
Arka turun dari mobil namun tidak langsung masuk kedalam rumah, hal itu membuat El merasa heran.
" Pa. "
" Iya Nak. "
" Apa Papa mencintai orang lain. "
El terkejut mendengar pertanyaan Arka, Ia bingung harus menjawab apa.
" Kenapa diam, berati benar. Papa jahat, Papa tidak sayang padaku dan juga Mama. Papa memang sengaja menyakiti Mama dan tidak ingin bersama kami, benar begitu kan. "
Arka langsung berlari masuk, hatinya terasa sakit. Ia mengusap air mata yang jatuh di pipinya. El berusaha mengejarnya kedalam rumah.
" Arka, tunggu Papa Nak. Papa bisa jelaskan semuanya Nak. "
Arka terus berlari dan membuka pintu dengan keras, Ia terus berlari ke kamarnya.
" Sayang, sudah pulang Nak. "
Tari menyapa Arka namun Ia terkejut melihat sang Putra berlari sambil menangis, Ia juga melihat El yang juga berlari mengejar Putranya.
" El, tunggu. "
El menghentikan langkahnya, Ia mengusap wajahnya kasar.
" Ada apa Mas, kenapa Arka pulang dalam keadaan seperti ini, bukannya tadi baik- baik saja. "
Mendapatkan pertanyaan dari Tari semakin membuat El jadi gusar, Ia mengusap wajahnya berulang kali.
" El....., ada apa. " Bentak Tari dengan lantang.
El yang terkejut mendengar suara Tari langsung bereaksi.
" Arka sedang salah faham, dia mengira aku mencintai orang lain Ri. "
" Salah faham, apa maksudmu. " Kening Tari berkerut.
__ADS_1
El mengangguk, Ia mulai menceritakan semuanya pada Tari tentang apa yang terjadi sebelumnya.
" Itulah yang sebenarnya terjadi, Arka mengira kalau aku mencintai wanita lain dan tidak mencintai kalian berdua sehingga membuat kita semua tidak bisa bersama. "
Tari meninggalkan El seorang diri, Ia berlari ke lantai dua dimana kamar Arka berada.
" Sayang, ini Mama. Boleh Mama masuk Nak. "
Tari mengantuk pintu pelan dan dengan suara lembut Ia memanggil sang Putra.
" Arka baik- baik saja Ma, Arka hanya ingin sendiri. Tolong jangan ganggu Arka dulu, Arka mau mengerjakan tugas sekolah. "
Tari berdiri mematung di depan pintu, Ia tidak bisa berbuat apa-apa. El berdiri tepat di belakang Tari, Ia juga sama khawatirnya dengan Tari.
" Bagaimana Ri. " Tanya El
Tari menggeleng pelan, El menghela nafas berat.
" Sebaiknya sekarang kamu pulang dulu El, biar nanti aku yang ajak Arka bicara. Aku yakin dia akan mengerti. "
El menarik tangan Tari menuruni anak tangga, Ia juga menarik tangan Tari kedalam ruang kerjanya.
" Ri, aku tau kalau aku mungkin tidak pantas untuk mu. Mungkin dosaku terlalu besar padamu, mungkin aku seorang laki-laki yang bejat dan tidak pantas mendapatkan kata maaf darimu. Tapi Ri, aku benar-benar serius. Aku bersumpah bahwa apa yang aku katakan benar dan aku bisa mempertanggung jawabkan ucapanku. Aku....aku ingin bersamamu, bersama anak kita. Aku ingin memulai semua dari awal, aku ingin membangun keluarga kecil ini bersamamu. Mungkin aku bukan sosok sempurna seperti yang kamu inginkan, tapi aku mohon Ri. Berilah aku kesempatan memulai semuanya, ini bukan karena soal rasa bersalah ku dulu padamu Ri, namun karena sesuatu. Sesuatu telah terjadi Ri dan ini sungguh sangat menyiksaku. "
Tari masih berdiri mematung sedangkan El, Ia susah payah menahan air matanya agar tidak jatuh.
Suaranya sudah bergetar hebat, Ia benar-benar merasakan bagaimana mencintai seseorang namun bertepuk sebelah tangan.
" Ya Allah, ternyata sesakit ini. " Batin El.
