
El mengelus kepala Tiara, Ia tidak habis pikir dengan sikap Vania, bagaimana bisa Ia memperlakukan Putrinya sendiri seperti saat ini.
" Sudah sayang, ayo kita makan. Kamu pasti lapar kan "
Tiara mengangguk dan mereka berdua keluar menyusul Vania yang sudah lebih dulu keluar.
El melihat Vania yang makan dengan lahapnya, bahkan Ia membuka semua kotak yang di bawa El.
" Vania, itu kan punya Tiara, kenapa kamu ~~
" Sudah Pa, tidak apa apa. Tiara masih ada yang ini, yuk Pa kita makan sama sama "
Vania tersenyum mendengar ucapan anak nya barusan.
" Coba lihat, Tiara saja yang kecil nggak protes. Kamu nya saja yang terlalu membesar besarkan masalah, makanya kalau besok besok bawa makanan itu yang banyak. Punya uang banyak tapi pelit sama anak sendiri "
Ingin rasanya El protes namun mengingat Tiara belum makan sama sekali akhirnya Ia tahan amarahnya itu.
Tiara makan dengan tenang, Ia begitu menikmati makan malamnya. Selesai makan Vania langsung berdiri berniat meninggalkan ruang tengah namun di tahan oleh El.
" Kamu mau kemana " Tanya El.
Vania menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah El.
" Kamu tanya kemana, tentu kamu bisa jawab sendiri. Ini sudah malam dan aku sendiri tidak ada acara kemana mana, tidak ada yang di kerjakan. Bukankah lebih baik kalau aku tidur "
El melongo mendengar jawaban Vania
" Kamu habis makan langsung tidur, bahkan kamu tidak bisa membersihkan tempat makan mu sendiri "
El benar-benar di buat bingung dengan sikap Vania yang menurutnya kekanakan.
" Kan ada Tiara, bisa lah Dia kalau hanya membereskan itu doang. Lagian apa kamu mau mengajak aku jalan jalan, atau apa kamu mau tidur disini. Baiklah kalau begitu, aku siap nungguin kalau kamu mau disini "
El menggeleng, baru kali ini Ia menemui seorang wanita yang tidak mencerminkan seorang Ibu yang baik untuk anaknya.
" Pergilah Ma, Mama istrahat saja. ini nanti biar Tiara yang bereskan "
Ibu dan anak namun sifatnya jelas berbeda. Seorang Ibu namun tidak mencerminkan Ibu yang baik, Ia hanya menginginkan dirinya saja yang di mengerti, tanpa sama sekali Ia pikirkan Putrinya itu yang baru berumur delapan tahun. Anak kecil itu di paksa dewasa melebihi umurnya karena keadaan.
Vania melenggang pergi, meninggalkan Tiara dan juga El yang masih menyelesaikan makan malam mereka.
__ADS_1
El menemani Putri kecilnya sampai tertidur, di pandangi nya wajah cantik itu. Hatinya trenyuh, bagaimana mungkin anak sebaik Tiara bisa lahir dari rahim seperti Vania.
Besok hari Tiara mendengar pintu di ketuk dari luar, Ia yang sedang merapikan kamar tidurnya segera berlari membukakan pintu.
" Assalamu'alaikum " Suara dari luar memberi salam untuk yang kesekian kali.
" Wa' alaikum salam, iya tunggu sebentar " Jawab Tiara sembari berlari membuka pintu.
" Maaf Bu, Ibu cari siapa " Tanya Tiara ketika melihat seorang wanita berdiri di depan pintu.
" Hm ~ apa kamu yang namanya Tiara Nak " Tanya wanita itu lagi.
Tiara mengangguk, Ia heran dari mana Ibu itu tahu namanya, padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
" Oh cantik sekali, sama seperti namanya. "
Tiara tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
" Kenalkan Ibu namanya Yuni, Ibu kesini di minta oleh Pak El buat bantu bantu disini "
Tiara memandangi wanita di depannya
Ia berlari ke dalam kamar dan menghubungi El menanyakan perihal wanita yang mengatakan dirinya sebagai asisten rumah tangga yang di kirim Papanya itu untuk bekerja di rumahnya.
" Ah mari silahkan masuk Bu, maaf tadi Tiara nanya sama Papa dulu "
Bu Yuni tersenyum, Ia bangga dengan pemikiran anak sekecil Tiara, tidak begitu langsung mempercayai orang yang baru Ia temui begitu saja.
Tidak lama setelah kedatangan Yuni, sebuah mobil Box parkir tepat di halaman rumah itu. Tiara dan juga Yuni bergegas keluar, sebelum nya Tiara sudah di beritahu Papa El mengenai hal itu.
Tiara turut serta membantu membawa barang barang yang bisa Ia bawa kedalam rumah.
Sejak datang bahkan sampai kini Yuni belum melihat Ibu dari Tiara, padahal El sudah menjelaskan semua bahwa disini Ia harus melayani dua orang wanita yaitu seorang Ibu dan juga anaknya.
Ia baru tahu bahwa wanita itu belum juga bangun dari tidurnya ketika beberapa orang memasang alat pendingin di kamar wanita itu.
Bahkan Ia tidak terganggu sama sekali dengan suara bising dari tukang AC.
***
Pukul sebelas baru wanita itu terbangun, Ia kaget melihat banyak perubahan di rumah itu. Dari yang awalnya hanya sofa sekarang sudah lengkap, bahkan di dapur juga ada kulkas dan semua perabot rumah tangga lainnya.
__ADS_1
" Tiara, Nak ! " Panggil Vania.
Tiara yang mendengar namanya di panggil buru buru berlari keluar.
" Iya Ma, ada apa "
Vania menunjuk semua barang yng ada di dapur tersebut.
" Ini semua siapa yang bawa, kenapa tiba tiba ada disini "
Gadis kecil itu tersenyum, Ia menarik nafas lega. Tadi nya Ia berpikir Ibunya akan ribut lagi ternyata hanya menanyakan semua barang barang yang tiba-tiba ada disana.
" Itu tadi Papa yang belikan, beberapa orang membawanya kemari " Jawab Tiara.
" Oh bagus dong kalau begitu, tapi kenapa nggak pembantu nya sekalian. Kalau begini siapa yang akan masak, percuma membeli semua ini. Tidak mungkin juga kan kalau kamu yang masak "
Tiara lagi lagi tersenyum
" Bu, sini " Panggil Tiara
Yuni yang lagi menyelesaikan pekerjaan di luar segera menghampiri Tiara, Ia menundukkan sedikit badannya.
" Ada apa Non " Tanya Yuni.
Vania menatap kehadiran orang lain, bahkan memanggil anaknya dengan panggilan Non.
" Dia siapa Nak, kenapa kamu membawa orang lain ke rumah ini " Tanya Vania lagi.
" Saya ~ saya yang ~~~
" Ah ini Ma, Ibu ini yang di suruh Papa kemari buat bantu bantu disini "
Vania menatap wanita di depannya dengan tatapan sinis, seolah merasa jijik.
" Ah ya sudah, baiklah kalau begitu. "
Hari ini berulang kali ponsel El berbunyi, Ia jadi merasa risih.
" Kamu ada dimana sih, balas pesan ku atau aku yang akan ke tempatmu sekarang juga "
El yang membaca pesan itu segera membalasnya, sejak tadi tidak ada satupun pesan atau bahkan panggilan masuk yang Ia gubris, namun melihat ancaman Vania Ia langsung membalas pesan itu.
__ADS_1