Super MOM

Super MOM
Dewasa melebihi umurnya


__ADS_3

Tiara yang bingung sesekali menatap Yuni namun Yuni hanya tersenyum seolah mengatakan kalau semuanya baik- baik saja.


" Vania. " Sapa El yang tanpa sengaja berpapasan dengan Vania, Tiara dan Yuni.


Vania hanya mengangguk pelan dan tersenyum, berbeda dengan Tiara. Gadis kecil itu langsung menghambur kedalam pelukan El.


" Pa...... k Dokter "


Ingin Tiara berteriak memanggil Papa namun akhirnya Ia ingat apa yang di katakan oleh Ibunya kalau Dia tidak boleh memanggil Dokter El dengan sebutan Papa di tengah keramaian apalagi ini rumah sakit.


Axel tersenyum dan mencium kening Putri kecilnya.


" Tidak apa- apa sayang, hm.... anak cantiknya Papa mau kemana. Tidak baik loh ada di rumah sakit. "


" Aku mau ajak dia ketemu Kevin El. "


Vania yang menjawab karena melihat wajah bingung Putrinya. El melepas pelukannya dan meminta Yuni mengajak pergi Tiara melalui isyarat. Yuni yang mengerti langsung mengajak Tiara menjauh dari El dan Vania.


" Sayang, ikut Ibu yuk. "


Tiara menatap El dan Vania bergantian dan akhirnya mengikuti ajakan Yuni.


" Van, apa kamu yakin ingin mengatakan semuanya pada Tiara sekarang. Dia masih terlalu kecil dan akan sangat sulit baginya untuk menerima semuanya. "


Vania menatap wajah El, Pria yang Ia cintai selama ini.


" Aku yakin El, apa bedanya sekarang atau nanti. Toh Tiara memang harus tau yang sebenarnya, apa kamu akan terus menyembunyikan semuanya dan memberikan harapan yang besar. Tiara akan menganggap kalau..... Ah sudahlah El. "


Vania menyusul Tiara dan Yuni yang sudah masuk lebih dulu, meninggalkan El yang berdiri mematung seorang diri.


Vania, Tiara dan juga Yuni sudah berdiri di depan pintu tempat Kevin dirawat. Vania menghirup nafas sebanyak-banyaknya dan menghembuskan nya perlahan.


" Ayo sayang. " Ajak Vania pada Putrinya.


Vania membuka pintu dan masuk perlahan, begitu juga dengan Tiara. Nampak di depan mata seseorang berbaring di atas brangkat, dengan beberapa selang di tangannya yang tersambung dengan alat pendeteksi jantung.


" Nak, sini. " Panggil Vania.


Yuni mengangguk ketika melihat Tiara menatap kearahnya. Tiara melangkah pelan hingga sampai di samping brangkar.


" Dia siapa Ma. "


Tiara bertanya setelah lama menatap wajah seseorang yang berbaring di atas brangkar itu.


" Sayang, sebenarnya Dia......


Yuni tersenyum dan mengangguk memberi kekuatan pada Vania, karena wanita kelihatan sangat kesusahan mengatakan semua pada Putrinya.


" Dia, Dia adalah Papanya Tiara. "


Vania langsung menghela nafas berat ketika usai mengatakan yang sebenarnya, Tiara terkejut mendengar ucapan Vania. Ia menatap Vania meminta penjelasan dari semua yang baru Ibunya itu ucapkan.


" Iya Nak, Dia adalah Papamu yang sebenarnya. Maafkan Mama Nak, tapi Mama tidak ingin membohongimu lebih lama lagi. "


Tiara menggeleng pelan berulang kali, Ia masih sulit menerima semua kenyataan ini.


" Bagaimana bisa Ma, lalu Papa El siapa Ma. "

__ADS_1


Lagi-lagi Vania menghela nafas, Ia harus menjelaskan semuanya karena sudah terlanjur.


" Sayang, soal itu Mama tidak bisa menjelaskan nya sekarang. Kelak, jika kamu sudah dewasa kamu akan mengerti semuanya. Tapi yang jelas saat ini Mama katakan kalau Pria yang sedang terbaring di depan kita ini adalah Papamu yang sebenarnya. "


Sementara di luar El sedang menyaksikan interaksi Vania dan juga Tiara melalui jendela kaca, El khawatir terjadi sesuatu pada Putrinya.


Tiara melangkah lebih dekat dan berdiri tepat disamping brangkar, Ia menatap lekat wajah Pria yang terlihat sangat pucat.


Tanpa Vania duga ternyata Tiara meraih tangan Kevin dan mengelus nya pelan, tidak ada yang tau dalam hatinya. Namun bisa dilihat kalau air matanya mulai jatuh membasahi pipinya.


" Papa. " Ucap Tiara pelan.


Vania memejamkan mata, air matanya jatuh membasahi pipinya ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Putrinya.


" Papa, bangun. Lihat ini Tiara, anak Papa. "


Rasanya Vania ingin berteriak melupakan perasaan nya, ternyata yang Ia takutkan tidak terjadi. Nyatanya Tiara bisa menerima kenyataan kalau Kevin adalah Ayahnya yang sebenarnya.


" Nak. " Vania jongkok dan memeluk Tiara.


Tiara mengusap air mata di pipi Mamanya, Ia menggeleng melihat air mata seakan tidak berhenti mengalir dari mata Vania.


" Mama kenapa menangis. " Tanya Tiara


" Maafkan Mama, maaf karena Mama berbohong padamu selama ini. Kamu boleh kok marah sama Mama. "


Tiara kembali menggeleng, Ia mampu menahan tangisan nya agar tidak semakin membuat Ibunya menangis.


