
Tiba di rumah sakit mereka langsung di sambut brangkar yang siap membawa pasien ke ruang IGD.
" Bantu Sus, tolong pelan pelan. " Titah El yang ikut membantu mengangkat dan mendorong brangkar Kevin.
Tari yang juga mendapat kabar hanya bisa menghela nafas berat.
" Ya Allah, cobaan apalagi ini. Kenapa semua terjadi bertubi-tubi. " Gumam Tari.
Bagaimana tidak, Putranya yang masuk rumah sakit belum juga siuman, kemudian masuk lagi sekertaris El yang bahkan sekarang masih di vonis koma, sekarang apalagi. Meskipun Kevin pernah berbuat salah padanya, namun tetap saja rasanya semua ini terlalu menyesakkan dada.
" Tante Aini. "Sapa Tari yang melihat wajah wanita yang biasanya tampil cantik dan modis kini berantakan dengan wajah sembab.
Aini menoleh ke asal suara dan langsung berlari memeluk tubuh Tari.
" Nak, tolong maafkan anak Tante. Tante mohon Nak Tari selamatkan Dia, Dia di dalam sana, pasti sedang kesakitan. "
Tari menatap wajah Bu Aini dan Bagus serta Aluna yang juga sama sama sedang bersedih.
" Iya Tante, Tante Aini tenang saja dulu. Tari yakin para Dokter dan Suster akan melakukan yang terbaik. Bukannya di dalam sana ada El dan Pak Bayu, mereka pasti akan melakukan yang terbaik buat Kevin, Tante hanya cukup berdoa saja ya, biar semuanya berjalan lancar. " Bujuk Tari yang juga membalas pelukan Aini.
Bagus menatap Aluna dan meminta Aluna mendekat pada Ibunya melalui isyarat, dan Aluna pun mengerti. Ia menghampiri Ibunya dan menenangkannya.
" Ma, biarkan Dokter Tari ikut membantu para Dokter lainnya agar Kevin bisa segera di tangani. " Bujuk Aluna.
Aini mengangguk, Ia berpindah memeluk tubuh Aluna anak bungsunya. Sementara Tari berpamitan dan ikut mengurus segala keperluan yang lain.
" Lapor Pak. " Beberapa Pria berseragam lengkap melaporkan apa yang sudah mereka dapatkan.
__ADS_1
Bagus meminta mereka mengusut sampai tuntas semua pelaku bahkan kalau memungkinkan ada jaringan- jaringan yang terkait.
Di ruang tunggu Aini gelisah, Ia jalan mondar-mandir. Seolah duduk pun rasanya tak nyaman.
" Sayang, duduklah. Kamu mondar-mandir pun bukan solusi yang baik, malah kakimu akan lelah dan juga lihatlah disana. Para pria berseragam itu mungkin juga pusing lihat kamu mondar-mandir. " Tegur Bagus pada Istrinya.
Aini akhirnya duduk walau Ia masih tetap saja tidak tenang.
" Pa, ini sudah jam berapa. Kenapa operasinya belum selesai juga, apa yang di lakukan mereka di dalam sana. Papa juga sih, tadi nggak ikut masuk. Biar operasinya cepat selesai. "
Bagus mengusap wajahnya kasar, Ia juga khawatir namun bisa Ia kendalikan. Berbeda dengan wanita yang di cintainya itu, sudah seperti gosokan baju saja.
" Sayang yakinlah, apa kamu tidak yakin pada anakmu dan juga Dokter Tari. Bukankah Dia adalah Dokter terbaik disini, tenangkan dirimu, mungkin sebentar lagi selesai. "
Lagi lagi Aini akhirnya memilih duduk tenang, mungkin benar apa yang suaminya katakan. Benar saja tidak berselang lama pintu ruangan pun terbuka, nampak El dan beberapa Dokter yang lain keluar dari sana.
Begitu juga dengan Bagus, Ia langsung menghampiri adiknya yang wajahnya nampak pucat, seolah-olah tidak berdarah lagi.
Keduanya kompak diam, mungkin mereka masih shock jadi memilih diam. Hingga Tari pun menyusul keluar, Aini langsung menyerang nya dengan pertanyaan yang sama.
" Bagaimana keadaan Kevin Ri, Dia baik- baik saja kan. "
Tari tersenyum dan mengangguk pelan.
" Iya Tante, alhamdulillah Kevin baik- baik saja. Meskipun tadi ada kendala kecil tapi alhamdulillah bisa berhasil dengan baik. Beruntung nya peluru nya tidak sampai mengenai bagian vital tubuhnya sehingga masih bisa tergolong. Hanya saja Kevin masih harus tetap di pantau selama beberapa jam kedepan, kalau kondisinya normal akan segera di pindahkan ke ruang rawat, Tante banyak- banyak berdoa saja, semoga Kevin bisa segera melewati masa- masa sulit ini. "
Aini dan juga Bagus akhirnya bisa bernafas lega, namun baru saja semua tersenyum seorang Suster cantik datang berlari kearah mereka.
__ADS_1
" Dok, Dokter Tari itu..... ! "
Tari dan semua yang ada disana langsung menoleh, mendadak perasaan Tari langsung tak enak. Ia tahu siapa suster itu, Dia adalah Suster yang di tugaskan menjaga Arka, putra kesayangan nya yang sudah empat hari ini belum sadarkan diri.
" Ada apa Sus, itu apa. "Tanya Aini
Tari langsung berlari tanpa menunggu jawaban Suster yang menjaga Putranya.
" Arka anak Mama, kamu kenapa sayang. " Gumam Tari sambil belari kencang tanpa menghiraukan semua yang melihatnya.
Ia menaiki tangga lift yang membawa dirinya langsung ke lantai VVIP, membuka pintu dengan cepat. Ia melihat seorang Dokter Pria berdiri di samping brangkar.
" Dok, bagaimana dengan A....
" Mama..... " Panggil seorang anak laki-laki tampan yang sedang duduk di atas brankar berwarna putih bersih itu.
Tari menitikkan air mata, setelah beberapa hari ini Ia tidak mendengar panggilan itu di tujukan padanya.
" Sayang..... anaknya Mama, Ya Allah Nak, ini beneran kamu sayang. "
Tari mendekap tubuh Putra kesayangan nya itu, tak terkira rasa bahagianya melihat Putranya tiba-tiba siuman dan memanggilnya dengan panggilan Mama.
" Ya Allah alhamdulillah, terima kasih sudah mengembalikan nya pada hamba, terima kasih Ya Allah terima kasih. " Batin Tari.
Tak henti- hentinya air matanya mengalir, ternyata hari ini Ia mendapatkan keberkahan, dengan Allah mengembalikan kebahagiaan nya dengan cara menyembuhkan putra tercintanya.
Banyak kejadian berharga hari ini, ada sedih dan juga ada bahagia.
__ADS_1