
Maudy melenggang masuk ke dalam rumah namun berhenti di balik jendela, Ia tidak begitu sepenuhnya percaya pada wanita bar bar itu.
" Oh.... sudah punya pelindung sekarang rupanya ya. Atmajaya, bukannya itu nama besar dari Pria itu. Ya, Ibu baru ingat. Apa kamu sudah merencanakan semuanya, menggoda salah satu pewaris Atmajaya corporation. Ibu tidak menyangka kalau kau ternyata lebih licik dari Ibu, bagaimana jadinya kalau mereka tahu kau sengaja menjebaknya untuk mendapatkan semua kemewahan ini " Sarah menatap Tari dengan tatapan sinis.
Tari sebenarnya malas menanggapi ocehan Ibunya, karena percuma. Apa pun yang Ia katakan akan selalu salah di mata Ibunya.
" Mereka sudah tahu Bu dan tidak ada masalah sama sekali, mereka begitu menyayangi Arka "
Sarah menoleh mendengar sebuah nama di sebutkan Tari.
" Arka, siapa dia " Tanya Sarah kemudian karena penasaran.
" Arka adalah anakku, jagoan kecilku Bu " Jawab Tari.
" Apa..... ! Jadi anak itu tidak jadi lenyap, dan apa benar Tari hamil anak dari pewaris orang terkaya di kota. Tidak.... berarti aku sudah berusaha melenyapkan keturunan Atmajaya "
Sarah merutuki dirinya atas perbuatannya dimasa lalu, andai Ia bersikap baik dan mau menerima janin itu pasti saat ini Ia sudah jadi bagian dari keluarga kaya raya itu. Sudah bisa di pastikan bahwa pundi pundinya sudah gendut berisikan sebagian harta kekayaan mereka.
" Ah Nak, maafkan Ibu ya. Maaf atas segala kesalahan Ibu dimasa lalu, Ibu benar-benar menyesal. Bisakah kita berkumpul seperti dulu lagi, Ibu janji akan menyanyangi mu membayar semua waktu yang terbuang selama ini "
Tari terkejut mendengar ucapan manis keluar dari bibir Ibunya, bagaimana bisa dengan semua yang sudah terjadi selama ini. Selama hidup bersama Ibunya, Ia tidak pernah mendengar ucapan lembut dari bibir wanita itu. Sempat terbesit di pikiran Tari bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari wanita yang selama ini mengaku sebagai Ibunya itu.
" Maaf Bu, tapi aku tidak bisa kembali bersama Ibu. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku disini "
Sarah ingin marah mendengar jawaban
Tari, namun Ia tidak mungkin melakukan nya sekarang. Susah payah Ia meredam amarahnya yang membuncah di hatinya.
" Ah, tidak apa apa. Bagaimana kalau Ibu saja yang tinggal disini "
Sarah masih terus mencari cara agar bisa bersama Tari.
" Maaf Bu, tapi aku disini juga numpang. Ini adalah rumah Mama Maudy, aku tidak bisa mengajak Ibu tanpa ijin terlebih dulu "
Lagi lagi Sarah tercengang mendengar ucapan Tari.
'' Hilih hanya numpang doang, aku kira dia sudah kaya dan aku bisa menumpang hidup dengannya " Cibir Sarah dalam hati.
...----------------...
Tari menata semua barang belanjaan nya di dalam kulkas.
__ADS_1
" Gimana ngobrolnya sama Ibu....
" Sarah Ma " Potong Tari
" Iya Sarah, apakah dia tadi menyakiti atau berbicara kasar padamu Nak "
Tari menggeleng pelan sambil tangannya terus menata belanjaan nya pada tempatnya.
" Nggak Ma " Mungkin lebih baik begini batin Tari. Ia tidak mau memperkeruh suasana.
Tari bergegas pulang, sambil melangkah cepat Ia merogoh tasnya mengambil kunci mobil miliknya. Ketika mengangkat wajah Ia terkejut melihat seorang yang sangat di kenalinya.
" Hai sayang "
Begitulah ciri khas Dokter Ilmi ketika bertemu Tari, sebaliknya Tari Ia tidak merasa canggung lagi karena sudah terbiasa mendengar panggilan itu.
