
Aluna melangkah malas, Ia sudah trauma dengan hal semacam itu karena sudah sering Ia lakukan namun tidak ada hasilnya.
" Sudahlah Ma, Luna males ih, paling juga nggak ada hasil. "
Aini tetap menggenggam tangan Putrinya, dalam hati terus berharap bahwa hasilnya sesuai dengan yang mereka harapkan selama ini.
" Duduk Lun. " Pinta Tari dan Aluna pun ikut duduk.
" Coba kamu pakai ini dulu, seharusnya sih ini di pakai di pagi hari tapi tidak apa apa sekarang pun boleh. "
Aluna masih males berdiri, bukan Ia tidak tau cara menggunakannya tapi bayangan beberapa kali gagal membuatnya tidak bersemangat.
" Ayolah Nak, Mama bantu ya. "
Dengan langkah gontai Aluna menuju ke toilet yang berada di ruangan Tari, Ia membawa tes beserta cup untuk menampung urinnya.
Selesai membuang hajat kecil Ia segera mencelupkan benda kecil itu disana, Ia bergegas keluar tanpa melihat hasilnya.
" Mana sayang. " Tanya Aini.
Luna menggeleng pelan, berada di dalam toilet membuatnya semakin mual. Ia hanya menunjuk pakai kode pada Ibunya.
Aini dengan sabar masuk ke dalam toilet, menyiram closed dengan air mengalir. Ia meraih alat tes kehamilan itu dengan jantung berdebar.
" Ya Allah, semoga sesuai harapan. " Batin Aini.
Ia membalik stick berukuran kecil itu, wajahnya langsung sumringah. Ia keluar dan berulang kali mengucap syukur.
Di lihatnya Putrinya sedang duduk bersandar di kursi sambil memejamkan matanya.
" Gimana hasilnya Tan. " Tanya Tari.
Aini tidak menjawab, Ia langsung menyerahkan stick kecil itu pada Tari. Sama seperti Aini, Tari juga tersenyum senang melihat dua garis merah dengan jelas muncul disana.
" Lun, bisa rebahan disini. "
Aluna membuka matanya malas, baru juga Ia merasa nyaman bersandar sambil memejamkan mata.
" Sini biar Mama bantu. "
Aini dengan sigap membantu Putrinya rebahan di atas brangkar.
__ADS_1
" Pelan- pelan saja Nak. "
Aluna menghela nafas setelah posisi rebahannya sempurna. Tari mulai melakukan tugasnya dan benar saja, di layar monitor nampak dua kantong embrio sebiji jagung.
" Sayang, alhamdulillah Nak. Setelah ini hubungi Erland, kamu harus kasih tau kabar bahagia ini. " Aini begitu antusias.
Aluna nampak bingung mendengar ucapan Ibunya.
" Kabar bahagia, maksud Mama apa. " Tanya Aluna yang belum juga sadar dengan kondisinya saat ini.
Tari menyelesaikan pemeriksaan nya dengan menarik kembali pakaian atas yang sempat terbuka sebelumnya.
" Mau duduk atau tetap rebahan, biar bisa lihat hasilnya. "
Aluna akhirnya meminta untuk duduk, rebahan rasanya perutnya tiba-tiba mual kembali.
" Lihat disana sayang, kamu tau artinya apa. " Aini bertanya pelan, sebenarnya Ia ingin menangis namun coba Ia tahan.
Aluna mengikuti arah yang di tunjuk Aini, matanya membulat sempurna. Tentu Ia tau apa itu, karena dirinya berasal dari keluarga Dokter, hanya saja Ia memilih pekerjaan lain yang Ia senangi.
" Benarkah ini Dok, Mama... benarkah Luna hamil. " Suaranya pelan hampir tak terdengar. Tari dan Aini kompak mengangguk mengiyakan.
Selagi mereka berbahagia, pintu ruangan di ketuk, seperti biasa Tari mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Pintu terbuka dan nampak seorang wanita tersenyum lembut pada semua yang ada disana.
" Mama. "
Tari langsung berdiri dan memeluk Maudy, Maudy menatap heran pada saudara dan keponakannya yang ada di ruangan Putrinya.
" Mbak Aini, Luna. Kalian disini, apa kalian sakit. " Tanya Maudy.
" Ini Aya, Luna tadi tiba-tiba tidak enak badan. "
Aini menatap keponakannya yang memang nampak pucat.
" Apa sudah di periksa Nak, takut kenapa- kenapa. "
Buntut dari pembicaraan mereka, Maudy ikut bahagia setelah mengetahui keponakannya sedang berbadan dua.
__ADS_1
" Alhamdulillah, selamat Luna, selamat Mbak. " Maudy memeluk Aini dan Aluna bergantian.
Hari ini mereka bahagia karena Arka yang baru siuman dan hadirnya calon anggota baru di keluarga besar Atmajaya.
" Mama kemari mau jenguk Arka atau ada yang lain. " Tanya Tari karena tidak biasanya Mamanya itu datang ke tempat lain pada jam kerja.
Maudy duduk di sofa, Ia lupa tujuannya ketempat itu karena mendengar banyak kabar bahagia.
" Nak, sebenarnya Mama kemari ingin membawa kabar kurang mengenakkan. Mama bingung gimana cara menyampaikan nya. "
Nampak sangat dari wajahnya kalau ada masalah serius, membuat Tari penasaran namun juga menguatkan hati untuk apapun berita yang Ia dengar.
" Ada apa Ma. " Pertanyaan sama juga di tanyakan Aini sementara Aluna tidak ingin terlihat pembicaraan ketiga wanita itu.
Ia merasa nyaman rebahan di sofa sambil memejamkan mata.
" Ini tentang kabar sahabat mu Nak. "
Aini ikut menyimak, sedangkan Tari terkejut bukan kepalang.
" Sahabat, siapa Ma. "
Tari menyebutkan nama sahabatnya, Ia hanya kepikiran pada Ilmi atau Risma tapi ternyata tebakannya salah.
" Bukan mereka sayang, melainkan gadis yang pernah bertamu di rumah. "
" Imel, maksud Mama Imel. " Tanya Tari ketika mengingat sahabatnya yang lain.
Maudy mengangguk, Ia mulai menceritakan semua yang terjadi, Tari terkejut.
" Tapi bagaimana bisa Ma, lalu bagaimana keadaannya sama bayi yang di kandungnya. Tidak apa apa kan. "
Maudy menceritakan secara detail tentang kabar sahabat dari Tari itu, namun pernyataan terakhir Tari membuatnya bingung.
" Hamil Nak. "
Tari mengangguk sebagai jawaban membenarkan.
" Iya Ma, kalau tidak salah waktu itu Kevin pernah mengatakan kalau Imel sedang hamil anaknya. "
Ketiga wanita itu sama- sama terkejut dan bingung.
__ADS_1
" Kalau hamil Mama rasa nggak mungkin Nak, tapi nanti kamu tanyakan lagi padanya kalau sudah bertemu. "
Tari mengangguk dan berjanji akan menjenguk sahabatnya yang di rawat di klinik MCA setelah memastikan Putranya baik- baik saja.