
Vania setengah berlari masuk ke rumahnya, di arahkan pandangannya ke kanan dan ke kiri takut ada yang sedang memata matainya.
Ia menutup pintu rapat rapat dan mengendap endap menuju jendela.
" Uh, aman. Semoga Dia nggak ngikutin aku sampai kemari "
" Mama ! kok mama mengendap endap, ada apa Ma. "
Vania terkejut ketika mendengar sebuah suara.
" Astagfirullahalazim, kamu Nak. "
Tiara yang mendengar bunyi keras pintu di tutup langsung keluar bersama Bi Yuni, mereka heran melihat Vania yang melangkah pelan pelan ke arah jendela dan seperti sedang mengintip seseorang.
" Iya Ma, ini Tiara. Memangnya Mama kira siapa. Mama kok seperti orang ketakutan begitu "
Vania mencoba menguasai dirinya agar tidak terlihat kalau Ia sedang ketakutan.
" Takut ! siapa bilang Mama takut. Sudahlah, masuk sana. Mama capek mau istrahat "
Ia melenggang pergi meninggalkan Tiara yang kebingungan, meskipun masih kecil Ia bisa tahu kalau Ibunya sedang tidak dalam keadaan baik.
" Sudahlah Non, ayo kita lanjutkan makannya. Tadi kan kata Mama nya tidak ada apa apa "
Tiara mengangguk dan kembali ke meja makan melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda.
Hidup Vania menjadi semakin tidak tenang, apalagi El yang di hubungi tak pernah memberikan jawaban. Ia semakin tidak suka ketika melihat El ternyata lebih sering berada di rumah Tarik ketimbang ke rumah mereka yang baru di belikan El untuk Tiara.
" Mama, kok Papa nggak pernah main lagi kesini ya. Apa Papa sibuk hingga tidak punya waktu bersama kita "
Vania sebenarnya gusar tapi mendengar pertanyaan Tiara membuatnya memiliki ide cemerlang.
" Papa mu itu bukan nya sibuk Nak tapi ~ Ah sudahlah, Mama bingung bagaimana menjelaskannya padamu. Sebaiknya kamu ganti baju dan ikut Mama, kita akan melihat kemana Papa mu selama ini pergi sehingga tidak peduli padamu bahkan melupakan mu "
Walau ragu namun Tiara akhirnya menuruti apa yang di perintahkan Ibunya itu. Ia melangkah ke kamar dan berganti pakaian yang lebih bagus.
" Ayo dong, ish lelet banget jadi anak. Mau ketemu sama Papa nya atau nggak sih "
Tiara segera mempercepat langkahnya tidak ingin membuat Ibunya bertambah marah padanya.
" Buruan naik "
Kedua Ibu dan anak itu mengendarai motor pemberian dari El beberapa hari yang lalu.
Setelah berkendara hampir dua puluh menit akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
" Untuk apa kita kemari Ma, apa Papa ada disini " Tanya Tiara.
__ADS_1
Vania memandang sekeliling mencari sosok orang yang menjadi tujuan mereka ke tempat itu.
Senyumnya terbit di sudut bibirnya.
" Sini, coba kamu lihat disana. Itu siapa "
Vania menunjuk satu tempat dan Tiara mengikuti arah yang di sebutkan Ibunya.
" Iya Ma, itu Papa. Tiara mau kesana " Gadis kecil berusia delapan tahun itu begitu bahagia melihat kehadiran orang yang sudah Ia rindukan beberapa hari belakangan ini.
" Tiara tunggu, kamu tidak bisa kesana sekarang "
Tiara menghentikan langkahnya, Ia bingung apa maksud dari ucapan Ibunya itu.
" Kenapa Ma, Tiara mau ketemu Papa "
" Apa kamu pikir Papamu itu akan peduli padamu "
Tiara menatap Ibunya, otak kecilnya masih tidak mampu memahami maksud dari wanita yang sudah melahirkan nya itu.
" Maksud Mama apa, tentu saja Papa akan peduli pada Tiara. Tiara kan anaknya Papa "
Vania tersenyum kecil mendengar perkataan Putrinya itu.
" Papamu tidak akan peduli padamu, coba lihat siapa yang ada bersama Papamu sekarang ini. "
" Itukan Arka Ma " Ia menatap Arka dan El kemudian beralih pada Vania.
