
Setelah mengantarkan Tari pulang El langsung kembali karena ada pekerjaan penting yang harus Ia selesaikan segera.
Bergegas Ia berlari kecil menuju sebuah paviliun yang berada tepat di taman belakang rumah besarnya.
" Bagaimana, apa kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan " Tanya El ketika bertemu dengan seseorang disana.
Sekertaris Han menunjukkan beberapa rekaman yang Ia punya pada El dan El segera melihat nya.
" Maaf, sepertinya mereka bukan orang biasa bahkan CCTV yang berada disekitar tempat itu tidak di temukan oleh orang suruhan kita "
El manggut-manggut mendengar penjelasan orang kepercayaan nya, sembari Ia memperhatikan dengan seksama apa yang ada di depannya.
" Baiklah, aku akui mungkin mereka memang bukan orang biasa sehingga bisa menghilangkan barang bukti dengan sangat rapi, tapi bukan berati kita tidak bisa mengungkap siapa siapa mereka di balik ini dan apa tujuan sebenarnya mereka "
El kembali memperhatikan semua barang barang berharga yang sudah di kumpulkan oleh orang-orang suruhannya.
" Han ! seperti nya ada salah satu foto yang tidak ada disini, coba kamu cek dengan teliti "
Sekertaris Han segera melakukan tugasnya dan benar saja, ada salah satu bukti yang hilang.
" Mungkin tertinggal di tempat Tante Maudy " Gumam El.
Han menggeleng pelan
" Atau di ambil oleh salah satu dari kita " Gumam Han pelan namun masih di dengar oleh El.
El langsung menatapnya tajam, bagaimana Ia bisa mencurigai bukti itu di ambil oleh salah satu dari mereka.
" Apa kamu sepemikiran dengan ku Han, kalau Tari yang mengambil itu lalu dia buru buru pergi "
__ADS_1
Setelah berpikir sejenak El langsung mencurigai satu hal. Ia menautkan rentetan peristiwa yang terjadi setelah nya. Karena Ia tahu sekertaris pribadinya itu tidak akan sembarangan mengatakan sesuatu tanpa di pikirkan lebih dulu.
" Apa orang yang di maksud Tante Maudy adalah Dia, Dia orang nya yang begitu dekat dan mengenalku dengan baik. Tapi Han, atas dasar apa dia menaruh dendam padaku, aku tidak pernah berbuat salah padanya "
Han memilih diam karena begitulah pribadinya, Ia tidak akan mengatakan apapun kalau Ia tidak yakin atau paling tidak Ia punya bukti untuk itu.
" Baiklah Han kalau memang dia juga termasuk salah satu dari mereka maka kita akan segera mengetahui nya sebentar lagi. Hmm ~~~~ Kita akan ikuti permainan nya , kita lihat apa yang sebenarnya dia inginkan "
\*\*\*\*\*
Meskipun menghawatirkan Putra semata wayangnya namun Tari tetap harus melanjutkan aktivitas nya di rumah sakit, banyak pasien pasien yang bergantung padanya dan ini Ia lakukan demi tanggung jawabnya yang begitu besar untuk kesehatan masyarakat.
" Sayang, hari ini Mama yang antar ya " Tari menghampiri Putranya seperti biasa biasa sebelum berangkat bekerja.
Seperti biasa Arka selalu menolak setiap kali Ibunya menawarkan untuk mengantar juga menjemputnya, Ia tidak ingin merepotkan Ibunya karena Ia tahu Ibunya juga punya pekerjaan yang mulia yaitu membantu sesama yang memerlukan bantuan.
" Tidak usah Ma, Arka bisa sendiri. Mama tidak usah khawatir, lagi pula kan ada Pak Ardi, kalau ada apa apa Pak Ardi pasti akan segera mengabari Mama atau yang lain "
" Baiklah sayang, tapi apa Mama boleh meminta sesuatu padamu " Tanya Tari pelan.
Arka mengangguk, meskipun Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bingung nya melihat sikap Ibunya yang tidak biasa.
" Boleh Ma, ada apa. (.... ) Apa Mama ada masalah "
Tari menggeleng cepat
" Ah tidak Nak, Mama hanya merasa kalau Mama sudah lama tidak pernah mengantarkan Arka lagi ke sekolah. Oh ya, gimana sekolahnya Nak, apa masih ada yang suka gangguin Arka "
Arka menjawab dengan celengan kepala.
__ADS_1
" Nggak ada Ma, semuanya sekarang baik sama Arka " Jawab Arka
Tari tersenyum mendengar jawaban Putranya, Ia bersyukur karena sekarang Putranya merasa nyaman bersekolah setiap hari.
" Syukurlah kalau begitu Nak, ya sudahlah sekarang sebaiknya Arka berangkat sebelum telat "
Tari merapikan baju Putranya yang nampak masih kurang rapi, Ia tersenyum bahagia melihat Putra semata wayangnya yang semakin tumbuh besar dan pintar.
" Baiklah Ma, tapi tadi kata Mama mau meminta sesuatu dari Arka, Mama mau minta apa "
Tari nampak berpikir, Ia mendadak bingung harus menjawab apa.
" Ah itu..... itu Mama kayanya lupa deh, sudah nggak apa apa, yuk berangkat "
Tari berdiri dan menggandeng tangan Arka keluar dari kamar, Arka yang belum mendapatkan jawaban dari Tari semakin bingung, Ia menatap wajah Ibunya memastikan kalau Ibunya itu baik baik saja dan tidak ada hal penting yang di sembunyikan darinya.
Pak Ardi membukakan pintu untuk Arka dan menutupnya kembali setelah majikan mudanya itu berhasil duduk.
" Mama, kalau nanti Mama sudah ingat jangan lupa kasih tahu Arka ya " Arka mendongakkan Kepala nya di kaca mobil, memberi pesan pada Tari yang sedang berbicara pada supir kepercayaan nya.
Keduanya nampak tersenyum pada Arka mendengar ucapan bocah tampan itu.
" Iya sayang, nanti Mama kasih tahu kalau Mama sudah ingat Nak. Hati hati ya di sekolah, jangan pergi kemana mana selama jam pelajaran. Kalau sudah waktunya pulang, langsung pulang sama Pak Ardi ya Nak, jangan kemana mana "
Akhirnya secara tidak langsung Tari bisa memperingatkan anak semata wayangnya itu tanpa membuatnya curiga atau berpikir macam macam saat sedang belajar nanti.
" Iya Mama, Mama juga hati hati dan selamat bekerja, semangat ya Mama ! "
Tari mengangguk dan tersenyum, Ia menatap mobil yang di kemudikan Pak Ardi sampai hilang di tikungan jalan.
__ADS_1
" Ya Allah lindungilah Dia, jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya " Batin Tari memohon perlindungan dari yang maha Kuasa untuk keselamatan Putra kesayangan nya.
Sebelum berangkat Ia lebih dulu menghubungi seseorang, baru setelah merasa aman Ia kembali melanjutkan perjalanan nya.