Super MOM

Super MOM
Pernikahan dan Lamaran


__ADS_3

Imel terpaksa masuk dan bertanya siapa Pria itu, kenapa begitu seenaknya saja membawa dirinya, namun Pria itu nampak fokus mengemudi. Saat ini dirinya hanya bisa berharap, semoga Pria yang baru saja Ia temui tidak itu bertindak macam- macam padanya.


" Kamu siapa sih, kok main masuk saja ke mobil ku. Masalah tadi oke, aku yang salah dan aku minta maaf. Ini lagi, aku mau di bawa kemana. " Protes Imel


Karena Ia terlalu sering bertanya dan membuat kebisingan, akhirnya sang Pria pun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.


Imel gugup dengan tubuh bergetar ketika Si Pria ternyata mendekatkan wajahnya kearahnya, makin lama makin dekat.


" Hei, kau ma, mau apa. Jangan macam- macam ya, kalau nggak aku akan teriak dan semua orang akan datang menghakimi mu. "


Ketika hampir tak tersisa jarak, ponsel Imel berdering. Ia menarik tujuannya kesamping dan merogoh ponselnya.


" Tari. " Gumam Imel membaca nama yang tertera di layar ponsel nya.


" Hm, iya Ri. "


Imel menoleh kearah Pria yang ada di sampingnya ketika Tarik menanyakan sesuatu.


" Aku, aku sedang ada urusan sebentar, tapi akau akan tetap kesana kok. Secepatnya kalau urusanku sudah beres aku akan langsung kesana. "


Imel memilih diam ketika panggilan telponnya sudah berakhir, gadis cantik itu enggan untuk berdebad. Ia khawatir Pria aneh di sampingnya itu akan melakukan hal yang akan merugikan dirinya.


Mobil kembali melaju di jalan raya, namun semakin lama semakin membuat Imel heran karena ternyata jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju ke tempat semula.


Benar saja, Pria aneh itu langsung turun dari mobilnya dan meminta Imel untuk pergi.


" Pergilah. "


Imel masih bingung melihat sikap Pria yang belum Ia kenal itu.


" Kenapa masih bengong, bukannya kamu ada urusan dengan teman mu. "


Imel mengangguk pelan masih dengan mimik bingung, Ia akhirnya pergi meninggalkan area cafe. Sepanjang jalan Ia masih tidak mengerti apa yang terjadi.


Hari yang di nanti pun tiba, di saksikan oleh para saksi dan juga tamu undangan, El mengucapkan ijab qobul dengan lancar. Hanya dengan satu tarikan nafas keduanya sah menjadi sepasang suami istri, seluruh keluarga ikut berbahagia. Apalagi Maudy dan juga Aini, mereka berdua yang paling menginginkan pernikahan ini terjadi.

__ADS_1


Sejak tadi Tari memandangi para tamu undangan, Ia mencari seseorang yang sangat di nantinya hadir di hari bahagianya itu.


Tiba-tiba perhatian semuanya tertuju pada suara seseorang.


" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Mohon maaf untuk semuanya, saya hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada keluarga besar saya yang sudah sangat baik dan mengangkat saya menjadi keluarga Atmajaya, terima kasih Mama, Papa dan juga buat kedua pengantin yang sedang berbahagia hari ini. Semoga pernikahannya langgeng sampai maut memisahkan. Oh ya, saya juga disini ingin mengumumkan sesuatu. Saya ingin memperkenalkan seorang wanita satu- satunya yang saya cintai selama ini. Saya berniat ingin membangun keluarga kecil bersamanya menyusul saudara saya yang sudah mendapatkan pasangannya dan berbahagia hari ini. Tentunya itu terlaksana kalau dia juga mau menerima saya. "


Semua yang hadir disana dan mendengar apa yang di katakan oleh Putra dari keluarga Atmajaya itu saling menebak, siapa wanita yang beruntung itu.


Sementara itu di tempat yang sama Vania mengajak Putri kesayangannya pulang, tiba-tiba Ia merasa tidak nyaman.


" Sayang, kita pulang yuk. "


Tiara menatap heran pada Vania, acara belum juga usai tapi Vania sudah mengajaknya pulang.


