
Imel melamun seorang diri di kediaman nya, Ia teringat pertanyaan Tari beberapa waktu yang lalu.
" Mel, bagaimana hubungan mu dengan Pria itu "
Imel heran, mengapa Tari menyebut Pria itu pada kekasih nya, kenapa tidak menyebut namanya saja.
" Maksud aku si Kevin Mel, kamu kan tau kalau aku sampai sekarang masih nggak percaya kalau kalian itu bisa pacaran. Apa kamu benar-benar mencintainya Mel "
Imel menghela nafas berulang kali, karena lelah akhirnya Ia tertidur di sofa ruang tengah.
Sementara di kediaman Maudy El tanpa sengaja memergoki Tari yang sedang berkutat dengan laptop dan juga beberapa berkas yang berserakan di depannya.
" Jadi kamu juga sedang menyelidiki kasus ini Ri " Tanya El tiba-tiba.
Karena terlalu fokus pada penelitian nya, Ia sampai tidak menyadari kehadiran orang lain di ruangannya.
" Kamu ! bagaimana kamu bisa masuk kemari " Tanya Tari dengan wajah pucat.
El dengan wajah datarnya menjawab pertanyaan Tari dengan santai.
" Ya bisa dong, orang dari tadi pintunya nggak di kunci. Makanya, lain kali kalau lagi menyelesaikan tugas penting itu jangan lupa untuk ngunci pintu, biar nggak ada orang lain yang bisa masuk "
Tari melihat pintu yang terbuka lebar, Ia benar-benar melongo mengetahui itu tapi kali ini entah mengapa Ia tidak mau mengalah.
" Eh meskipun pintunya terbuka, seharusnya kamu tidak boleh seenaknya saja masuk, ketuk pintu kek lebih dulu "
El tertawa kecil melihat wanita di depannya itu, biasanya Ia nampak tegas namun tidak untuk saat ini, Ia nampak menggemaskan seperti kucing kecil yang ingin ngajakin ribut.
" Sudah sudah, jangan kau besarkan suaramu itu lagi. Apa kamu mau Tante Maudy atau Arka mendengar suara mu ini dan mereka semua beramai ramai datang kemari. "
Tari mendadak diam, apa yang di katakan El memang ada benarnya. Tidak, Dia tidak mau ada yang tahu tentang semuanya setidaknya untuk saat ini.
" Ya sudah, sekarang untuk apa kamu masih disini, cepat keluar "
__ADS_1
El tidak ingin keluar meskipun Tari mendorong tubuhnya keluar.
" Cukup Ri, aku sudah tau semuanya, tidak perlu kamu sembunyikan lagi "
Tari menghentikan aksinya
" Tau, tau apa β"
" Tau kalau kamu dulu suka sama aku "
El tertawa melihat wajah Tari yang nampak begitu tegang.
Bughhhh. !! Tangan Tari dengan refleks menepuk pundak El dengan keras, saking kerasnya El bahkan meringis sembari mengusap pundaknya yang terkena pukulan Tari.
" Bisa tidak kalau sekarang kamu keluar, aku masih ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan "
El mencari cara bagaimana agar Tari mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Ri, apa kamu tidak menghawatirkan sesuatu " Tanya El dengan mimik wajah serius.
" Han sedang menyelidiki seseorang yang katanya beberapa hari ini selalu mondar mandir di depan yayasan MCA, dari gelagatnya terlihat jelas sangat mencurigakan. "
Tari yang mendengar itu langsung panik, naluri seorang Ibunya tiba-tiba muncul kepermukaan.
" Bagaimana bisa " Gumam Tari.
" Ya bisa saja, mungkin dia sedang memata matai seseorang disana. Apa kamu punya musuh, aku hanya menghawatirkan Arka saja sih. Tapi tidak mungkin, mereka kan tidak tahu soal siapa Arka, jadi semua yang kemungkinan membenciku tidak akan mungkin menjadikan Arka sebagai cadangan untuk di jadikan sandera. "
Tari meremas kedua tangannya yang mendadak dingin, peluh di tubuhnya mulai bercucuran. Tidak, Ia tidak akan menjadikan Putra semata wayangnya sebagai taruhan.
" Baiklah, aku keluar dulu. Silahkan teruskan pekerjaan mu, maaf sudah mengganggumu " El segera berlalu dari ruangan Tari.
Sejak sore sampai malam Tari tidak bisa tenang, Ia bahkan sudah menanyakan perihal ini pada orang-orang kepercayaan nya dan mereka semua membenarkan apa yang di katakan El. Bahwa beberapa hari ini memang ada orang yang seperti nya memata matai mereka.
__ADS_1
Karena khawatir malam ini Tari memilih tidur di kamar Putranya, Ia jadi parno sendiri. Sebelum tidur Ia memastikan semua pintu dan jendela di kamar Arka tertutup sempurna.
" Nak, apa sebaiknya kamu di rumah saja, Mama tidak ingin kamu kenapa kenapa. Bagaimana..... ah tidak, Mama tidak akan mengijinkan itu terjadi "
Setelah memastikan semua aman akhirnya Tari bisa tidur.
Pagi hari Ia terbangun dengan wajah kusut, semalam Ia tidak bisa tidur nyenyak. Apalagi ketika membaca pesan ancaman dari nomor yang tidak Ia kenal.
" Nak, apa hari ini Arka bisa ijin. Maksud Mama hari ini Arka ijin tidak ke sekolah dulu, nanti Mama yang menelpon Ibu kepala sekolah kalau kamu ijin hari ini "
Arka yang memang tidak pernah absen sekolah tentu saja heran dengan sikap Ibunya yang nampak aneh.
" Ada apa Ma, apa ada masalah. "
Tari mendadak gugup, Ia bingung harus menjawab apa.
" Tidak Nak, semua baik baik saja. Mama hanya ingin main sama Arka hari ini di rumah "
Arka tersenyum meskipun Ia sadar semuanya pasti ada yang tidak beres, tidak biasanya Ibunya melarangnya untuk ke sekolah.
" Mama, Arka hari ini ada ulangan dan nggak mungkin kalau Arka nggak masuk sekolah. Kita bisa main setelah Arka pulang sekolah, lagi pula bukannya Mama juga hari ini tidak bisa libur "
Tari mengangguk membenarkan, Ia memang hari ini tidak bisa meliburkan diri. Akhirnya dengan berat hati Ia pun merelakan kepergian Putranya.
Sebelum pergi Ia memberi pesan pada orang kepercayaan nya agar menjaga keselamatan Putranya dengan taruhan nyawa mereka.
Di rumah sakit Tari tidak bisa konsentrasi, bahkan beberapa kali Ia menghela nafas. Hingga beberapa pasien yang melihat perubahan nya menyarankan Tari untuk istrahat karena tidak tega melihat Dokter yang seharusnya merawat mereka kini malah nampak dirinya yang butuh perawatan.
Akhirnya Tari memutuskan satu hal, Ia merapikan semua berkasnya dan menyerahkan sisa tugasnya pada Risma, sahabat sekaligus rekan kerjanya.
Ia bergegas pulang setelah menghubungi seseorang.
...----------------...
__ADS_1
Assalamu'alaikum semua, up lagi hari ini. Mohon dukungannya ya, like komentar dan fav. Kalau ada vote boleh di vote ya, makasih π