
El sangat bahagia apalagi setelah semalam malam panjang mereka lewati bersama, El semakin memperlakukan Tari dengan manis. Ia sudah berjanji akan mencintai dan menyayangi keluarga kecilnya dengan sepenuh hati.
Berbeda dengan Tari, sehabis mandi Ia gelisah karena pesan yang Ia kirimkan untuk seseorang sejak kemarin belum ada balasan.
El yang baru saja membuka mata pelan dan melihat gerak- gerik istrinya tiba-tiba merasa tidak nyaman. Ia bergegas turun dan memakai celana boxer nya seraya menghampiri sang Istri.
" Sayang, lagi yuk. " El membenamkan wajahnya di leher Tari membuat Tari menghela nafas.
Kesabaran Tari mulai menipis ketika suaminya terus mengulang hal yang sama, Ia bahkan tidak segan mencium leher putih mulus Istrinya.
" El, sudah dong. Jangan kekanak-kanakan begini. " Tari mencoba menepis tangan El agar tidak mengganggunya.
El terkejut, Ia menarik tubuhnya dan berdiri dengan benar. Ia menatap Tari dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Apa, coba ulangi lagi sayang. "
" El, sudah do..... " Cup. "
" Ulangi lagi. "
" El, sudah.... " Cup. "
Berulang kali Tari mengulang apa yang Ia katakan dan berulang kali Ia mendapatkan kecupan, hingga akhirnya Ia mendapatkan ciuman panas dari suaminya itu. Ia baru berhenti setelah mereka berdua sama-sama hampir kehilangan oksigen.
" Panggil aku sayang, kita sekarang adalah suami Istri. Jangan pernah panggil nama lagi atau aku akan menagih lebih dari yang tadi, bagaimana. "
Tari merinding melihat El menaik turunkan alisnya serta matanya menatap dirinya, Tari menutup bagian dadanya dimana mata suaminya sejak tadi menatap.
" Ia baik sayangku, apa sudah puas. "
El menggeleng, Ia mengambil ponsel Tari dan menanyakan perihal siapa yang di hubungi Istrinya sejak tadi.
" Ini. " Tari menatap heran kenapa El mengambil ponselnya.
" Ada apa dengan ponsel ku sayang. " Tanya Tari.
__ADS_1
El tersenyum di sudut bibirnya, Ia bahagia karena ternyata Istrinya benar-benar memanggilnya sayang seperti yang Ia inginkan.
" Kamu menghubungi siapa, kenapa sejak tadi nampak gelisah. "
Pertanyaan El membuat Tari memicingkan matanya.
" Kamu cemburu sayang. " Tanya Tari pelan. Ia semakin mengerutkan keningnya disaat El mengatakan tidak.
" Ya, iya.... apa salahnya kalau aku cemburu, kamu adalah Istriku sekarang. Aku tidak akan mengijinkan istriku masih mencintai Pria lain. "
Tari menggeleng pelan, Ia tidak habis pikir ternyata suaminya mencemburuinya.
" Aku juga tau sayang, kalau saat ini aku sudah punya suami yang ternyata bucin. Lagi pula aku tadi bukan menghubungi seorang Pria tapi Aku sedang menunggu pesan dari Imel. Sayang, apa kamu tidak tau kalau Imel kemarin tiba-tiba hilang. Dia juga tidak pamit kalau mau pulang, bahkan sampai sekarang ponselnya pun tidak aktif. "
Tari memberikan ponselnya pada El dan menunjukan pesan yang Ia kirim pada sahabatnya itu. El meletakkan ponsel Tari dan kembali memeluk Istrinya dari arah belakang, tangannya meraba sesuatu yang menjadi tempat ternyaman nya semalaman.
" Maafkan aku sayang, maafkan suamimu yang bucin ini. Ri, aku sangat mencintaimu dan aku mohon, tolong jangan sakiti aku. Aku berjanji akan menjaga hati dan cinta ini hanya untuk mu dan anak kita, aku juga mengharapkan hal yang sama padamu. Bagaimana sayang, apa kamu mau. "
Tari mengangguk, El bahagia dan kembali menyerang Istrinya dengan penuh cinta.
