
Langkah kaki Tari mulai melambat karena melihat ada orang lain di rumahnya, begitu juga dengan tamu baru di rumah itu yang nampak sangat shock melihat keberadaan Tari.
" Eh ada tamu rupanya, El kok ada tamu tapi nggak di suruh duduk. "
Tari memanggil Bibi untuk membawakan minuman serta beberapa cemilan untuk Vania.
" Vani, silahkan duduk " Pinta El.
Vania mengangguk pelan dan berjalan ke arah sofa namun pandangan matanya masih tertuju pada kehadiran Tari, berbagai pertanyaan muncul di benaknya.
" El aku bawa Arka ke atas dulu ya. "
Ia menggandeng tangan Arka dan membawanya naik ke lantai dua.
" Mama, mereka itu siapa lagi. Anaknya Om El ya " Tanya Arka pada Ibunya.
Kening Tari berkerut mendengar pertanyaan Arka.
" Anak, maksudnya apa Nak " Tanya Tari
Ia bahkan menghentikan langkahnya karena terkejut dengan pertanyaan Putranya itu.
" Itu loh Ma, tadi anak perempuan yang bersama Ibu itu memanggil Om El dengan sebutan Papa "
Tari mengangguk angguk
" Oh gitu ya Nak, mungkin saja begitu "
Tari memilih menemani Arka yang tampaknya mood nya sedang tidak baik.
***
Seperti biasa sebelum tidur Tari selalu masuk ke ruang kerjanya menyiapkan semua berkas yang akan Ia bawa besok hari.
Tiba-tiba tubuhnya di dorong oleh seseorang dengan sangat kuat, Tari menoleh dan nampak Vania menutup pintu dengan cepat.
Lagi lagi Vani mendorong tubuh Tari membuat Ibu satu anak itu bingung dengan perlakuan kasar yang di terimanya.
" Untuk apa kamu ada disini ha~ di rumah Tante dari kekasih ku, kamu dengar KEKASIH KU " Vania menatapnya sinis.
Tari tersenyum mendengar pertanyaan Vania, mungkin wanita itu belum mendengar kabar tentang dirinya selama ini.
" Kamu pasti sengaja ya, mau dekat dekat dengan El. Kamu pikir El akan respek pada wanita seperti mu, tidak akan pernah. Dari dulu wanita yang Ia cintai hanya aku dan jangan pernah berharap bisa memiliki cinta konyol mu itu, mengerti.... ! "
Tari geleng-geleng kepala melihat reaksi Vania yang menurutnya berlebihan.
" Benarkah, tapi sayang aku juga tidak tertarik pada kekasih mu itu Nona Vania. Jadi kalau kamu malam ini mengurung ku disini hanya untuk memperjelas status mu maka kamu salah besar, silahkan kamu konfirmasi sendiri pada orangnya bukan padaku "
Tari mulai merasa jengah melihat sikap Vania, Ia segera melangkah untuk membuka pintu. Mungkin menjauh itu yang terbaik dari pada di ladeni dan membuatnya semakin menggila.
" Eh, kamu pikir aku nggak tahu kalau dulu itu kamu tergila-gila pada El, tapi sayangnya El tidak pernah melihat mu sama sekali, benar kan ..... ! "
__ADS_1
Vania tersenyum mengejek, sedangkan Tari hanya bisa menghela nafas.
" Oh ya, ngomong ngomong tadi itu anak kamu, sejak kapan kamu menikah kok sudah punya anak sebesar itu, pasti Ayah nya adalah dari orang yang tidak jelas "
Kesabaran Tari akhirnya habis, kalau dirinya saja yang di hina mungkin Dia akan diam tapi kalau sampai mengganggu anak semata wayangnya maka Tari akan berubah murka.
" Diam Vania, kalau kamu tidak tahu apa apa tentang kami lebih baik kamu diam. Bukankah kamu sendiri juga punya anak, apa dia punya Ayah atau jangan jangan dia juga tidak punya Ayah "
Sebenarnya Tari tidak ingin mengatakan itu namun Ia sudah lelah menghadapi wanita yang menurutnya kurang kerjaan.
Plakkkk ! "
Tari memegang pipinya yang memanas karena tiba-tiba mendapat tamparan keras oleh Vania.
" Jangan pernah kamu bawa bawa anakku wanita ja*ang, anakku tentu saja berbeda dari anak mu. Dia anak yang berkelas, karena dia adalah anak Axell. Anak dari pewaris Atmajaya corporation tidak seperti anak mu yang tidak jelas itu "
Tari meninggalkan Vania dalam ruangan itu menuju ke kamarnya. Begitulah manusia yang tidak bisa berpikir, maunya mengusik orang lain, tapi giliran dia yang di usik malah tidak terima.
Hari ini hari minggu semua berkumpul di kediaman Maudy, termasuk orang tua dari Axell yang memang di minta langsung oleh Maudy.
