
Risma sudah memutuskan meninggalkan kota Surabaya, meninggalkan banyak kenangan disana. Kalau Ia masih menetap disana, akan sangat baginya untuk tidak memperdulikan Ilmi.
Setelah kemarin sore Ia berpamitan pada sahabatnya Tari, kini Ia sudah berada di Ibukota Jakarta. Risma menyeret kopernya keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, Ia langsung memesan taxi yang membawa dirinya ke alamat yang baru.
" Mbak, mohon maaf alamat lengkapnya. "
Risma yang sejak tadi melamun segera menyebutkan alamat lengkap rumah barunya.
\*\*\*
Di Surabaya
Vania yang sudah bertemu Putrinya setelah tragedi penculikan beberapa hari silam, kini terlihat sibuk merapikan pakaian Tiara. Sejak tragedi mengerikan itu membuat Vania menyadari satu hal, kalau Ia begitu menyayangi Putrinya, Vania tidak ingin kehilangan anak semata wayangnya itu.
" Mama, sudah. Ini biar Tiara saja yang pakai, Tiara bisa kok sendiri. "
Gadis berparas cantik itu mengambil sepatu dari tangan Ibunya, sebenarnya Tiara bingung melihat perubahan Ibunya. Bagaimana mungkin wanita yang selama ini bahkan tidak pernah peduli padanya, kini sepatu pun di pasangkan olehnya.
Terlepas dari semua itu, Tiara bersyukur karena Ibunya sudah berubah dan perhatian padanya.
" Sayang, hari ini kita kesuatu tempat. Tiara mau ikut nggak. " Tanya Vania lembut.
Tiara mengangguk, Ia merasa sangat senang karena sudah beberapa hari ini Ibunya selalu meluangkan waktu untuknya, begitu juga dengan Mbak Yuni yang begitu terharu melihat perubahan majikannya.
" Memangnya kita mau kemana Ma. " Tanya Tiara
Vania tersenyum sembari mengusap kepala Tiara lembut.
" Ada deh sayang, tunggu Mama sebentar ya. Mama ganti baju dulu, Oke. "
Tiara mengangguk dan terus memandang Ibunya yang keluar dari kamarnya. Dari luar Mbak Yuni masuk dan menghampiri Tiara.
" Duh cantiknya anak baik, mau kemana nih rencananya. Mbak Yuni boleh ikut nggak. "
Tiara masih memikirkan perubahan Ibunya, hingga Ia tidak menjawab pertanyaan pengasuhnya.
" Kenapa cantik. " Tanya Yuni heran.
__ADS_1
" Nggak apa- apa Mbak, Tiara hanya heran saja. Ada apa dengan Mama ya, kok tiba-tiba baik sama Tiara. "
Yuni menghela nafas lega, Ia yang tadinya khawatir kalau anak asuhannya itu kenapa - kenapa kini hanya bisa tertawa gemes.
" Aduh anak cantiknya Bu Yuni, kenapa Tiara harus pusing mikirin itu. Sekarang gini Mbak Yun tanya, apa Tiara suka di perlakukan Mama begitu. " Tanya Yuni pelan.
Tiara mengangguk, wajah cantiknya nampak menggemaskan dimata Yuni yang juga begitu menyayangi Tiara, bahkan Yuni juga terlibat dalam aksi yang menegangkan ketika menyelamatkan Tiara dari para Pria- Pria bengis yang waktu itu menyekapnya.
Satu hal yang Yuni tau bahwa Pria dimasa lalunya ternyata tewas di tangan Pria bengis tak bertanggung jawab, awalnya Yuni sangat membenci Pria itu. Namun setelah Ia tahu kalau Pria itu ternyata hanyalah kaki tangan dari orang yang egois dan penuh dengan ambisi, akhirnya Yuni bisa dengan ikhlas hati memaafkannya.
" Ya sudah sayang, kalau Tiara senang ya berarti Tiara harus bersyukur karena Mama Tiara sekarang sudah di bukakan hatinya dan menyadari betapa berartinya Putri cantiknya ini. Sudah, sekarang senyum. Coba Mbak Yuni lihat mana senyum cantiknya. "
Tiara tersenyum lebar hingga menampilkan dereta gigi putihnya.
" Duh cantiknya, gini dong. Jangan bingung atau sedih lagi ya, Mbak....
