
Tari melajukan mobilnya ke alamat yang di kirimkan oleh seseorang melalui pesan singkat.
Segera Ia memasuki sebuah tempat sambil melirik ke kanan dan kiri mencari sosok yang Ia cari.
" Wah wah wah ! punya nyali juga lo "
Sebuah suara di sertai dengan tepukan tangan mengalihkan perhatian Tari, Ia menoleh memastikan siapa sebenarnya dalang dari peristiwa masa lalu. Jantung nya berdegub kencang karena semua sesuai dengan yang Ia pikirkan, meskipun sebelum nya Ia berharap apa yang melintas di pikirannya itu adalah salah.
" Kembalikan kalung itu padaku "
Orang di depannya justru tersenyum sinis
" Wow di luar dugaan, pantas saja si bodoh itu tergila-gila padamu, rupanya kamu sekarang sudah berubah "
Tari sedikit terpancing dengan ucapan Pria itu namun Ia berusaha tenang.
" Apa kamu tidak malu mengambil milik orang lain, apa jangan jangan kamu sudah jatuh miskin sehingga untuk membeli barang begitu saja kamu sudah tidak sanggup "
" Diam kau wanita ja*ang, jangan karena aku memuji mu lalu kau melambung tinggi. Bagiku kamu tidak lain adalah wanita ja*ang yang menjual diri pada Pria kaya dan berhasil hamil. Kamu pikir aku tidak tahu, sekarang kamu kembali lagi dengan menggunakan anakmu itu untuk menguras harta kekayaan Pria bodoh itu "
Rupanya ucapan Tari berhasil membuat Pria di depannya terpancing emosi, sementara Pria itu emosi Tari justru tersenyum senang.
" Lucu sekali, sanga~~at lucu. Aku yang ja*lang atau kau sendiri yang kejam. Kau pikir aku tidak tahu kejahatan apa yang sudah kamu lakukan selama ini, bagaimana kalau Pria yang kau katakan bodoh itu tahu bagaimana kamu yang sebenarnya "
Pria itu justru tertawa
" Apa kamu berani mengatakan nya yang sebenarnya, tidakkah kamu ingat bahwa orang terpenting mu ada di dekat ku dan sekarang kami sedang merencanakan hari bahagia. Apa kau ingin membuatnya sakit hati atau mati sia sia bersama janin yang ada di rahimnya saat ini "
__ADS_1
Bak di sambar petir Tari terkejut mendengar ucapan Pria di depannya.
" Kenapa hm, kenapa diam. Kamu pasti tidak menyangka mengenai ini kan, pikirkan sekali lagi kalau mau bertindak atau hidupnya tidak akan berlangsung lama "
Tari masih setia berdiri walau sebenarnya kakinya sudah hampir tidak mampu menahan bobot tubuhnya.
" Hey sayang kamu disini " Sebuah suara mengejutkan keduanya.
Tari semakin terkejut melihat kehadiran El di tempat itu, sejak kapan Pria itu berada disana, apa dia sudah mendengar semua yang mereka bicarakan.
" Hey, kenapa wajah mu pucat dan kamu bro, sejak kapan kamu ada di kota ini. Kenapa tidak mampir ke tempat ku, saudara nggak ada akhlak. Bukannya menemui saudaranya malah menemui seorang wanita secara diam diam, eh bukannya kamu sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan dengan Imel. Kenapa masih sempat sempat merayu wanita lain "
Kevin tertawa dan menepuk pundak El pelan setelah bersalaman.
" Enak saja kamu El, aku bukan seperti mu. Aku ini Pria setia, tidak seperti kamu. Aku juga kemari justru karena mau mengundang Tari, biar bagaimana pun juga dia adalah sahabat baik dari calon Istriku. Rencananya tadi sih aku akan ke apartemen mu setelah ini, tapi seperti nya kita sudah bertemu disini jadi aku tidak harus ke tempat mu lagi "
" Memang dasar saudara laknat, lama tak jumpa apa kamu tidak rindu pada saudara sendiri, bukannya berkunjung secara baik baik malah ~~
" Oke oke, jangan sensi begitu, baik aku akan kesana. Aku hanya bercanda lagi pula serius amat sih nanggapinnya "
Di jalan pulang El menatap wajah Tari diam diam, Ia penasaran apa yang sebenarnya kedua orang itu bicarakan.
" Apa kamu baik baik saja, apa yang kalian bicarakan tadi "
Tari menoleh ke arah Pria di sampingnya.
" Aku baik baik saja El, tapi kamu yang tidak baik. "
__ADS_1
Dahi El berkerut, kenapa masalahnya jadi ada padanya.
" Maksud mu "
" Ya, apa kamu nggak merasa aneh. Coba saja kamu pikir, kenapa kamu sampai ada di tempat ini dan anehnya lagi kamu kemari naik apa, kok bisa pulangnya malah nebeng aku. Tidak mungkin kan kalau kamu lari apalagi jalan kaki dari rumah kemari "
El yang tadi bingung dan khawatir akhirnya bisa tertawa, tadinya Ia berpikir Tari sedang memikirkan sebuah masalah ternyata wanita itu sedang memikirkan bagaimana dirinya bisa ada di tempat itu.
" Astaghfirullah Ri, aku pikir kamu tadi kenapa eh taunya malah bingung mikirin aku "
Tari menatap lurus kedepan sedangkan El malah merasa tidak enak hati pada Tari. Apalagi kalau sampai wanita itu menyadari kalau dirinya memang sengaja mengikuti nya sejak tadi.
" Iya maaf, tadi itu aku memang
memang sengaja mengikuti mu. Tapi jangan marah, itu juga karena salah mu sendiri. Kenapa juga pergi nya secara diam diam "
Tari menyunggingkan senyum pada El, Ia tidak mau Pria itu semakin banyak bicara sementara dirinya butuh ketenangan.
Tiba di rumah Tari turun lebih dulu dan langsung pamit pada El yang masih menepikan mobil dengan benar.
" Aku duluan ya El, mau mandi dulu gerah "
El mengangguk
Sampai di ruang kerjanya Tari menutup pintu dan menumpahkan kekalutan nya. Tubuhnya merosot ke lantai, Ia tidak tahu harus berbuat apa. Masalah yang Ia hadapi melibatkan orang orang penting dalam hidup nya, satu sisi Ia ingin mengungkap semua sebelum terjadi kerusakan yang lebih parah, disisi lain Ia tidak akan bisa menjadikan kebahagiaan sahabatnya sebagai taruhan.
" Ya Allah, apa yang harus aku lakukan " Tari mengadukan kegundahan hatinya. Kali ini dirinya sedang dilema.
__ADS_1
Terbayang kembali kenangan dirinya bersama Imel sahabatnya, Ia tidak menyangka sahabatnya akan mencintai orang yang salah.