
Tari sedang menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan yang juga lain, sampai tiba tiba Ia di kejutkan dengan suara langkah kaki. Tari menoleh dan melihat sang Putra sedang berjalan ke arahnya.
" Sayang, kamu sudah rapi ternyata. Sini duduk kita sarapan sama sama ya sayang "
Tari mengira Putranya itu tidak akan berangkat ke sekolah pagi ini, tapi ternyata dugaannya salah.
Mereka akhirnya sarapan bertiga sebelum kembali di sibukkan dengan aktivitasnya masing masing.
" Sayang, apa Arka masih mau disana atau Mama bisa carikan tempat lain yang lebih nyaman untuk Arka gimana "
Arka menggeleng cepat dan Tari tidak bisa memaksakan kemauan Arka. Selesai sarapan Tari memutuskan mengantar Arka sendiri kesekolah.
" Sayang, pagi ini perginya sama Mama. Mau ya. " Arka mengangguk setuju.
Arka memilih menunggu Tari di mobil karena Tari harus mengambil tas nya lebih dulu yang tertinggal di dalam kamar.
Maudy menghampiri Tari dan membicarakan beberapa hal dan Tari pun mengangguk kemudian berlalu pergi.
Tari mengemudi ke arah yang berlawanan dari tempatnya bekerja, sepanjang perjalanan Tari memperhatikan raut wajah Putranya. Ia khawatir Putranya itu akan merasa tidak nyaman, namun dari yang Ia lihat Arka tidak nampak seperti seseorang yang sedang dalam masalah.
" Ayo sayang, kita masuk " Tari menggandeng tangan Arka memasuki area sekolah.
Baru saja akan memasuki ruang kelas mereka sudah di sambut dengan suara menggelegar yang tidak mengenakkan.
" Oh oh oh, punya nyali juga rupanya kalian. Sudah berbuat salah masih berani menampakkan wajah disini "
Merasa Tari tidak mengindahkan ucapannya wanita itu mendorong tubuh Tari hingga membuatnya terhuyung kedepan karena mendapat serangan tiba-tiba.
" Ibu Nando yang terhormat, bisakah anda berlaku sopan pada orang lain. Sikap anda ini sudah benar-benar keterlaluan "
Wanita yang bernama Hesti itu malah tertawa senang karena akhirnya Tari mengeluarkan suaranya dan itu membuatnya mempunyai alasan untuk berbuat sesuka hati.
" Kamu......! wanita ja*ang, berani beraninya membentak ku.
" Ada apa ini "
Semua yang ada disana menoleh ke asal suara, Tari terkejut melihat kehadiran Maudy padahal kurang lebih satu jam yang lalu Maudy sudah minta ijin tidak bisa ikut mengantarkan ke sekolah karena ada kerjaan mendadak, nyatanya saat ini wanita itu ada di depan matanya.
" Oh Ibu Maudy, Assalamu'alaikum Bu "
Kepala sekolah yang baru datang langsung menyapa Maudy, beliau terkejut karena pagi pagi sudah kedatangan tamu penting.
" Wa'alaikum salam "
" Mari masuk Bu "
Maudy mengangguk dan melangkah masuk, Ia juga membawa serta cucu kesayangan nya. Melihat itu Hesti semakin mencibir.
__ADS_1
" Sok kenal, kamu pikir aku takut. Awas saja ya, aku akan buat kamu dan anak mu itu keluar dari sekolah ini hari ini juga "
Tari tidak menghiraukan ocehan wanita jadi jadian di depannya, Ia lebih memilih masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.
" Ada hal penting apa sampai Ibu Maudy menyempatkan diri langsung mengunjungi yayasan pagi ini "
Ibu kepala sekolah tahu persis bagaimana sibuknya seorang Maudy, kalau sampai mengunjungi sebuah tempat pasti itu sangat penting.
" Aku kemari hanya ingin memastikan satu hal "
" Apa itu Bu " Tanya kepala sekolah.
" Apa yang terjadi pada~ "
Maudy menoleh ke arah Arka yang duduk di sampingnya. Kepala sekolah mendadak bingung, seorang Maudy datang ke yayasan hanya menanyakan masalah salah satu murid.
" Oh, maksud Ibu masalah Arka dan juga Nando. Begini Bu, menurut laporan dari Nando dan sang Ibu bahwa ananda Arka sering mengganggunya dan mereka tidak nyaman "
Maudy menghela nafas berat mendengar jawaban orang penting di yayasan itu.
" Benarkah begitu dan Anda mempercayai nya begitu saja "
Kepala sekolah terdiam, Ia merasa serba salah.
" Panggilkan kedua Ibu dan anak itu " Perintah Maudy.
Kepala sekolah mengangguk dan meminta seseorang untuk memanggilkan Hesti dan sang anak.
Setelah beberapa saat Hesti masuk dengan wajah angkuh, Ia tersenyum sinis ke arah Tari.
" Ada apa Bu " Tanya Hesti pada kepala sekolah.