" Ibu. " Sebuah suara menghentikan ucapan Yuni
Tiara dan juga Yuni menoleh ke arah pintu, disana nampak seorang wanita dengan tampilan sangat cantik. Yang membuat keduanya melongo adalah pakaian yang di kenakan wanita itu.
" Mama.....
Kedua wanita berbeda usia itu sontak berseru melihat perubahan Vania, dengan balutan baju muslimah Ia terlihat sangat cantik dan menawan.
Vania melangkah kearah keduanya dengan senyum menghiasi bibirnya.
" Panggil Mbak Yuni dengan panggilan Ibu Nak. "
Mendengar ucapan Vania, Tiara dan Yuni semakin terkejut. Apalagi Yuni, Ia sampai meneteskan air mata.
" Sayang, mau kan panggil Mbak Yuni dengan panggilan Ibu. "
Tiara menunggu jawaban dari Putrinya, Tiara mengangguk karena Ia pikir itu lebih baik.
" Yuni, aku tau kalau kamu begitu menyayangi Tiara dan itu tidak di ragukan lagi. Kamu bahkan ingin punya anak, untuk itu tidak apa- apakan kalau Tiara memanggilmu Ibu. Kamu sudah menyelamatkan Tiara beberapa waktu silam, itu sudah membuktikan kalau kamu layak jadi seorang Ibu, bahkan kasih sayang mu selama ini pada Tiara melebihi aku Ibunya yang sudah melahirkan nya. "
Yuni tidak mampu menahan haru, akhirnya Ia menangis terisak.
__ADS_1
" Ibu. " Panggil Tiara menatap wajah Yuni yang sudah di penuhi air mata.
Yuni langsung menghambur memeluk Putri cantiknya.
" Anakku, Ya Allah.... terima kasih, Engkau mengabulkan Doa Hamba. Bisa mendengar Putri kecil ini memanggil Ibu padaku. " Jerit lirih Yuni sembari mengelus lembut punggung serta kepala Tiara.
Sejak datang kerumah itu Yuni memang begitu menyayangi Tiara, apalagi gadis kecil itu selama ini selalu mendapatkan perlakuan tidak baik dari Ibunya sendiri.
Vania mencoba tersenyum agar tidak ikut menangis namun setitik air matanya jatuh juga membasahi wajahnya. Dengan cepat Ia mengusapnya pelan.
" Sudah sudah, kenapa jadi nangis begini. "
Yuni bangkit dan langsung memeluk Vania, membisikkan sesuatu disana.
" Makasih Nyonya, makasih. " Bisik Yuni.
Vania mengurai pelukan dan menatap Yuni dengan senyum masih menghiasi wajahnya.
" Vania, panggil Vania saja. Sepertinya umur kita tidak terpaut jauh. "
Yuni menggeleng, Ia tidak mungkin memanggil majikannya itu dengan panggilan nama saja.
" Yun, bukannya kamu adalah Ibunya Tiara. Apa nggak terdengar aneh kalau kamu panggil aku Nyonya, apa kata orang yang mendengarnya nanti. "
Yuni jadi serba salah, panggil Nyonya salah dan panggil Mbak juga salah karena dirinya mungkin lebih tua dari Vania, meskipun tidak terlalu jauh.
\*\*\*
Yuni turun dari mobil lebih dulu dan membantu Tiara turun, gadis kecil itu bingung menatap bangunan luas di depannya.
" Ma, untuk apa kita ke rumah sakit. Apa Mama sakit, atau Ibu yang sakit. " Tanya Tiara menatap kedua wanita di sampingnya bergantian.
Yuni menggeleng karena Dia tidak merasa sakit, tapi Dia sudah tau kenapa Vania membawa Putri kecilnya ketempat itu.
" Sayang, antara Mama dan Ibu tidak ada yang sakit. Hanya saja ada seseorang yang ingin bertemu dengan Tiara. Mau nggak Nak. "
Tiara menatap Ibu dan Mamanya bergantian dan kemudian beralih ke depan dimana disana banyak orang berlalu lalang.
__ADS_1
" Iya Ma. "
Yuni kemudian menggandeng tangan Tiara memasuki area rumah sakit, hari ini Vania akan mengatakan yang sebenarnya pada Putrinya siapa dirinya sebenarnya. Tidak ingin ada apapun yang Ia tutupi lagi.