Awalnya Aini menolak karena ada pekerjaan penting, namun ketika mendengar cerita Maudy akhirnya Aini bersama sang suami memutuskan terbang ke kota S.
Suasana begitu ramai terdengar canda tawa dari semua penghuni rumah.
" Sini Nak sama Oma sayang "
Aini memanggil Arka dan langsung mendudukkan nya kedalam pangkuannya.
Raut bahagia nampak terpancar di wajah Aini dan juga sangat suami.
Melihat kebahagiaan calon mertuanya itu membuat Vania merasa geram, Ia tidak menyukai kedekatan Arka dengan calon mertuanya tersebut.
" Hallo Ma, gimana kabar Mama "
Aini menatap Vania dan tersenyum ramah, bagaimana pun juga tidak bisa di pungkiri kalau wanita itu adalah wanita yang di cintai Putranya selama bertahun-tahun.
" Baik Nak, bagaimana dengan mu "
Vania tersenyum sumringah karena Aini sang calon Ibu mertua masih menyapanya dengan lembut seperti waktu dulu.
" Vania baik kok Ma ! Oh iya Ma, ini Tiara cucu Mama "
Vania menarik Putrinya menghadap Oma Aini, Tiara yang memang anak baik langsung mencium punggung tangan Aini.
" Tiara Oma, jadi ini Oma nya Tiara ya Ma. Alhamdulillah Tiara bisa ketemu Oma, Tiara senang deh. Makasih ya Ma "
Aini tersenyum pada Tiara, Ia mengelus kepala gadis kecil itu. Anak perempuan yang sangat cantik, dan juga terlihat baik. Pembawaannya bisa dengan mudah membuat siapa pun menyukainya.
" Sayang, Arka bisa main sama Tiara sebentar tidak. Kasihan Dia tidak ada temannya "
Arka menatap anak perempuan yang besarnya hampir sama seperti nya itu dengan ragu, selama ini Ia hanya sendiri dan memang sengaja tidak mendekati siapa pun terkecuali orang orang terdekatnya. Tari yang melihat itu langsung menghampiri Putranya, Ia tahu kalau Arka pasti merasa tidak nyaman.
__ADS_1
" Sayang, Arka temani Tiara dulu main sebentar ya karena para orang tua lagi mau membahas urusan orang dewasa " Bisik Tari.
Akhirnya Arka pun mengangguk setuju, Tari akhirnya bisa bernafas lega.
" Tiara, kamu ikut Arka ya Nak " Pinta Aini.
Tiara langsung menggenggam tangan Arka dan menariknya menjauh.
" Ayo Ar, kita ke kamar mu pasti banyak mainan "
Arka yang terkejut hanya memperhatikan tangannya yang di genggam erat oleh Tiara.
" Ar, ayo dong "
Tiara kembali mengajak Arka karena kulkas sepuluh pintu itu tidak juga bergerak dari tempatnya.
Arka akhirnya melangkah mengikuti Tiara, gadis itu mendadak bingung.
" Eh, kamar mu ada dimana sih Ar. Masa aku main tarik tarik tapi nggak tahu mau kemana "
" Lepaskan tangan ku, aku bisa jalan sendiri "
Tiara melepas tangan Arka dan tersenyum malu, Ia memilih mundur mempersilahkan Arka jalan lebih dulu.
Tiara menatap ruangan Arka, ruangan dengan nuansa biru. Buku buku yang tersusun rapi di meja.
" Kamu tidur sendiri disini Ar " Tanya Tiara.
Arka mengangguk kecil
" Di dalam lemari sebelah sana, disana banyak mainan yang kamu inginkan. Carilah yang mana yang kamu sukai "
Arka duduk di sofa melihat melihat Tiara membuka lemari miliknya, mata Tiara berbinar ketika melihat beberapa mainan milik Arka.
" Wah, mainannya bagus banget Ar. Ini punya mu juga "
Arka menoleh dan langsung berdiri menghampiri Tiara.
" Jangan sentuh yang itu, bukankah tadi aku bilang lemari sebelah sana kenapa buka yang disini "
Dari wajahnya bisa di pastikan kalau Arka sedang menahan amarah.
" Maafkan Aku Ar, aku tidak tahu " Tiara menunduk ketakutan.
Tiara kemudian membuka lemari yang bersebelahan dengan lemari yang Ia buka sebelum nya.
" Sebenarnya ada apa sih Arka, kok marah gitu, aku kan hanya melihat lihat saja. " Wajah Tiara cemberut.
Arka menghela nafas melihat perubahan raut wajah Tiara.
" Maaf karena kasar padamu, tapi ini adalah pemberian seseorang dan aku sangat menyayanginya, tidak akan ku biarkan ada orang lain yang merusak nya "
__ADS_1
Tiara mengangguk meskipun Ia sendiri bingung dengan apa yang terjadi.