" Ya, dia lah yang selama ini sudah membuat Papamu tidak peduli padamu. Dialah yang selama ini menghabiskan waktu bersama Papa mu sehingga Papamu tidak pernah mengunjungi kamu lagi di rumah. Dia yang sudah merebut Papa mu dari kita "
Tiara memperhatikan interaksi antara Arka dan juga El, keduanya begitu akrab seperti Ayah dan anak.
" Kenapa Nak, apa kamu masih ingin bertemu dengan Papamu. Ayolah kalau kamu ingin tahu bagaimana reaksi Papa mu, kalau kamu ingin tahu apa Papa mu peduli padamu atau peduli pada anak itu maka silahkan kamu uji saja "
Tiara mengangguk dan melangkah pelan mendekat ke arah tiga orang yang sedang bermain di salah satu wahana.
" Papa " Panggil Tiara pelan.
El terkejut melihat kedatangan Tiara, apalagi Tiara memanggilnya dengan sebutan Papa. El menoleh ke kiri dan kanan mencari seseorang.
" Kamu disini sama siapa Nak " Tanya El
Tiara menoleh ketempat lain dan melihat Ibunya melambaikan tangannya.
" Ah Tiara kemari sama Mama Pa "
Dari jauh nampak Vania menepuk keningnya karena semuanya tidak sesuai dengan yang Ia rencanakan.
__ADS_1
" Ah terus sekarang Mamanya mana " Tanya El lagi. Ia mencari keberadaan Vania, melihat itu Vania bergegas menghampiri mereka.
" Aku disini, ah maaf El. Tadi Tiara ingin main ke taman jadi aku mengajaknya kemari. Sebenarnya sih Ia ingin pergi dengan mu tapi kamu malah tidak pernah ad untuk nya, malah asyik jalan sama ~~
Ia menatap sinis pada Arka dan juga Tari yang juga duduk tidak jauh dari sana.
" Papa, kok Papa nggak pernah lagi main ke tempat Tiara sih. Tiara kesepian kalau nggak ada Papa "
El jongkok di hadapan Tiara
" Nak, maafkan Papa. Papa bukannya tidak ingin main ke tempat Tiara tapi belakangan ini Papa sangat sibuk, banyak pekerjaan yang harus Papa selesaikan tepat waktu "
Tiara menoleh ke wajah sang Ibu.
" Sibuk katamu El, apa ini yang kamu katakan sibuk. Pergi bersama orang yang tidak jelas asal usulnya, kamu mengabaikan Putri mu hanya demi orang-orang ini, benarkan ~~ "
El menatap Vania dengan tatapan tidak suka, Ia tidak setuju Vania berkata seperti itu di hadapan Putra Putrinya.
" Cukup Vania, lebih baik sekarang kalian pulang, jangan buat masalah di tempat umum "
Vania tersenyum penuh kemenangan.
" Kamu sudah lihat kan Nak, Mama sudah mengatakan ke kamu ini sebelumnya tapi kamu tidak percaya. Ayolah Nak, sebaiknya kita pergi dari sini " Ajak Vania.
Ia begitu bahagia, ternyata rencananya membuat kesalah fahaman anatara Tiara dan Arka benar-benar berhasil.
" Papa, apa Papa bisa ikut dengan kami. Tiara hanya ingin bermain bersama Papa "
El menjadi serba salah mendengar ajakan Tiara.
" Tapi Nak, Papa tidak bisa. Papa harus mengantarkan Arka dan juga Mama Tari kerumahnya. Tiara pulang sama Mama saja ya, nanti Papa nyusul "
Nampak kekecewaan di raut wajah Tiara, Ia menatap Arka yang baginya sangat beruntung.
" Ayo Nak, tunggu apa lagi " Vania membujuk Tiara agar pulang bersamanya.
" El, kamu bawa saja mereka. Jangan pikirkan kami, kami bisa naik taxi kok "
Tari yang merasa tidak enak hati memilih meminta El untuk mengantarkan Vania dan juga Putri mereka namun El menolaknya.
" Tidak bisa Tari, aku tadi yang membawa kalian kemari masa kamu pulang berdua. Sudahlah Nak, Tiara pulang sama Mama dulu ya. Papa janji habis mengantarkan Arka pulang, Papa akan langsung ke rumah Tiara, oke "
Gadis kecil itu mengangguk meskipun raut wajahnya masih nampak kekecewaan yang mendalam.
πΉπΉπΉ
__ADS_1
Akhirnya bisa up lagi, yuhuuu Mom Super. Yuk goyangkan jempol, beri komentar sebanyak-banyaknya ya, makasih π