" Hai Mas " Tari sangat senang melihat kedatangan Dokter Ilmi.
Ia nampak gagah dengan setelan jas warna putih, tubuh yang tinggi dan juga atletis semakin nenunjang penampilan nya.
" Sudah mau pulang sayang " Tanya Dokter Ilmi dan Tari mengangguk mengiyakan.
" Wah kalau begitu Mas juga langsung pulang saja, untuk apa Mas disini "
" Apa Mas ada keperluan lain disini, tidak mungkin kan kalau Mas mau berobat "
Mendengar ucapan Tari, Ilmi tertawa kecil seraya menggeleng pelan. Mereka melangkah beriringan, sampai di parkiran Tari bingung karena tidak mendapati mobil sahabatnya itu.
" Mas, mobil mu mana " Tanya Tari karena tak juga menemukan keberadaan mobil Ilmi.
Ilmi kembali cengengesan
" Aku nggak bawa mobil Tar "
Kening Tari berkerut mendengar jawaban Ilmi.
" Nggak bawa mobil, jadi Mas kesini naik apa "
" Aku naik ojek kemari sayang, mobilku masuk bengkel "
Tari ber Oh ria
__ADS_1
" Baiklah bareng aku saja Mas, bentar " Tari merogoh tas kecilnya.
" Ini, Mas saja yang bawa "
Ilmi menyambut kunci mobil dan berlari lebih dulu membuka pintu untuk Tari, Tari berterima kasih dan duduk sempurna di kursi depan.
Sore hari
Axell menjadi uring uringan, Ia tidak tahu mengapa.
" Bukankah dia Dokter Ilmi, sejak kapan mereka berdua dekat. Ada apa dengan ku, kenapa aku sangat ingin marah melihat Tari jalan berdua dengan Pria lain "
Axell nampak frustasi, Ia mendusel dusel rambutnya dengan jari tangan nya sendiri mengurangi rasa tidak nyaman di hatinya.
" Tidak mungkin kalau aku..... ah apa yang sebenarnya terjadi " Gumam El.
El berlari kecil menuju parkiran sesaat setelah ada notif pesan kedalam ponsel nya.
Sementara di tempat lain, Tari dan juga Dokter Ilmi mampir ke sebuah cafe untuk mengobrol. Sudah sangat lama mereka tidak mengobrol bersama
" Bagaimana kabar mu sekarang sayang dan juga jagoan kecil ku " Tanya Ilmi
Tari meneguk kopi kesukaan nya
" Seperti yang Mas lihat, aku baik baik saja, begitu juga dengan Arka "
Mereka mengobrol banyak hal hingga entah siapa yang memulai lebih dulu hingga mereka tiba pada pembahasan yang serius.
" Maaf Mas, untuk sekarang aku belum bisa "
Ilmi menghela nafas berat, sudah Ia duga kalau jawaban ini yang dia dapatkan.
" Kenapa, apa kamu masih mencintai Ayah dari Arka "
Tari menggeleng pelan, saat ini memang Ia tidak memikirkan tentang perasaan nya. Yang Ia pikirkan adalah bagaimana cara Ia membahagiakan Putranya itu, memastikan masa depannya yang cerah. Belum lagi masalah yang di hadapinya belakangan ini masih belum ada titik terang nya.
" Apa sudah ada kabar mengenai Pria itu " Tanya Ilmi pelan.
Tari diam, Ia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin juga Ia mengatakan semuanya pada sahabatnya itu.
" Mas, kenapa Mas tidak menikah saja. Usia Mas sudah cukup untuk menikah. Carilah wanita lain yang lebih mencintai mu dan aku yakin kalau Mas serius Mas akan mendapatkan yang lebih dari aku "
__ADS_1
Tari selalu menolak sejak dulu, Ia tidak ingin memberi harapan, namun Ilmi tetap pada pendirian nya menunggu Tari siap menerimanya.
El mengendap endap seperti maling yang takut ketahuan, entah mengapa saat ini Ia tidak bisa mengendalikan perasaan nya. Tiba-tiba Ia ingin membuntuti seseorang.