" Nggak Ma, ngapain Tiara harus marah sama Mama. Tiara yakin kalau Mama punya alasan kenapa Mama berbohong, Mama benar sekarang Tiara masih kecil. Nanti Tiara pasti tau kalau Tiara sudah besar, jadi Mama berhentilah menangis. "


Mendengar ucapan Tiara bukannya membuat Vania diam, Ia malah menangis sejadi-jadinya sembari mencium wajah Putrinya. Putri yang selama beberapa tahun ini sempat Ia sia- siakan, tapi lihatlah saat ini. Putrinya bahkan nampak dewasa daripada umurnya.


" Ma, kenapa Papa tidur disini. Kenapa nggak dirumah kita. "


" Sayang, Papa sebenarnya sedang sakit dan memang harus dirawat disini dulu sampai sembuh. "


Di luar Aini yang baru datang menatap heran pada El yang sejak tadi nampak mengintip di jendela.


" Nak, ngapain ngintip disini. Kenapa nggak masuk. "


El terkejut, Ia langsung memberi isyarat Ibunya untuk diam, dan menunjuk kedalam. Jadilah kedua Ibu dan anak itu bergantian mengintip.


" Vania sama Tiara, ngapain mereka kemari Nak. " Tanya Aini penasaran.


" Vania ingin mengatakan yang sebenarnya pada Tiara, siapa Kevin sebenarnya Ma. "


Aini hanya menanggapi nya dengan mulut membulat dan kembali mengintip.


" Papa, cepat bangun. Ini Tiara anak Papa, Papa harus bangun dan jelasin semua ke Tiara, kenapa Papa tidak pernah temui Tiara selama ini. Ayo bangun Pa, atau Tiara akan ngambek dan tidak akan mau bertemu Papa lagi. " Batin Tiara.


Ia mengecup Pipi Kevin, sementara Vania menahan kursi yang menjadi tempat Tiara berdiri, takut kursinya oleng dan membuat Tiara jatuh dan terluka.


Tiara menatap wajah Kevin yang masih setia memejamkan mata.


" Yuk Ma, kita pulang. "


Vania mengangguk dan membantu Tiara turun, namun tiba-tiba Ia di kejutkan oleh suara Yuni.

__ADS_1


" Van, lihat..... lihat, tangannya bergerak. " Seru Yuni.


Vania dan Tiara ikut melihat apa yang di katakan Yuni dan benar saja, ada pergerakan disana.


" Yun, cepat panggil Dokter. Cepat Yun. "


Karena panik otaknya jadi tidak berfungsi dengan benar, padahal mereka bisa memencet tombol darurat yang ada disana.


" Eh Nak, ada apa itu, kok Vania nampak panik begitu. "


Pintu terbuka dari dalam dan nampak Yuni yang keluar dengan terburu-buru.


" Yun, ada apa. " Tanya El dan juga Aini bersamaan.


" A, anu Pak. I, itu Kevin tangannya bergerak. " Jawab Yuni gagap karena panik.


El dan juga Aini segera masuk kedalam, melihat Aini dan El masuk, Vania menggendong Tiara dan berjalan mundur memberikan ruang untuk El.


El nampak memeriksa kondisi Kevin, samar- samar terdengar ucapan yang keluar dari bibir Kevin.


" Ma.....! "


Aini segera mendekat dan mencium wajah Kevin.


" Sayang, Mama disini. Buka matanya, lihatlah Mama ada disini. "


Kevin perlahan membuka matanya, Ia mendengar suara Ibunya ada disana.


" Ma. " Panggil Kevin lagi.


Kesadarannya mulai berangsur membaik, Ia bisa menatap dengan jelas wajah Ibunya yang nampak sedang menangis haru.


" Alhamdulillah Nak, kamu sudah siuman. Mama sangat khawatir karena kamu nggak bangun- bangun juga. "


Kevin mengarahkan pandangannya kesana kemari seakan mencari sesuatu, Aini di buat bingung melihat kondisi Kevin.


" Kenapa Nak, mana yang sakit. " Tanya Aini


" Ti, Tia... ra mana Ma. "


Aini yang tadinya bingung akhirnya bisa bernafas lega, Ia mencari keberadaan Tiara.


" Sayang, sini Nak. " Panggil Aini.


Tiara melangkah mendekat di ikuti oleh Vania di belakangnya, Aini membantu Tiara untuk naik di kursi.


Kevin menatap wajah Putrinya, air matanya menetes di pipinya.


" Jangan terlalu banyak bicara Mas, Mas baru juga siuman. "


Kevin menatap Putrinya yang juga menatap dirinya. Ia ingin memeluk namun tubuhnya sangat susah di gerakkan.


" Tidak apa apa Mas, kamu Istrahat saja dulu. Jangan khawatirkan soal Tiara, Dia sudah tau siapa kamu sebenarnya. "


Kembali air mata jatuh membasahi pipinya, Ia menatap Putri cantiknya, selama ini Ia hanya diam- diam melihatnya dari jauh.


Tidak ingin membuat Kevin menjadi lelah karena harus menjalani penyembuhan, Vania pamit pulang. Ia sudah cukup lega karena bisa mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


" Cepat sembuh Papa, Tiara nungguin Papa bangun, Papa harus jelaskan semua pada Tiara. " Bisik Tiara sebelum meninggalkan ruangan sang Ayah.


Kevin memejamkan mata sebagai jawaban atas permintaan Tiara, Ia menatap kepergian Putrinya. Rasanya Ia tidak ingin ditinggalkan lagi seorang diri.


__ADS_2