Super MOM

Super MOM
Kue coklat


__ADS_3

El mengedarkan pandangan nya kesana kemari mencari seseorang namun tak kunjung Ia temukan.


" Kemana mereka, tidak mungkin kalau Arman berbohong kan. Atau jangan jangan mereka sudah pulang, ah sial. "


Karena fokus memindai penghuni cafe Ia tak sengaja menabrak orang lain yang membuatnya terkena amarah dari sang kekasih wanita yang ia tabrak.


" Aduh " Ringis wanita yang kena tabrak.


Sang kekasih yang kebetulan berada disamping nya mendadak marah.


" Hei, apa kamu nggak punya mata atau memang sengaja menabrakkan diri pada kekasih ku "


Pria itu memindai penampilan El, Ia semakin menatap dengan penuh amarah ketika melihat perhatian kekasihnya yang tak lepas dari mentap Pria di depannya


El tersenyum meminta maaf pada orang di depannya karena tak sengaja.


" Maaf Pak, saya tidak sengaja " Ucap El ramah.


Sang Pria segera menggandeng kekasihnya dan pergi dari sana.


" Iya, lain kali punya mata di gunakan buat melihat, jangan main asal tabrak saja "


Sang Pria pergi masih dengan perasaan tidak nyaman sedangkan Sang wanita masih tetap curi curi pandang pada El, Ia melambai lambaikan tangannya dan meletakkan pada bibirnya meniupkan nya ke arah El sebagai tanda cium jauh.


El yang melihat tingkah wanita itu hanya geleng-geleng kepala. Karena tidak mendapatkan orang yang Ia cari, akhirnya El pulang dengan perasaan gelisah.


Ia melajukan mobilnya ke arah berlawanan dari rumahnya, dalam hati Ia ingin menenangkan hatinya. Ketika akan tiba di tempat tujuan mata El menangkap sesuatu yang membuatnya mengerutkan kening.


" Vania " Gumam El.


Ia mencoba menajamkan penglihatannya, namun seseorang yang Ia yakini adalah Pria tidak terlihat olehnya karena posisinya yang saat ini membelakangi nya.


" Siapa Dia "


El segera turun dan melangkah mendekat, namun Ia tidak melihat siapapun lagi disana selain Vania.


El mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan siapa pun.


" El, kamu kemari sayang " Vania menyambut kedatangan El dengan wajah sumringah.


El masih menatap sekeliling mencari sesuatu yang Ia yakini ada.


" Sayang, ada apa. Kok seperti orang bingung, ada apa " Tanya Vania.


El menatap Vania dan juga sekitaran rumah.


" Kamu bicara sama siapa tadi " Tanya El balik.


Vania terkejut namun Ia berusaha tenang dengan senyum menghiasi wajahnya.

__ADS_1


" Bicara, apa maksudmu "


Vania berusaha menekan rasa gugup nya di depan El, agar Pria itu tidak curiga padanya.


" Aku yakin sebelum turun aku melihatmu berbicara dengan seseorang, seorang Pria.... siapa dia "


Vania yang gugup akhirnya tersenyum, Ia mendapat ide.


" Kamu cemburu El " Sambil tertawa kecil.


El yang mendengar ucapan Vania sontak bingung.


" Cemburu, apa maksud mu "


" Ya iyalah kamu cemburu, tadi kamu bilang melihat aku bicara dengan Pria dan kamu langsung menginterogasi aku seperti seorang tersangka, apa namanya kalau bukan cemburu. Ah sayang.... bilang saja kalau kamu cemburu, tenang saja aku tidak main hati. Sebenarnya tadi itu orang yang menanyakan alamat, aku saja tidak tau dia siapa. Katanya dia mencari rumah keluarganya, tapi aku bilang saja tidak tau karena aku juga baru disini "


El masih berdiri mencerna ucapan Vania, ada yang terasa ganjal baginya.


" Ah sudahlah sayang, ayo masuk. Tidak usah curiga macam macam, aku selalu ada untuk mu kalau kamu menginginkan nya. Bahkan sekarang pun aku siap kalau kamu mau "


Vania menggandeng tangan kanan El dan mengajaknya masuk. Ia mengusap dadanya pelan dan menatap kebelakang sebentar sebelum akhirnya mempercepat langkahnya masuk kedalam rumah.