" Imel, sayang. " Ucap El setelah membaca nama yang tertera di layar ponsel Istrinya. El segera menyerahkan ponsel sang Istri.
" Halo Mel, kamu dari mana saja. Kemarin pas acara langsung hilang, kamu baik- baik saja kan. " Tari langsung menodongkan begitu banyak pertanyaan pada sahabatnya itu.
Tari mendengarkan dengan seksama apa yang di katakan Imel.
" Apa, di culik orang aneh. Aneh bagaimana, terus..... tapi kamu tidak di apa- apain sama dia kan. "
Saking terkejutnya Tari bahkan langsung melemparkan selimut yang menutup tubuh polosnya, hal itu sontak membuat mata El melongo.
Tari menanyakan kenapa suaminya melongo melalui kode tapi suaminya tidak menjawab, ekor mata Tari mengikuti kemana arah pandangan mata suaminya. Dengan cepat Ia menarik kembali selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya.
" Ah I, iya Mel. Aku baik- baik saja, oh ya. Nanti malam kamu datang ya, kita adakan makan malam bersama. Untuk waktu dan tempatnya, nanti aku kabarin lagi. Sudah dulu ya, aku tutup dulu. Assalamu'alaikum. "
Tari menghela nafas berat, ternyata begini punya suami. Ia segera bangkit dan berlari ke kamar mandi sebelum menjadi santapan suaminya yang sudah menantapnya seperti ingin memakannya.
__ADS_1
" Aku ingin mandi sayang. " Tanpa babibu, Tari langsung lari terbirit-birit.
El mengejarnya namun tidak sempat.
" Sayang, buka pintunya dong. Kita mandi berdua ya. " El mengetuk pintu berulang-ulang.
" Nggak sayang, aku sudah selesai. "
Tari keluar dengan handuk yang hampir menutupi seluruh tubuhnya, Ia bahkan menghabiskan beberapa handuk untuk itu. El tidak putus asa, Ia langsung memeluk tubuh sang Istri yang semakin membuatnya bergairah karena aroma harum di tubuhnya.
" Sayang, cukup. Ingat, anak kita menunggu kita di luar. Masih banyak waktu lagi, nanti malam kita lanjutkan. Aku janji akan melayani sepuasnya. " El akhirnya mengalah, tapi Ia juga bahagia membayangkan akan bertempur lagi nanti malam.
Makan malam pun tiba, satu persatu dari mereka sudah berdatangan. Disana juga ada Alvin dan Risma, mereka sebenarnya ingin langsung pulang namun Tari menahanya.
Imel datang dan langsung memberikan pelukan pada sahabatnya.
" Wah pengantin baru tambah seger aja nih. " Goda Imel.
Tari tersipu malu sedangkan El justru merasa senang, karena masih menunggu yang lain belum datang, Tari langsung menanyakan alasan kenapa sahabatnya itu meninggalkan acara tanpa pamit. Begitu juga dengan Pria aneh yang di sebut Imel.
" Mel, mumpung Mama sama Papa belum datang, coba sekarang ceritakan pada soal Pria yang kamu anggap aneh itu. "
Imel pun akhirnya menceritakan tentang Pria itu, Tari terkejut mendengar cerita Imel. Ternyata ini bukan pertama kalinya tapi yang kedua.
" Pria itu hadir di acara kemarin, benarkah. Tapi siapa dia. " Gumam Tari.
Imel juga bingung, tiba-tiba mata Imel melihat seseorang yang sangat Ia kenal. Matanya melotot sempurna karena ternyata Pria itu melangkah kearah mereka.
" I, itu...... "
Tari mengikuti kemana arah pandangan Imel
" Mas Ilmi. " Gumam Tari, Ia menatap Imel seolah memastikan bahwa apa yang Ia pikirkan itu benar.
Melihat Imel mengangguk Tari justru tersenyum, semua kekhawatiran yang Ia rasakan sejak semalam hilang begitu saja.
__ADS_1
Makan malam di mulai setelah semuanya berkumpul, hal yang seharusnya membahagiakan namun tidak berlaku untuk El. Dia terbakar cemburu karena melihat Ilmi yang sejak tadi memandang kearah Istrinya.