
Kediaman Maudy kembali ramai dengan kedatangan Pak Bagus dan juga Aini, suasana semakin ramai karena kehadiran Arka yang menjadi pusat perhatian semua orang.
" Bagaimana El, apa kamu sudah menemukan siapa dalang di balik semua kekacauan ini. " El menoleh ke asal suara.
Nampak sang Ayah yang masih gagah bahkan di usianya yang sekarang ini, melangkah ke arahnya.
" El belum bisa memastikan nya secara gamblang Pa, tapi El berharap kalau kecurigaan El ini salah. "
Bagus melangkah dan duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangan keduanya berada saat ini.
" Apa maksudmu Nak, apa itu artinya kamu sudah menemukan pelakunya atau kamu sedang mencurigai seseorang. "Tebak Bagus.
El mengangguk pelan membenarkan apa yang katakan Ayahnya.
" Siapa Dia Nak. " Tanya Bagus dengan raut wajah serius.
El memberikan beberapa bukti yang sudah mereka kumpulkan beberapa minggu ini, dan alangkah terkejutnya Bagus ketika melihat siapa orang yang di maksud Putranya.
" Astaghfirullahalazim.....! Nak, Vbenarkah ini, tapi apa motif yang melandasi Ia melakukan itu. Apa kesalahan kita yang membuatnya sampai melakukan semua hal keji seperti ini. "
Bagus tidak menyangka dengan semua kenyataan yang baru di ketahui nya saat ini, kalau memang kecurigaan Putranya benar adanya maka Bagus akan sangat kecewa karena perbuatan baiknya selama ini tidak ada gunanya.
" Ini baru sekedar kecurigaan Pa, belum sepenuhnya benar. " Sanggah El yang memang masih berharap kalau kecurigaan nya tidak benar.
" Baiklah Nak, semoga dugaan mu todak benar. Tapi El, Papa mohon kamu segera mencari kebenarannya, sebelum acara akbar itu di mulai. "
El mengangguk pelan, sebenarnya bukan karena jabatan tinggi yang Ia cari namun Pria itu hanya tidak ingin ada yang berlaku semena mena. Menghalalkan segala cara hanya untuk meraih sesuatu yang bukan seharusnya menjadi miliknya.
Setelah selesai berdiskusi akhirnya Bagus mengajak Putranya untuk keluar dan bergabung dengan yang lain.
" Mas Bagus, El..... kalian darimana saja sih, di cariin dari tadi ternyata datang dari arah belakang, ada apa Mas. " Tanya Aini serius.
Bagus dan juga El kompak tersenyum agar wanita yang mereka sayangi tidak khawatir.
__ADS_1
" Ah Mama, nggak apa apa. Kita berdua hanya baru selesai bahas masa depan El, iyakan Nak. " Bagus memberi kode pada Putranya agar sang Putra mendukung alasannya.
El mengangguk mengiyakan " Benar Ma, El dan Papa lagi bahas sesuatu buat masa depan El. " Jawab El kemudian.
Setelah lama bercanda gurau akhirnya Arka pamit kembali kekamar nya, tersisa Aini dan Putra sulungnya yang masih berada di ruang tengah sementara yang lain kembali dengan pekerjaan nya masing-masing.
" El, apa Mama bisa bicara hal yang serius padamu, apa boleh. "
El menatap wanita yang sudah melahirkan nya itu dengan tatapan sedikit heran.
" Boleh dong Ma, sejak kapan Mama harus minta ijin kalau mau berbicara dengan Putra Mama ini. "
Meskipun sebenarnya ada rasa was was di hati El dengan apa yang akan di bicarakan Ibunya.
" Mama tidak mau cari menantu Nak. "
Kening El berkerut mendengar perkataan sang Ibu, bukannya selama ini beliau ingin sekali agar segera mengakhiri masa lanjangnya.
