
El berlari kecil ketika tiba di kediaman orang tuanya, Ia sudah tidak sabar ingin menanyakan kebenaran tentang apa yang di katakan Vania padanya.
" Nak, kamu pulang. " Tanya Aini yang heran.
Pasalnya rumah ini sangat di benci oleh El, bahkan ketika Ia memutuskan menetap di kota ini Ia lebih memilih apartemen untuk tempat tinggalnya.
El mengangguk pelan sebagai jawaban pertanyaan Ibunya.
" Ada apa Nak, kok wajahnya di tekuk begitu, apa ada masalah. Oh iya, bagaimana pertemuan nya tadi, apa kamu bertemu dengannya Nak. " Tanya Aini.
El terdiam sesaat sebelum akhirnya Ia memilih meninggalkan sang Ibu seorang diri. Aini yang bingung hanya memandang punggung Putranya, ingin bertanya tapi ragu karena melihat mood Putra kesayangannya itu yang sedang tidak baik.
Pagi hari Aini lagi lagi di buat bingung dengan sikap El yang tidak biasa, Ia langsung menuju ruang makan, menarik salah satu kursi dan duduk disana.
Bagus dan Aini hanya saling tatap, bahkan Bagus yang adalah Ayah dari El sejak tadi memilih bungkam karena melihat raut wajah Putranya itu.
" Sayang, apa kamu ada masalah Nak. Coba cerita sama Mama, Mama.... Mama tidak suka melihatmu seperti ini. " Aini akhirnya bertanya pelan pada Putranya itu.
El menghela nafas berat sebelum Ia bersuara.
" El menerima perjodohan ini Ma, Mama tidak perlu cemas. Tapi apa El boleh meminta sesuatu pada Mama. " El menatap Ibunya dengan tatapan serius.
Aini menatap suaminya dan akhirnya mengangguk pelan.
" Apa wanita yang Mama jodohkan dengan El sudah tau, apa Dia juga mau menerima perjodohan ini. Ma, El hanya tidak mau hubungan ini di landasi dengan keterpaksaan atau Dia tidak bahagia bersama El. Kalau El, Mama tidak perlu khawatir, siapa pun Dia El akan menerimanya, karena El tahu pilihan Mama tidak akan pernah salah. Mama tidak akan mungkin menjodohkan El dengan seseorang yang tidak mungkin mampu membuat El bahagia, iyakan Ma. "
Aini yang mendengar ucapan anaknya hanya bisa mengangguk angguk pelan, Ia yakin pilihan nya kali ini tidak akan pernah salah.
" Ya sudah Ma, El berangkat dulu. Pagi ini El ada jadwal operasi jadi harus berangkat lebih awal. "El memberi alasan.
Ia mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian sebelum akhirnya pergi meninggalkan kediaman orang tuanya.
" Apa maksudnya Ma, di jodohkan. Dengan siapa, apa Mama yakin kalau Dia wanita baik baik dan pantas untuk anak kita. Lagi pula Papa heran sama Mama, kok tumben jodoh jodohin anak, apa Mama pikir anak kita itu tidak bisa mencari jodohnya sendiri. "
Pak Bagus memang tidak pernah memaksakan kedua anaknya dalam masalah pendamping, Ia serahkan semuanya pada anak anaknya yang akan menjalaninya. Bagi Pak Bagus yang penting calon menantunya baik tidak masalah dari kalangan manapun mereka berasal.
" Papa, apa Papa tidak khawatir. Anak kita itu usianya sudah hampir tiga puluh tahun, apa Papa nggak khawatir kalau Dia nggak laku laku juga. "
__ADS_1
Bagus hanya menatap wajah cantik istrinya sekilas dan kembali membaca surat kabar yang ada di tangannya.
" Mengenai wanita yang akan Mama jodohkan dengan anak kita, Mama juga yakin kalau Papa pasti akan menyukainya. Karena Dia orang yang sangat baik dan.....
Bagus meletakkan surat kabar yang Ia baca di atas meja dan menatap Istrinya.
" Dan apa sayang. "
" Dan seharusnya memang Dia sudah berada di keluarga ini sejak dulu Pa karena Dia sudah melahirkan keturunan Atmajaya Pa. " Jelas Aini.
Bagus terkejut mendengar penjelasan wanita yang begitu di cintainya.
