Super MOM

Super MOM
Perubahan Arka


__ADS_3

Kevin sudah di ijinkan pulang kerumah setelah menjalani beberapa pemeriksaan, meskipun masih harus rawat jalan alias kondisinya masih harus tetap di pantau.


" Pa, kita pulang kerumah yuk. Masakan Ibu enak loh, nanti Tiara yang suapin Papa, biar Papa cepat pulih. "


Kevin memandang Bu Aini dan juga Vania bergantian, Ia bingung bagaimana menjelaskan bahwa mereka belum bisa tinggal serumah karena belum ada ikatan pernikahan.


" Ah sayang. "


Vania menghampiri Tiara dan jongkok agar tingginya sejajar.


" Nak, Papanya Tiara kan lagi sakit dan masih harus di rawat oleh Dokter. Kalau dirumah Oma, kan enak. Disana ada Dokter, ada Papa El dan juga Opa, mereka bisa merawat Papa. Kalau dirumah kita gimana, Tiara nggak mau kan kalau Papa..... ! "


Tiara menggeleng, Ia menatap wajah Kevin yang merasa tidak nyaman atas semua masalah yang Ia ciptakan.


" Iya Ma. "


Tiara mengangguk dan beralih menghadap Kevin, sementara Vania berdiri sambil menghela nafas. Ia juga mengalihkan pandangannya kearah lain, mengusap air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.


Sejak Ia menyadari kesalahannya selama ini, wanita itu lebih mudah menangis.


" Pa, Papa janji akan cepat sembuh kan, Tiara mau kita kumpul sama seperti Rana dan Rani yang punya Papa dan juga Mama. "


Kevin mengangguk pelan, sedangkan Vania masih memandang kearah lain sembari mengusap air matanya yang jatuh di pipinya.


" Ayo sayang duduk disini. "


Kevin meminta Tiara untuk duduk di pangkuannya, sedangkan kursi roda di dorong oleh supir karena El sedang melakukan operasi jadi tidak bisa membantu.


" Tapi Pa, bukankah Papa sedang sakit. Lagipula Tiara kan berat, Tiara nggak mau Papa tambah sakit karena mengasuh Tiara. "

__ADS_1


Kevin tertawa kecil melihat wajah lucu Putrinya, Ia tidak menyangka kalau Vania akan berubah pikiran dan mengatakan yang sebenarnya pada Putrinya itu, Kevin juga sangat bersyukur karena ternyata tidak ada penolakan dari Tiara.


" Nak, yang sakit kan disini, bukan disini. " Kevin menunjuk dadanya dan juga pahanya.


Akhirnya Tiara pun menurut dan duduk dengan hati- hati di pangkuan Kevin. Supir mendorongnya sampai ke parkiran rumah sakit.


Mobil mulai melaju pelan setelah Kevin duduk dengan aman di kursi belakang. Tiara yang tidak bisa bisa ikut rombongan Kevin dan harus kembali lagi bersama Vania memilih diam, Vania merasa tidak tega pada Putrinya. Ia tau bagaimana perasaan gadis kecilnya itu.


" Sayang, kenapa lagi hmm... "


Terdengar Tiara berulang kali menghela nafas


" Apa soal Papa lagi Nak. " Tanya Vania lagi.


" Kenapa sih Ma, kita nggak ikut tadi kerumah Papa. Tiara juga kan mau lebih lama bersama Papa. "


Hal yang sama di lakukan Vania, Ia menghela nafas berulang kali. Putrinya masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya, dan butuh kesabaran dalam menjelaskan kondisi dirinya dan Kevin.


Mendengar itu akhirnya Tiara bisa tersenyum bahagia, akhirnya Ia bisa bertemu kembali dengan Papanya yang baru Ia jumpai beberapa hari ini.


\*\*\*


Di tempat lain, Tari yang baru saja pulang kerumah segera mandi dan membersihkan diri. Hari ini dirinya bersama El harus melakukan operasi pada seorang pasien. Saking lelahnya Ia bahkan lupa makan, setelah mandi Ia kembali memeriksa laporan pasien yang ada di laptopnya.


Tanpa Ia sadari sedari tadi ada yang sedang memperhatikannya, Dia adalah Arka. Arka menatap Mamanya dengan perasaan bersalah.


" Apa Mama marah pada Arka karena semua yang sudah Arka lakukan. " Gumam Arka yang sejak tadi ingin menyapa Tari.


Arka melangkah pelan menghampiri sang Ibu, dengan wajah penuh penyesalan Arka menyapa Ibunya.

__ADS_1


" Ma. " Panggil Arka pelan.


Tari yang memang sedang sibuk hanya menoleh sebentar dan kembali fokus pada layar laptopnya.


" Ma, apa Mama marah pada Arka. " Suara Arka pelan.


Tari menghentikan aktivitas nya, Ia menoleh kearah Putranya.


" Marah, buat apa Mama marah sama Arka. Memangnya Arka melakukan kesalahan. "


Arka diam Ia meremas tangannya sendiri, Tari yang melihat wajah murung anaknya langsung menarik tangan Putranya pelan.


" Sini sayang, maaf. Maafkan Mama, hari ini Mama sedang sibuk. Tadi ada pasien yang darurat di rumah sakit, maafkan Mama kalau Arka merasa Mama marah atau tidak peduli. Nak, Arka adalah kehidupan Mama, segalanya buat Mama. Mama tidak akan pernah marah ama Arka, lagian kan anak Mama anak yang baik. "


Tari menatap mata Putranya yang tiba-tiba memeluknya erat.


" Maafkan Arka Ma, maaf kalau Arka sudah ngecewain Mama. Maaf karena Arka sempat mendiamkan Mama dan juga Papa El. "


Tari terkesima mendengar panggilan Arka pada El, sepertinya anaknya itu sudah mulai membuka hati.


" Apa Nak, Arka tadi bilang Papa. Maksudnya..... "


Arka mengangguk pelan


" Ia Ma, Tiara benar. Arka memang tidak mengerti apa yang terjadi pada Papa, kenapa Dia meninggalkan kita. Tapi Arka tau orang dewasa pasti punya alasan untuk itu, Arka akan menunggu Papa menjelaskannya pada kita. Kenapa Papa meninggalkan kita dulu, dan bahkan ketika bertemu pertama kali, Papa tidak langsung mengakui Arka sebagai Putranya. "


Tari memeluk Arka erat, Ia tersenyum menutupi kesedihannya. Dosanya dimasa lalu telah mempengaruhi masa depan Putra kesayangannya.


" Iya sayang, kelak Mama dan juga Papa akan menceritakan semuanya pada Arka. Makasih karena Arka sidah mau membuka hati untuk Papa. "

__ADS_1


Keduanya berpelukan meluapkan kebahagiaannya masing-masing, Tari tidak sabar ingin memberitahukan El tentang perubahan Arka Putranya yang sudah mau membuka hatinya.


__ADS_2