" Memang benar Nak, bahkan sampai saat ini pun Mama masih ingin agar kamu segera menikah. Tapi bukan mencari menantu karena Mama sudah punya pilihan untuk kamu Nak. "
El sontak terkejut dengan ucapan Aini
" Mama, sejak kapan Mama ganti profesi dengan menjodoh jodohkan El. Bukankah selama ini soal pasangan hidup El bisa menentukan nya sendiri. "
Wajah Aini berubah datar, kali ini Ia tidak rela kalau anaknya masih mempertahankan masa lalunya yang entah sampai kapan ada kepastian nya.
" Mama tidak sedang menjodohkan kamu Nak, tapi kamulah yang sudah menentukan jodohmu sendiri. " Aini mencari pembenaran atas keinginan nya saat ini.
" Maksud Mama apa, El belum menemukan wanita yang cocok....
__ADS_1
" Jangan bodohi Mama El. " Potong Aini cepat.
El yang mendengar itu sedikit terkejut, pasalnya tidak pernah Ibunya itu memotong ucapannya seperti ini. Biasanya sang Ibu akan memberikan El waktu untuk berkeluh kesah, mengatakan semua yang ingin Ia katakan dan Ibunya akan menjadi pendengar setia sebelum akhirnya Ia memberi tanggapan atas cerita Putranya itu.
" Maksud Mama apa, sejak kapan El membodohi Mama. "
" Kamu pikir Mama tidak tahu Nak, kalau kamu sudah membohongi Mama selama bertahun-tahun. Pokoknya sekarang Mama tidak mau tahu, Mama ingin kamu menikahinya secepatnya. "
Aini memalingkan wajahnya, kali ini Ia harus mendapatkan apa yang Ia mau meskipun harus sedikit drama.
" Menikah Ma, menikah dengan siapa. "
El benar-benar di buat bingung dengan keinginan Ibunya yang tiba-tiba itu, pasalnya sekarang Ia belum punya calon apapun yang bisa di jadikan pasangan hidup, karena sejauh yang El tahu kalau sang Ibu tercinta sebenarnya tidak menyukai hubungannya dengan Vania selama ini.
" Apa Mama sudah merestui hubungan El dengan Vania. " Tanya El pelan.
Entah mengapa kali ini hatinya tidak sebahagia dulu ketika menyebut nama wanita yang sudah membersamai nya selama bertahun-tahun lamanya itu.
" Tidak...... ! Sampai kapan pun Mama tidak akan merestui hubungan kalian, bukankah dari dulu kamu tahu itu Nak. "
Memang benar bahwa selama ini Aini tidak menyukai Vania, Ia hanya terpaksa menyetujui hubungan percintaan anak sulungnya itu karena tidak ingin membuatnya tertekan, namun lambat laun akhirnya El akhirnya mengetahuinya kalau Ibunya tidak menyukai wanita yang dulu sangat di cintainya itu.
" Lalu kalau bukan Dia siapa Ma, siapa wanita yang akan Mama jodohkan dengan El. "
El sudah pasrah, setelah mengetahui sebuah fakta besar yang selama ini membuatnya nampak bodoh, kali ini Ia tidak akan menentang keinginan wanita yang begitu sangat di sayanginya itu.
" Dia wanita yang sangat baik, cantik, penyayang dan yang pasti Dia sangat pantas menjadi menantu keluarga besar Atamajaya. " Aini menjelaskan dengan senyum mengembang di bibirnya.
El menatap wajah bahagia Ibunya, Ia bertanya-tanya dalam hati siapa wanita itu yang sudah mampu membuat Nyonya besar Atmajaya begitu mengaguminya. Jelas terlihat kalau sang Ibu begitu menyayangi wanita itu.
" Baiklah Ma, El serahkan semuanya sama Mama. Tapi apakah El boleh meminta satu hal, sebelum perjodohan itu El ingin bertemu dengannya sekali saja. Me, meskipun apapun nanti penilaian El terhadapnya tetap tidak akan mengubah apapun karena El sudah berjanji akan mengikuti keinginan Mama kali ini. "
Senyum terbit di bibir wanita yang tahun ini genap berumur lima puluh tahun, Ia ingin tahun ini segera mendapatkan menantu yang akan menemani langkah Putranya menggantikan dirinya.
__ADS_1