Maudy menoleh melihat wajah wanita yang sudah menjadi biang kerok keamanan cucu kesayangan nya.
" Coba ceritakan apa yang terjadi "
Hesti dengan berapi api mulai menceritakan semuanya dan Maudy hanya tersenyum sinis.
" Apa kamu punya saksi yang membenarkan kalau Arka melakukan hal seperti itu "
Kepala sekolah dan juga Hesti terkejut mendengar pertanyaan Maudy.
" Tidak punya ya, baiklah. Bagaimana kalau kita buktikan saja sendiri, siapa yang benar dan siapa yang salah dalam hal ini. Ibu Hera, coba periksa CCTV beberapa hari ini. Ah bukan hanya beberapa hari ini saja, tapi beberapa bulan yang lalu "
Hesti mendadak pucat pasi, Ia tidak pernah berpikir kalau ada saksi mata yang nyata di yayasan ini yaitu CCTV. Ibu Hera juga tiba-tiba merasa bodoh karena tidak mengecek CCTV terkait sebelumnya, dan mengambil kesimpulan sepihak dengan menghubungi salah satu orang tua murid.
Ibu Hera mulai mengecek CCTV beberapa hari ini dan benar saja disana terpampang jelas bagaimana perbuatan seorang anak yang masih berada di bawah umur namun perbuatan nya sangat sadis.
__ADS_1
Maudy dan Tari menutup mulut melihat rekaman CCTV, air matanya mengalir tanpa di beri aba aba.
Tari langsung memeluk Putranya erat, Ia memeriksa bagian bagian tubuh Putranya dan benar saja. Banyak tanda merah yang mulai membiru dimana mana.
Semua mata menatap tajam pada Hesti.
" Apa begini cara wanita yang katanya berkelas bersikap, sayang sekali tapi yang aku lihat anda tidak lebih dari seseorang yang tidak bermoral. Anda bahkan tidak pantas menjadi seorang Ibu "
Suara Tari bergetar menahan amarah dan juga kesedihan yang mendalam.
" Diam, apa hak anda menilai ku seperti itu. Anda memang pantas mendapatkan itu semua, wanita ja*ang, untung kamu di terima disini, aku yakin kamu dan anakmu ini tidak akan di terima di sekolah lain "
Hesti masih saja menyombongkan diri.
" Cukup Ibu Hesti, jaga bicara Anda. Saya tahu kalau Anda itu adalah donatur tetap di sekolah ini, tapi saya tidak bisa mentolerir sikap Anda yang bar bar seperti ini. Anda membela Putra padahal sudah jelas Putra Anda yang bersalah, dan yang lebih menyedihkan lagi Anda juga ikut ikutan menindas nya. "
Hesti tersenyum sinis melihat Maudy karena membela wanita yang menurut nya wanita rendahan.
" Kenapa Bu, Ibu seperti nya membela wanita ini " Hesti menatap hina ke arah Tari dan juga Putranya itu.
Maudy berdiri wajahnya begitu tegang.
" Tentu saja aku membelanya karena dia terbukti tidak bersalah, bukan hanya itu. Seperti nya mulai saat ini yayasan ini tidak memerlukan donasi dari orang seperti Anda Bu Hesti, dan mulai sekarang sebaiknya anda kembali ke rumah dan memikirkan kan semua yang sudah Anda lakukan selama ini. "
Hesti meradang karena merasa dirinya tidak di untungkan dalam hal ini.
" Anda akan menyesal karena lebih membela wanita ja*ang ini "
" Cukup mengatakan nya seperti itu, menghinanya wanita ja*ang. Asal Anda tahu, wanita yang Anda hina ini moralnya lebih tinggi dari pada Anda "
Hesti mencemooh, Ia menuruti gaya bicara Maudy.
" Wanita tidak punya suami seperti dia tapi punya anak, mana bisa di sebut wanita bermoral. Keberadaan nya disini hanya akan membuat sekolah ini mendapatkan pengaruh buruk "
" Berhenti menghinanya Hesti, apa kau tahu siapa yang kau hina ini. Dia adalah Putriku dan anak ini adalah cucu ku sendiri " Maudy akhirnya tidak bisa menahan diri lagi.
Emosinya akhirnya meledak karena terus mendengar hinaan yang di lontarkan untuk Putri dan juga cucunya.
Hesti dan kepala sekolah dan beberapa guru yang lain terkejut mendengar pernyataan pemilik yayasan tempat mereka bekerja.
Hesti tertawa keras menertawakan Maudy yang di anggap nya bercanda.
" Putri, cucu hahaha. Nggak lucu ~ anak tidak punya Ayah "
" Siapa bilang dia tidak punya Ayah "
Semua langsung menoleh ke asal suara, nampak seorang Pria tampan berdiri di depan pintu.
__ADS_1
Arka yang melihat kehadiran El langsung sumringah, semua perdebatan yang terjadi di ruangan itu langsung sirna di benaknya.