
Semua terkejut ketika mendengar apa yang baru saja El ucapkan, Aini menangis menyembunyikan wajahnya di dada Putrinya, begitu juga Bagus yang menunduk seraya mengatur emosinya yang sempat naik.
" Apa maksud mu, Anak angkat, siapa yang anak angkat. " Tanya Kevin masih dengan nada tinggi.
Aini melangkah dan memeluk Kevin yang sudah Ia anggap Putranya sendiri, kasih sayangnya kepada Kevin sama seperti kasih sayangnya pada kedua buah hatinya.
" Sudah Nak, jangan di tanggapi ucapan Mas El, Dia sedang marah, makanya mengatakan hal yang tidak tidak. "
Kevin yang masih dengan amarahnya, di tambah juga Ia penasaran dengan apa yang di katakan El barusan, membuatnya semakin bertambah berlaku seenak jidatnya.
" Sudahlah nggak usah sok baik, cepat katakan siapa yng anak angkat itu." Kevin menepis tangan Aini, tangan yang selama ini merawatnya dengan penuh cinta.
Suasana semakin panas, darah El seakan mendidih melihat ketidak sopanan Kevin pada wanita yang sangat Ia hormati itu.
" Kevin, jaga sopan santun mu pada Mama, atau aku akan benar-benar membunuhmu saat ini juga. "
El sudah maju dan ingin menghadiahi Pria tak tau malu itu dengan bogem mentah namun Aini buru buru memeluk tubuh anak sulungnya itu.
" Sayang, jangan. Mama mohon, jangan.... !. " Jerit histeris Aini.
Aluna juga menghambur memeluk tubuh Ibu dan juga Kakak laki laki nya yang nampak bergetar menahan amarah yang hampir meledak.
Plak... ! Terdengar tamparan yang ternyata di layangkan oleh Bagus.
Akhirnya kesabaran Pria itu sudah sampai batas limit.
" Kau ingin tau kan siapa yang anak angkat itu, baiklah. Mungkin memang sudah waktunya kau tau dan Aku akan dengan senang hati memberitahu mu. "
__ADS_1
Bagus membuka lemari dan mengeluarkan berkas yang berisikan beberapa foto foto jadul di masa lalu yang mungkin bisa membuka mata anak durhakim itu.
" Lihat dengan mata kepalamu sendiri, siapa anak angkat tidak tau diri itu. Anak yang di dapatkan dari tong sampah dan di besarkan penuh cinta dari keluarga ini. Mendapatkan kasih sayang bak seorang tuan muda, tapi setelah besar anak itu malah membuat kekacauan. Apa begini balasan mu ha..... ! Tatap matanya, lihat wanita yang penuh air mata itu, dia yang membesarkan mu dengan penuh cinta meskipun tidak tau dari mana asal usulmu, bisa saja dari wanita wanita malam yang hamil tanpa suami dan di buang begitu saja. "
Aini menangis histeris, bukan ini yang Ia inginkan. Sungguh Ia menyayangi Putranya itu bahkan dengan semua yang sudah Ia lakukan padanya, tidak peduli dari mana asal usul Putranya itu.
" Sudah Mas, sudah..... jangan di teruskan. " Aini semakin menangis di pelukan Aluna Putrinya.
" Biarkan saja Ma, biar dia tau siapa dia sebenarnya. Dia selalu menganggap kita tidak pernah berlaku adil padanya, tanpa Ia tahu semua sudah di perlakukan sama bahkan saham pun di bagi sama. Seharusnya kamu pikir sendiri, bukannya bersyukur malah merasa seolah olah manusia paling terzolimi. "
Kevin menatap semua foto foto dirinya yang berada di atas meja, Ia juga mendengarkan semua yang di katakan El dan juga Pak Bagus.
" Ini tidak mungkin, katakan bahwa ini tidak benar. Ma, katakan kalau ini tidak benar, aku adalah anak Mama dan juga Papa, iyakan Ma. "
Kevin meraih kedua tangan Aini dan meminta jawaban atas semua kenyataan yang baru Ia dengar dan ketahui hari ini.
Aini mengangguk namun kemudian menggeleng, Ia bingung harus menjawab apa.
Kevin melepas tangannya dan mundur beberapa langkah, dari ucapan Aini Ia sudah tau jawabannya bahwa memang dirinya bukanlah bagian dari keluarga ini. Keluarga yang Ia anggap tidak adil padanya, ternyata begitu sangat menyayanginya.
" Nak, kamu mau kemana sayang. Jangan pergi Nak, tetap disini. " Pinta Aini yang berlari mengejar kepergian Kevin.
Aluna mengejar dan memeluk Ibunya erat, sedangkan El segera mengeluarkan ponselnya menghubungi orang kepercayaan nya.
" Jangan halangi dia, tapi ikuti dia dalam radius yang aman. Jangan timbulkan kecurigaan, jalankan apa yang sudah kita rencanakan. "
El menutup ponselnya dan membawa Ayah serta Ibunya kembali kedalam ruang kerja tempat sebelumnya terjadi prahara hebat.
__ADS_1
" Ada apa Nak. " Tanya Bagus melihat heran pada Putranya.
El mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya dan menyambungkan nya pada laptop milik Ayahnya. Ia meminta Ayahnya membuka sandi dan mencari apa yang menjadi alasan Ia mengajak mereka semua kedalam.
" Sebelum kemari ada tragedi di ruangan Han Pa. "
Aini menatap Putranya, nampak di wajah Kecemasan di wajah Bagus, Aini dan juga Aluna.
" Tra, tragedi apa Mas. " Giliran Aluna yang bertanya.
" Ada seseorang yang menginginkan nyawa Han Pa, Ma. Ia menyewa seorang suster untuk menyuntik mati sekertaris Han namun gerak geraknya langsung terbaca oleh anak buah El yang bertugas disana dan mereka dengan sigap mengamankan suster itu. Bukan hanya Han Pa, tapi mereka juga menginginkan Arka. "
Tubuh Aini bergetar apalagi mendengar cucu kesayangannya dalam bahaya.
" Pa, lakukan sesuatu. Jangan biarkan seorang pun mencelakai cucu kita Pa. " Aini memegang tangan Bagus memohon pada sang suami.
" Tenang Ma, kita pasti akan melakukan yang terbaik dan menemukan siapa dalang di balik semua ini. "
Aini mengangguk, Bagus meminta Aluna untuk menenangkan Ibunya. Luna mengangguk patuh dan membawa Ibunya duduk di sofa, memberikannya segelas air agar Ibunya bisa sedikit tenang.
" Lalu apa maksudnya dengan ini Nak, apa ada petunjuk selanjutnya tentang kejadian ini. "
El mengangguk dan segera menggeser rekaman rekaman yang ada di layar laptop.
" Pa, El mencurigai orang ini. Coba Papa perhatikan, dia selalu berada di dekat Kevin seolah olah sedang mengawasi setiap gerak gerik Kevin. Lihat ini dan ini, apa Papa mengenalnya. "
Sementara Bagus menzoom gambar yang El maksud, ponsel El berdering, dengan cepat El menerima panggilan masuk itu.
__ADS_1
" Apa, kok bisa. Cepat berpencar dan temukan Dia. " Titah El pada sambungan telpon.
El mengusap wajahnya kasar, semua di luar kendalinya. Andai Han ada disisinya, hal ini mungkin tidak akan serumit ini. Aini Luna dan juga Bagus pun ikut khawatir melihat El yang nampak begitu frustasi.