Kedatangan El di sambut ceria oleh gadis kecilnya yang kala itu lagi fokus belajar namun langsung berteriak memanggil El dan memeluknya.


" Papa....... papa datang " Seru Tiara yang langsung melompat kedalam pelukan El.


" Iya sayang, Papa rindu. Apa anaknya Papa rindu juga hmm "


El menoel hidung mancung Putri kecilnya, Putri yang entah sangat benar-benar Ia sayangi meskipun Ia sudah tahu kebenaran tentang Putrinya itu.


Hanya satu yang El belum ketahui yaitu siapa sebenarnya Ayah dari Putri kecilnya itu. Ia hanya berharap siapapun Dia, Pria itu juga menyayangi Tiara seperti Dia menyayanginya.


" Tiara juga sayaaaang Papa, sayang bangeet " Satu kecupan mendarat di pipi El.


El begitu bahagia, Ia menggendong Tiara keluar kamar menuju ruang tengah.


" Papa punya sesuatu untuk mu sayang, kamu pasti suka "


El meletakkan Tiara di atas sofa dan mengambil kotak yang Ia bawa sebelum nya.


" Taraaaaa ini dia "


Tiara menunggu dengan sabar, El membuka kotaknya. Wajahnya langsung sumringah ketika melihat isi kotak.


" Kue coklat " Seru Tiara


El langsung memotong ujung kue dan memberikan nya pada sang Putri.


" Aaaa buka mulut, pesawat nya sedang mendarat "

__ADS_1


El menyuapi Tiara dengan senang hati begitu juga Tiara yang memang sangat menyayangi El yang Ia anggap Ayah kandung nya.


Sementara Vania mendengus kesal karena kehadiran nya seperti tidak ada artinya. El bahkan tidak sekalipun mengajaknya bergabung, seolah membiarkan Vania berdiri disana.


" Mama, ayo sini. Kenapa berdiri disana. Ayo, ini Papa bawa kue enak loh "


El yang seperti baru tersadar akhirnya ikut menatap kearah tatapan Tiara, Ia melihat Vania yang masih berdiri disana.


" Mau sampai kapan kamu berdiri disana "


Vania menahan kesal di dalam hati, bukannya di suruh gabung eh malah di tanya sampai kapan Ia akan berdiri di belakang El.


" Dasar Pria nggak peka " batin Vania kesal.


Ia akhirnya duduk di samping Tiara dan mencoba berinteraksi semanis mungkin.


" Wah seperti nya beneran enak, boleh nggak nih sayang kalau Mama juga ikutan icip dikit "


Tiara mengangguk cepat dan berulang


" Tentu Ma, yuk di ambil "


" Nggak mau ambil ah sayang, Mama juga mau dong di suapin Papa, masa Tiara doang "


Vania mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa dan rencana nya berhasil, Tiara langsung meminta El untuk menyuapi kue ke Ibunya itu.


" Papa, boleh nggak suapin Mama juga. "


El terpaksa mengiyakan permintaan Tiara, meskipun hati dan tangannya tidak searah.


Di dalam hati Vania bersorak bahagia karena rencana nya berhasil, setelah sekian lama Ia bisa kembali menikmati makan dari tangan Pria di depannya.


Vania menggigit pelan tangan El, mengulum nya dengan lidahnya, Ia juga mengedipkan satu matanya pada El. Ia mengulum tangan El seperti permen.


" Ahhhhh " Desahnya.


Pikiran nya melayang jauh, ketika menatap bibir sensual Pria di depannya. Ada sesuatu di bagian bawah tubuhnya yang berkedut, maklum sudah sangat lama Ia tidak lagi merasakan nikmat di sodok benda pusaka.


" Kenapa Ma " Tanya Tiara. " Apa kuenya nggak enak Ma " Lanjutnya lagi


Vania tersenyum jantungnya berdegub semakin kencang, Ia benar-benar sangat menginginkan penyatuan malam ini.


" Ah nggak sayang, justru ini sangat enak. Mama jadi pingin nyoba yang lain yang lebih enak, tapi Mama nggak tahu apa Papa mau "


Vania menggigit bibir bawahnya, nafasnya sudah naik turun. El menyadari hal itu, namun tidak dengan Tiara yang memang masih anak anak.


" Wah Papa pasti mau Ma, iyakan Pa. Papa mau berikan yang lebih enak dari ini "


El yang tidak ingin mengecewakan Tiara akhirnya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2