" Apa maksud Mama, keturunan Atmajaya. Siapa..... "
Bagus bertanya karena bingung, karena Putri mereka yang sudah dua tahun menikah saja belum juga di karuniai keturunan.
" Mereka, mereka sangat dekat dengan kita Pa. Mereka hadir karena kesalahan Putra kita. "
Aini menundukkan wajahnya, Ia ikut merasakan bagaimana rasa sakit yang di alami wanita yang sudah mengandung penerus keturunan Atmajaya yang selama ini mereka idam idamkan.
" Apa maksudmu sayang. Mereka, Putra kita, siapa. ! Bicara yang jelas, apa.... apa Tiara memang cucu kandung kita. " Tanya Bagus lagi.
" Bukan Mas. "
" Bukan Dia lalu siapa, coba lihat Mas. Katakan siapa mereka. "
" A, Arka. "
Darrrrrrt. !!! Bagaikan di sambar gledek, Bagus benar-benar terkejut, Ia membayangkan wajah bocah tampan yang memang sudah mencuri hatinya sejak awal pertemuan mereka.
" Arka, apa benar itu Ma. " Tanya Bagus dengan suara penuh wibawa.
" Benar Pa, Maudy sudah menceritakan semua kebenarannya bahkan..... bahkan El juga sudah melakukan tes DNA dan terbukti 99, 99% positif, Dia cucu kita Pa, cucu kita. " Aini mengatakan dengan suara bergetar dengan berderai air mata.
Bagus langsung meraih tubuh Istrinya dan menariknya kedalam pelukannya, pikiran nya melayang jauh kemasa beberapa waktu lalu.
" Ayo Ma. "
__ADS_1
Bagus mengurai pelukan nya secara tiba-tiba dan mengajak sang Istri pergi, Aini yang masih males kemana mana hanya berdiam diri tanpa mengindahkan ajakan suaminya.
" Ayo dong sayang, cintaku, belahan jiwaku. " Rayu Bagus.
Aini tersenyum kecil namun masih dengan malas malasan melangkah kearah suaminya.
" Mau kemana sih kita Pa, Mama lagi pingin di rumah saja dan males ke
mana mana. "
" Meskipun ke tempat cucu kita, buruan dong. "
Mendengar kata cucu, semangat di dalam diri Aini langsung bangkit, Ia mengembangkan senyum sempurna.
" Bentar Mas, aku ambil tas dulu. " Aini berlari kecil menaiki anak tangga menuju ke lantai atas.
Bagus menggeleng pelan dengan senyum menghias bibirnya melihat perubahan Istrinya.
" Hmmm giliran cucu duh semangatnya kalah sama yang muda. Semoga senyum itu selalu menghiasi wajahmu sayang, terima kasih Nak. Kamu sudah membawa kebahagiaan dalam rumah ini Nak, lihatlah setelah sekian lama senyum itu kembali dapat kita lihat di wajah bidadari kita El. " Gumam Bagus.
Aini sudah tidak sabar ingin bertemu cucu pertamanya, berbeda kemarin suaminya yang belum mengetahuinya dan membuat Aini ragu namun kali ini Ia benar-benar merasa senang karena ternyata suaminya juga seperti nya sama bahagianya dengan yang Ia rasakan.
" Kenapa sayang, sepertinya dari tadi senyum senyum sendiri. "
Kedua calon Oma dan Opa itu benar-benar bahagia tapi Aini yang nampak antusias sedangkan Bagus masih bisa bersikap santai meskipun hatinya juga ingin melompat lompat.
" Eh tapi tunggu Pa, hari ini kan bukan hari libur, cucu kita pasti tidak ada di rumah. Dia kan sudah sekolah Pa. "
Keduanya pun nampak berpikir, Bagus bahkan meminggirkan mobilnya pada bahu jalan.
" Ah benarkah, wah sayang ya. Eh tapi apa Mama tahu dimana tempat Dia bersekolah. " Tanya Bagus kemudian.
Aini mengangguk
" Tau Mas, memangnya kenapa. " Tanya Aini
" Ya kita kesana saja, kita tunggu sampai cucu kita pulang, beres kan. "
__ADS_1
Jadilah keduanya sepakat menunggu di depan sekolah, karena cucu Pak Bagus bahkan meninggalkan pekerjaan pentingnya. Hilang sudah martabat orang terpandang di kota ketika bersangkutan dengan cucu.