" Tapi Ma, acaranya belum selesai. Kita juga belum pamit sama Mama Tarik dan Papa El. "


" Sayang, rasanya Mama kurang enak badan. Kita pamitnya nanti saja ya, kita kan bisa telpon nanti dan minta maaf, gimana Nak. "


Tiara akhirnya tidak bisa menolak setelah mendengar kalau Vania sedang tidak enak badan.


Vania tersenyum, Ia menghela nafas lega karena akhirnya bisa meninggalkan tempat itu sebelum hatinya benar-benar sakit menerima sebuah kenyataan pahit.


" VANIA AZZAHRA. "


Langkah Vania terhenti ketika mendengar namanya di sebut.


" VANIA AZZAHRA. "


Untuk kedua kalinya Vania mendengar namanya di sebut, Ia pun perlahan menoleh dan heran melihat Kevin yang sudah berdiri hanya berjarak beberapa langkah dari mereka.


" Vania Azzahra, maukah kamu menikah dengan ku. Maukah kamu menghabiskan sisa hidup mu bersama seorang Pria yang mempunyai banyak kekurangan ini. " Terdengar jelas semua yang di ucapkan Kevin.


Semua mata tertuju pada Kevin dan Vania, ada sebagian wanita yang menjadi tamu undangan yang menaruh iri melihat keberanian Putra dari pemilik Atmajaya itu melamar wanita pujaannya.


" Tapi Mas. "

__ADS_1


Vania ragu apakah Kevin sungguh-sungguh dengan apa yang Ia ucapkan, sedangkan Ia tahu kalau Pria itu mencintai wanita lain. Hal yang sama juga di rasakan Kevin, tubuhnya sudah di basahi keringat dingin. Ia takut kalau Vania akan menolaknya lagi kali ini seperti yang sudah- sudah.


Tiara menatap Vania, Ia setengah memohon dengan menarik- narik tangan Mamanya agar Mamanya itu mau menerima lamaran dari sang Papa.


" Terimalah Kak, Kevin sangat mencintaimu. Dari dulu hanya Kakak satu- satunya wanita yang Kevin cinta, percayalah. "


Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangan Vania dan membisikkan sesuatu tepat di telinganya. Vania menoleh dan terkejut melihat siapa yang sudah berada di sampingnya, Imel tersenyum dan mengangguk kecil. Ia menegaskan kalau semuanya akan baik-baik saja.


" VANIA AZZAHRA, maukah kamu menikah dengan ku. " Tanya Kevin lagi. Sudah kepalang basah ya mandi saja sekalian, pikir Kevin. Ia berharap kali ini Vania menerimanya.


Vania mengangguk pelan disertai senyuman. " Iya Mas, aku bersedia. " Jawab Vania.


Tepuk tangan dan sorak sorai dari sebagian tamu undangan terdengar menggema.


" Alhamdulillah ya Allah. " Semua keluarga besar serempak mengucap syukur.


Kevin langsung memeluk Vania dan juga Tiara secara bersamaan, Ia sangat bahagia karena akhirnya kali ini Vania menerimanya.


" Ma, selamat ya. Mantu baru akan segera nyusul. " Bisik Aluna pada Mama Aini.


Aini tersenyum, tidak bisa di pungkiri bagaimana bahagianya kali ini. Akhirnya satu persatu anaknya akan menemukan kebahagiaan nya masing-masing.


Acara kembali berlangsung, satu persatu undangan memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.


" Hei Bro, selamat ya. Maaf, aku terlambat. "


El langsung menyambut uluran tangan dari seorang Pria yang masih termasuk kerabatnya.


" Alvin, wah terima kasih. Aku pikir kamu tidak akan datang di hari bahagia kami ini, secara kan kamu sangat sibuk. "


" Bagaimana kamu bisa berpikir kalau aku tidak akan datang, sesibuk apapun itu aku pasti akan datang menghadiri hari bahagia saudara ku. Selamat ya akhirnya kamu tidak membujang lagi. " Keduanya pun berpelukan.


Di luar parkiran juga seorang gadis cantik tergesa-gesa turun dari taksi yang Ia tumpangi.


" Ya Allah, semoga belum terlambat. Ri maafkan aku. " Ia melangkah tergesa-gesa memasuki tempat diadakannya resepsi.

__ADS_1


__ADS_2