja sudah jadi konsumsi publik, namun semua berita tidak pernah ada yang bertahan lama atau berlanjut karena akan langsung raib hari itu juga.
" Seperti nya semuanya sudah selesai, ayo kita pulang Nak " Ajak El dan Arka pun mengangguk.
Bu Hera langsung berdiri dan meminta maaf atas kelancangan, kekeliruan nya selama ini.
" Maafkan saya Bu, Pak. Maaf karena saya sudah melakukan kesalahan fatal, tolong jangan pecat saya "
Bu Hera menunduk ketakutan, sama hal nya dengan Hesti. Sejak tadi tibuhnya sudah gemetar membayangkan bagaimana nasib dirinya.
" Ibu Hera, sebenarnya aku sangat kecewa kepada Anda. Cara Anda menangani masalah disini masih sangat buruk, tapi karena Anda sudah bekerja lama disini jadi aku beri kesempatan Anda untuk melanjutkan tugas disini. Tapi ingat, jangan sampai hal ini terulang lagi. Selalu cari bukti lebih dulu dan perlakukan semua anak didik sama, tidak ada pengecualian. "
__ADS_1
Hera mengangkat wajahnya dan tersenyum, Ia mengucapkan ribuan terima kasih pada pemilik yayasan itu yang berbesar hati menerimanya kembali.
Mereka melangkah keluar meninggalkan ruang kepala sekolah dengan Arka berada di dalam gendongan El.
" Dan untuk kamu, mulai saat ini aku tidak ingin melihat wajah mu dan juga anak mu ini ada disini. Silahkan cari tempat lain yang mau menampung wanita bar bar seperti mu atau kalau perlu kamu cari tempat sekolah yang mau mengajari bagaimana cara beretika yang baik. Jangan pernah mengatakan kalau kamu wanita terpandang selama mulut mu masih pedas dan seenaknya saja berkicau seperti itu. Kembalilah ke rumah dan kamu akan dapat hadiah atas semua yang sudah kamu lakukan pada Putraku selama ini "
Usai mengucapkan itu mereka langsung meninggalkan area sekolah, Hesti mendadak merasa dunianya gelap setelah mengetahui dengan siapa Ia sudah berurusan selama ini.
Ia melangkah gontai ketika pihak sekolah menjalankan amanah dari pemilik sekolah agar Ia tidak lagi menampakkan wajahnya disana.
Di dalam mobil Arka begitu nampak bahagia, Tari dan Arka terpaksa ikut bersama El karena Pria itu berhasil membuat Tari tidak bisa berkutik.
" Makasih ya Om Dokter "
" Makasih, makasih untuk apa " Tanya El
" Makasih karena Om sudah membantu Arka tadi, Arka senang deh. Coba lihat tadi, teman teman Arka pada kagum karena mengetahui Arka punya Papa. Makasih karena Om tadi sudah berpura-pura jadi Papanya Arka "
Sakit rasanya namun El bisa memaklumi itu semua, apa yang telah terjadi semua butuh proses tidak bisa berjalan sesuai apa yang dia inginkan.
Arka tersenyum namun kemudian Ia menyadari satu hal, ada orang lain dalam hidupnya yang selama ini begitu berarti.
Ia menoleh menatap Tari yang duduk di sampingnya, suasana menjadi canggung hingga tiba di kediaman Maudy.
" Mama, Arka ke atas dulu mau ganti baju " Pamit Arka.
Ia segera berlari ke atas setelah melihat Ibunya mengangguk. Tari langsung masuk ke ruang kerjanya setelah Arka naik ke atas.
" Tari, tunggu ! "
El segera menahan pintu ruangan yang ingin di tutup Tari, meskipun Tari berusaha menutup nya namun tetap saja tenaganya kalah kuat.
" Apa yang sudah kamu lakukan El, apa kamu puas sudah membuat Arka ketergantungan dengan mu ha ~ "
__ADS_1
Tari akhirnya melupakan emosinya setelah sejak lama di tahannya.
" Apa yang salah Ri, aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Dia anak ku dan aku berhak melindunginya "
Tari menatap tajam ke arah El, mengingat semua perjuangan nya selama ini yang tidak mudah membuatnya merasa sensitif pada semua hal yang menyangkut Putranya itu.
" Putra katamu El, jangan asal bicara "
Untung saja ruang kerjanya kedap suara kalau tidak mungkin saja perdebatan mereka sudah terdengar keluar.
" Aku tidak asal bicara Tari, aku sudah membuktikannya semua, dan ini. Sembilan puluh sembilan persen DNA nya fositif, dia adalah Putraku "
El menyodorkan sebuah kertas yang sejak tadi berada dalam kantong jas nya.
" Sebenarnya tanpa melakukan ini pun aku sudah yakin kalau Arka adalah Putraku, aku melakukannya hanya agar aku punya bukti yang bisa aku tunjukkan padamu. Tari ~ kamu tidak bisa menutupi semuanya dariku dan juga Arka. "
Bayangan kelam masa lalu kembali menyeruak di pikiran Tari membuatnya merasakan sakit yang teramat.
" Untuk apa dia harus tahu, apa aku harus mengatakan kalau Ayahnya sangat membenci Ibunya, kalau Ayahnya memperkosa Ibunya sampai dia ada, kalau kehadiran nya dari hubungan tidak benar begitu "
Tari mulai menangis histeris, Ia sakit dan sangat menderita. Semua keberanian dan juga kekuatan yang coba Ia perlihatkan pada semua orang hari ini runtuh. Ia hanya wanita lemah yang mencoba kuat demi buah hati yang tanpa sengaja hadir dalam rahimnya.
" Maafkan aku Ri, maafkan aku "
El memeluk tubuh Tari yang sedang menangis histeris, meskipun Tari menolaknya Ia tidak peduli. Beberapa pukulan Tari di tubuhnya tidak di pedulikannya yang Ia tahu saat ini Ia bisa merasakan bagaimana sakitnya wanita itu selama ini.
Berulang kali Ia mengucapkan kata maaf sambil terus menenangkan Tari.
" Kamu jahat El, kamu jahat .... "
El pun ikut menangis, Ia mengangguk angguk mengakui kalau dirinya memang jahat, semua yang di katakan Tari adalah benar.
...β Iya Ri, aku jahat, sangat jahat. Maafkan aku, maaf.... ! "...
__ADS_1
El masih belum melepaskan pelukannya, tubuh Tari masih Ia rasakan berguncang dan itu membuatnya merasakan sakit yang sama seperti yang di rasakan Tari saat ini.