" Ri..... mungkin yang aku rasakan sekarang adalah apa yang kamu rasakan dulu. Mungkin juga ini belum seberapa di bandingkan yang kamu rasakan, Ri..... andai boleh aku meminta padamu, berikanlah kepercayaan mu padaku bahwa hari ini aku benar-benar tidak baik- baik saja. Sesuatu telah terjadi dan aku tidak bisa menyangkalnya, Ri....... Aku, aku mencintaimu..... sangat mencintaimu. "
Tubuh Tari bergetar hebat ketika mendengar pengakuan El, Ia tidak menyangka akan mendengar ini semua hari ini.
El perlahan melangkah mendekat dan memeluk tubuh Tari meskipun dengan penuh keraguan.
" Aku mencintaimu, Kayla Lestari. Sangat mencintaimu. " Ucap El setengah berbisik.
__ADS_1
Ia semakin mengeratkan pelukannya ketika merasa tidak ada penolakan dari Tari. Berbeda dengan Tari, Ia tidak menunjukkan reaksi apapun, sungguh Ia sangat shock mendengar penuturan El.
***
Sehari berlalu Arka seolah menghindarinya, bukan hanya pada Tari namun bocah tampan itu menghindari bertemu dengan kedua orang tuanya.
Sore ini El kembali ke kediaman Tari namun masih sama, Arka tidak ingin bertemu dengan Papanya itu. Akhirnya dengan rasa kecewa El kembali ke rumahnya, selama beberapa hari ini Ia tidak pokus pada semua pekerjaan nya.
Di kantor bahkan di rumah sakit, El nampak murung, tidak seceria biasanya. Tari tidak putus asah, Ia mencari cara agar bisa berbicara dengan sang Putra, bahkan Tari sampai minta bantuan Tiara namun El tetap mengurung diri.
Tari bertanya pada Tiara mengenai apa yang terjadi pada El beberapa hari yang lalu, Tiara pun menceritakan semuanya pada Tari. Tidak lupa Ia meminta maaf pada Tari karena sudah ikut campur soal urusan orang dewasa.
" Maafkan Tiara Ma, tapi Arka memang ingin Mama Tari dan Papa El bersama. Arka ingin memiliki orang tua yang lengkap seperti teman- teman yang lain. "
Tiara menunduk, tiba-tiba wajahnya berubah murung. Ia pun menginginkan hal yang sama, namun itu hal yang tidak mungkin, karena kata Mamanya kalau itu hal yang tidak mungkin. Itu semua karena sang Papa mencintai wanita lain, Tiara justru merasa iri pada Arka karena Ia yakin kalau kedua orang tuanya masih saling mencintai.
" Ada apa Ra, kenapa wajahnya tiba-tiba murung Nak. "
Tiara menggeleng namun air matanya tidak bisa Ia tahan, Tari yang melihat itu langsung menarik tubuh Tiara kedalam pelukannya.
" Ya Allah, apa kami terlalu egois sehingga tidak bisa melihat kesedihan anak- anak. Jelas- jelas mereka ingin punya orang tua yang utuh. Apa yang sudah aku lakukan, aku sudah melukai anak- anakku. Maafkan Mama sayang. "
Tari mengelus rambut dan juga pundak Tiara, Ia dapat merasakan apa yang dirasakan Arka dan juga Tiara. Dua anak yang terpaksa hidup sulit karena perbuatan kedua orang tua mereka.
" Arka..... kamu di dalam kan, buruan buka. Tolong bantu aku, Mama Tari pingsan di bawah. " Teriak Tiara di depan pintu kamar Arka.
Arka yang sedang berdiri di balkon dan awalnya tidak peduli dengan teriakan akhirnya langsung berlari keluar setelah mendengar apa yang di katakan Tiara.
" Arka..... keluar, tolong Mama Tari. Kamu akan menyesal kalau ti....
Pintu kamar terbuka, Arka langsung berlari menuruni anak tangga, Ia bahkan melewati Tiara karena kekhawatirannya.
Tiara yang melihat itu hanya bisa melongo, Ia juga geleng-geleng kepala melihat reaksi Arka.
" Dasar aneh, pura-pura cuek padahal peduli. Baru dengar Mama Tari pingsan sudah kaya orang kesurupan. "
Tiara ikut berlari kebawah menyusul Arka yang sudah lebih dulu turun. Ia tersenyum gemes melihat tingkah Arka.
__ADS_1