
Keduanya melangkah memasuki sebuah ruangan, Imel mulai bertanya-tanya. Bagaimana pun juga Kevin pernah berjasa dalam hidupnya. Dialah yang selama ini selalu memberi semangat pada Imel, meskipun ada maksud terselubung tapi Kevin tetap memberitahukan padanya dimana keberadaan Tari.
" Ini ruangan siapa Ri, ayo kita keluar. Aku tidak mau disini, ini bau obat- obatan, kok aku merinding ya Ri. "
Imel yang memang anti dengan yang namanya rumah sakit, apalagi membayangkan berada di kamar jenasah mulai berpegang erat pada baju Tari.
" Ri, ayo dong keluar. "
Imel merengek seperti anak kecil, bijih peluhnya sudah bercucuran seperti biji jagung.
" Mel, bukannya kamu ingin bertemu dengan Kevin. "
Imel mengangguk,, Ia memang ingin bertemu dengan Kevin.
" Ya sudah, kalau ingin bertemu Kevin maka masuklah. Dia ada disana. " Tari menunjuk tirai yang ada didalam ruangan itu.
Imel melangkah mendekat, meskipun Ia harus berperang dengan rasa takutnya namun Ia juga penasaran.
Imel menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika melihat siapa yang terbaring lemah disana dengan beberapa selang melekat di tubuhnya.
" Tari, ini.... ! " Imel tak mampu berkata-kata.
" Iya Mel, ada sebuah insiden yang cukup rumit dan panjang kalau di ceritakan sekarang, tapi Dia sudah mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Tante Aini. "
Imel menatap penuh tanda tanya pada Tari, ingin bertanya tapi mungkin sekarang belum waktunya.
\*\*\*
__ADS_1
Di tempat berbeda, seperti biasa Risma selalu membawakan bekal makan siang untuk Ilmi. Meski sudah berapa kali di tolak namun Ia tidak jera, sudah beberapa minggu ini Ia melakukan itu.
Meskipun kadang Dokter tampan itu menerimanya namun tidak Ia makan melainkan di berikan pada rekan kerjanya. Risma melihat itu namun tetap memberikan perhatian pada Ilmi.
" Assalamu'alaikum Sus, apa saya bisa bertemu dengan Dokter Ilmi. " Tanya Risma dengan membawa bekal ditangannya.
Suster tersenyum sebelum menjawab
" Maaf Mbak, tapi Dokter Ilmi tidak ada di tempat. "
Risma menghela nafas, Ia tahu kalau suster itu berbohong. Karena masuk tadi Risma sudah memastikan kalau Dokter Ilmi ada di ruangannya dan hari ini Dia ada jadwal operasi.
" Ya sudah, ini buat Suster... Alda saja. "
Risma membaca tag nama yang tertera di seragam wanita di depannya.
" Benarkah ini buat saya Mbak. " Tanya Suster Alda memastikan.
Risma tahu kalau dihati Ilmi hanya ada Tari, wanita yang Ia cintai dalam diam.
" Katakan pada Dokter Ilmi, aku tidak akan kemari lagi. Aku tidak akan menganggunya lagi dengan memberikan perhatian padanya atau repot- repot memberikan nya bekal yang aku tahu , tidak ada satupun bekal yang kubawa Ia makan. Katakan padanya, tidak perlu merasa tidak nyaman padaku. "
Risma menguatkan hatinya agar terlihat baik- baik saja.
" Baiklah Sus, saya pulang dulu. Rantang nya ambil saja buat Suster. Makasih, assalamu'alaikum. "
Setelah berpamitan Risma bergegas melangkah meninggalkan rumah sakit tempat Ilmi bekerja, air matanya jatuh bersamaan dengan sakit hatinya. Sudah cukup selama ini Ia memperjuangkan cintanya, tapi ternyata perjuangannya sia- sia.
__ADS_1
Dokter Ilmi bukan hanya tidak peduli padanya sebagai seorang kekasih, tapi juga bahkan sebagai sahabat saja, Ia merasa enggan.
Risma mengusap air matanya yang jatuh di pipinya, Ia mengemudi mobilnya perlahan. Rencananya besok Ia akan ke Jakarta, beberapa minggu ini Ia sudah ajukan surat pemindahan dirinya dan ternyata di kabulkan.
" Ya, Ilmi. Mungkin dengan menjauh darimu aku akan bisa melupakan mu, semoga kamu menemukan kebahagiaan mu sendiri. " Gumam Risma.
Selepas kepergian Risma, seperti biasa Ilmi keluar dari tempat persembunyiannya. Ia menemui Suster Alda.
Suster Alda meletakkan rantang bekal yang di berikan Risma, Ia tidak berminat lagi untuk memakannya.
Suster Alda tau bagaimana rasanya di tolak oleh orang yang di cintai.
" Kenapa diletakkan disini, buruan bawa sana. Terserah kamu mau makan atau kamu buang, aku juga tidak peduli. "
Ilmi seolah ilfeel dengan semua perhatian Risma.
" Mohon maaf Dokter Ilmi, tapi seperti nya Anda sudah salah besar. Anda mengabaikan orang yang benar-benar sayang pada Anda. "
Ilmi tertawa kecil, Ia merasa lucu melihat sikap Suster Alda. Biasanya dia akan dengan senang hati karena mendapat makanan gratis.
" Ternyata Saya salah menilai Anda selama ini Dok, Anda adalah orang yang egois tidak pernah menghargai orang lain. Saya sarankan untuk Anda berubah sebelum menyesal nanti, dan mengenai bekal ini sebaiknya Anda makanlah biar hanya sedikit. Karena hari ini adalah hari terakhir gadis cantik dan baik hati itu datang kemari, untuk sekedar memberi perhatian dengan membawa bekal kepada Anda. "
Ilmi masih tidak faham dengan ucapan Alda, Ia malah merasa lucu mendengar ucapan gadis itu. Ia merasa Alda teralu berlebihan.
" Selamat, mulai saat ini Anda aman tidak akan ada lagi yang mengganggu atau membuat Anda tidak nyaman. Maaf, kalau sudah tidak ada yang penting saya pamit keruangan saya, masih banyak perkerjaan yang harus saya selesaikan. "
Alda melenggang pergi meninggalkan Ilmi yang ternyata belum sadar juga, Ia malah menertawakan ucapan Suster Alda.
__ADS_1
Risma mengetik beberapa pesan pada Tari bahwa dirinya ingin bertemu, Ia harus berpamitan pada sahabatnya itu sebelum berangkat besok di tempatnya yang baru.
Risma memang di pindahkan di rumah sakit pusat, sebenarnya bersama Tari namun Tari memilih tetap di cabang surabaya karena Ia tidak ingin meninggalkan Maudy seorang diri.