
Tari menoleh dan tertawa kecil, Ia merasa apa yang di katakan El itu sangatlah lucu.
" Apa kamu sedang membuat lelucon El. "
El menggeleng berulang kali.
" Tidak Ri, apa yang aku katakan adalah benar. Untuk apa aku membuat lelucon, tidakkah kamu berpikir bagaimana pertemuan kita kemarin. Kita sama sama menunggu seseorang yang akan di pertemukan dengan kita, bukankah kita sudah menunggunya sangat lama namun tidak ada siapapun yang datang, hanya kita berdua saja di tempat itu. "
Tari menatap wajah El memastikan kalau Ia sedang bercanda namun seperti nya Pria itu serius dengan apa yang di katakan nya. Tapi, mana mungkin Tante Aini mau menjadikan nya sebagai menantu. Bukankah Tante Aini tahu kalau dirinya hanyalah seorang janda beranak satu dan itupun dari hasil sebuah hubungan yang tidak jelas, dengan kata lain kalau dia adalah wanita yang tidak benar.
Di tempat lain terjadi peperangan panas, terdengar erangan serta lenguhan kedua sejoli yang sedang memadu kasih.
" Yes baby, milikmu selalu membuatku candu. "
Sang wanita juga sangat menikmati berada di bawah kukungan Sang Pria. Ya, meskipun ini hanyalah sebuah pelarian saja karena Pria yang dulu selalu memberinya kenikmatan kini bahkan tak lagi mau menyentuhnya. Tapi siapa yang bisa menahan kalau hasrat sudah menguasai akal sehat.
Bermain dalam irama yang senada dengan keringat yang sudah membasahi tubuh keduanya, seakan tidak ada lelahnya mendaki sampai puncak yang melelahkan tapi juga memberikan
kepuasan tersendiri.
Setelah lama bertempur akhirnya keduanya mencapai puncak secara bersamaan, Sang Pria jatuh lemas di atas tubuh wanita yang tak lain adalah Vania.
Vania menarik tubuhnya menjauh dari Pria yang sudah memberinya kenikmatan selama beberapa jam ini.
" Vani, tinggalkan dia dan hiduplah bersama ku. Aku berjanji akan memperlakukan mu dengan baik, menjadikan mu ratu di hatiku. Ya, hanya kamu, karena aku sangat mencintai mu. "
Sang Pria memeluk tubuh Vania dan mengecup punggung wanita yang saat ini sedang membelakangi nya.
" Tidurlah sayang, kamu pasti lelah. Besok pagi saja baru kamu pulang, setelah tenaga mu pulih kembali. " Bisiknya lagi.
Pagi hari Vania kembali, Ia membersihkan tubuhnya. Menatap cermin yang ada di dalam kamar mandi, tangannya mengepal kuat.
__ADS_1
" Semua ini gara gara kamu El, gara-gara kamu. Gara-gara kamu dan juga wanita sialan itu, aku harus melayaninya. Kenapa El, kenapa kamu berubah sekarang, kenapa tidak kamu rasakan perasaan cintaku ini. " Geramnya dengan nafas tersengal sengal menahan gejolak amarah di hatinya.
Sebagai seorang wanita muda Ia juga menginginkan kebutuhan lain selain dari uang dan juga urusan kampung tengah.
" Apa kamu yakin ini tempatnya Hanya. "
El menatap sekeliling, memastikan tempat yang mereka datangi benar adanya.
" Benar Bos. " Ham mengedarkan pandangannya dan terperanjat melihat sesuatu yang mereka cari.
" Itu dia, bukankah mobil itu sama persis dengan ini. " Han menunjukkan sebuah foto yang selama ini mereka kumpulkan.
El memicingkan matanya dan mengangguk pelan membenarkan ucapan sekertaris nya. Keduanya turun dari sana dan menghampiri mobil tersebut kemudian memastikan keamanan disana namun tidak ada satu pun CCTV yang mengarah langsung ketempat itu.
" Bagaimana mungkin tidak satu pun CCTV disini. " Gumam El pelan.
Penyelidikan mereka seakan mengalami jalan buntu.
" Tunggu dulu, ini kan mobil mewah dan setahuku mobil ini selalu ada disini di jam yang sama, siapa tahu dia punya CCTV jalan yang sengaja di hidupkan. "
" Biar saya saja ke dalam untuk mencari siapa pemilik mobil ini. " Ucap Han
Ia memakai aksesoris nya untuk menyamarkan sedikit wajahnya agar tidak terlihat jelas, lama El menunggu seorang diri di luar hingga datanglah sekertaris Han di susul seorang Pria di belakangnya.
Mereka berbincang dan sekertaris Han mengutarakan maksudnya.
" Kami akan bayar berapa pun itu Pak, asal Bapak bersedia menunjukkan rekaman itu. "
Pria yang sudah nampak tak muda itu lagi segera membuka mobilnya dan memberikan apa yang di minta sekertaris Han.
" Ini ambillah. "
__ADS_1
Han langsung menerima nya sedangkan El langsung merogoh saku celananya bdan memberikan segepok uang pada Pria itu. Namun Pria itu menolaknya.
" Ambil kembali uangnya, aku tidak meminta imbalan. Aku niat membantu, karena bagaimana pun juga ini menyangkut usahaku, masa depanku. " Ucap sang Pria.
El mengambil kembali amplopnya dan membukanya, Ia mengeluarkan beberapa lembar dan memberikannya pada Pria itu.
" Terimalah ini untuk mengganti CCTV yang baru. "
Pria itu akhirnya terpaksa menerima karena tidak punya cara lagi untuk menolak.
" Baiklah kalau begitu, kami permisi dulu. Terima kasih atas waktunya dan juga bantuannya. " Han berpamitan kepada Pria tua itu begitu juga dengan El.
El segera masuk kedalam mobil setelah Han membukakan pintu.
" Bagaimana hasilnya Han. "
Han segera menunjukkan apa yang mereka dapatkan dari Pria itu, mata El semakin memicing melihat apa yang ada di layar laptop milik sekertaris pribadinya.
Nampak dengan jelas rekaman yang mereka butuhkan.
" Itukan aku, tapi sejak kapan aku datang ke tempat seperti ini. Aku bahkan baru kali ini menginjakkan kaki disini. " Gumam El tapi masih terdengar oleh Han.
Keduanya nampak berpikir
" Kalau memang itu bukan Bos, berati ada seseorang yang wajahnya mirip dengan Bos, dan itu yang memang sengaja mereka rekayasa seolah olah Bos yang melakukan itu. "
El manggut-manggut, apa yang di katakan Han ada benarnya juga. Sekarang tugas mereka hanya tinggal menemukan siapa Pria yang wajahnya menyerupai dirinya.
" Kita hanya punya waktu seminggu sebelum peresmian Direktur baru yang akan menggantikan Direktur yang lama yaitu Papa. "
Satu persatu bukti sudah mereka dapatkan, sebenarnya bukan karena jabatan Direktur baru yang El inginkan. Sungguh Ia tidak masalah walau tidak menjadi Direktu sekalipun, bisa mengabdikan diri untuk banyak masyarakat yang membutuhkan itu sudah memberikan kesenangan tersendiri untuknya.
__ADS_1
" Kerahkan semua anak buah kita dan tangkap Pria yang wajahnya menyerupai aku itu. Lakukan tugas kalian dengan benar, kalau dia tidak mau, sandra semua keluarga nya. " Titah El dan di angguki oleh Han.
Setelah mengantarkan El ke kediaman nya, Han segera undur diri. Ia harus segera menyelesaikan tugasnya dengan mulus tanpa mendapatkan kekurangan apa pun.