Super MOM

Super MOM
Mengorbankan diri


__ADS_3

Kevin yang mendapat ancaman dari Hermawan menjadi dilema, bayangan antara dua wanita berbeda usia itu silih berganti mengisi memorinya.


Di tempat lain dua orang yang sejak beberapa hari ini menjadi target pencarian orang akhirnya tidak bisa berkutik setelah timah panas dari pihak berwajib bersarang tepat di kaki kanan para Pria tak berperasaan itu.


" Awww.... sial, siapa sih yang sudah membocorkan tempat persembunyian kita, apa jangan- jangan. "


Dengan langkah yang tertatih tatih Toni menduga-duga banyak hal, bagaimana bisa tempat yang mereka anggap aman tiba-tiba terendus pihak berwajib.


Kembali ke kediaman Atmajaya, peluh sebesar biji jagung sudah membasahi wajah dan juga pakaian Kevin.


" Mas, lakuin sesuatu dong, jangan diam saja. " Bisik Aluna pada El.


" Tenang Dek, kita tidak boleh gegabah. Kamu berdoa saja semoga Mama dan Papa baik baik saja. " Jawab El yang juga berbisik.


Sementara Kevin yang berulang kali mendapat bentakkan keras akhirnya mulai bereaksi setelah lama terdiam.


" Anda benar Tuan Hermawan, kalau wanita ini memang harus segera di lenyapkan agar tidak semakin membuat masalah pada hidup orang lain. Tapi Tuan Hermawan, apakah Anda akan puas kalau kita tembak mati langsung, kenapa tidak kita siksa dulu atau paling tidak kita memintanya untuk mengucapkan kalimat terakhirnya atau apa yang terakhir Ia inginkan, agar nyawanya tidak mati penasaran. "


Hermawan nampak berpikir sejenak, benar juga. Penderitaan nya selama ini sangat berat, masa Ia akan langsung mengeksekusi musuhnya tanpa perlawanan sama sekali.


" Baik, kamu benar. Ya sudah, kamu tanyakan saja apa permintaan terakhirnya setelah itu cepat habisi Dia. "


Kevin tersenyum di sudut bibirnya, sembari menodongkan senjatanya di depan wajah Aini.


" Baiklah Nyonya Atmajaya, sepertinya apa yang di katakan Tuan Hermawan adalah benar. Nyonya harus mendapatkan imbalan dari semua yang sudah Nyonya lakukan selama ini, tapi sebelum itu sepertinya aku ingin mendengar permintaan terakhir Anda. "


Aluna yang melihat senjata yang di arahkan kepada wanita yang begitu di hormati nya seketika berteriak histeris.


" Mas Kevin, sadarlah. Jangan lakukan itu, lihatlah Dia itu Ibu kita. Apa salahnya padamu. "

__ADS_1


Ia berlari ingin melindungi Ibunya namun suara menggema Hermawan menghentikan langkahnya, begitu juga dengan El.


" Jangan bergerak atau aku sendiri yang akan menghabisinya tampa harus mendengar permintaan terakhirnya. "


Akhirnya Aluna dan El hanya bisa berdiri mematung, berharap keajaiban datang.


" Baiklah Nak, Mama tidak punya permintaan terakhir yang rumit. Mama hanya ingin mengatakan kalau Mama bahagia memiliki kamu Nak, Mama juga tidak menyesal kalau harus kehilangan nyawa di tangan anak Mama, semoga kedepannya kamu bisa mendapatkan kebahagiaan yang kamu inginkan. " Jawab Aini dengan tegar, Ia sudah ikhlas dengan semuanya kalau memang hari ini Ia harus kehilangan semua kasih sayang yang Ia dapatkan di dunia ini.


Ruangan yang biasanya menjadi tempat bercengkrama, tempat mencurahkan kasih sayang kini menjadi tempat yang paling menakutkan bagi keluarga Atmajaya.


" Tunggu apalagi Kevin, cepat habisi Dia. " Bentak Hermawan lagi.


Kevin masih berdiri mematung hingga akhirnya terdengar bunyi yang mengerikan di ruangan itu.


" Dooorr, doooorr, Ahhhhh......! "


Suara tembakan dan teriakan menjadi satu, bersamaan dengan kegaduhan di luar. Beberapa pria berseragam lengkap datang berlarian.


Sebuah suara memanggil Mama membuat Aini membuka mata, Ia melihat Kevin memeluknya. Pandangannya beralih pada semua kekacauan di ruangan itu. Ia merasakan tidak ada sakit apapun di tubuhnya dan segera membalas pelukan Kevin, namun Ia terkejut ketika melihat tangannya berlumur darah setelah mengelus belakang Putra keduanya itu.


" Ke, Kevin anakku. " Jerit Aini setelah melihat tangannya yang berlumur darah.


Sementara polisi sibuk mengamankan Hermawan yang terkena tembakan salah satu dari pistol pihak berwajib, El dan Aluna segera berlari melihat Ibunya.


" El sayang, bantu Adik mu. Cepat tolong Dia. " Jerit Aini.


Kevin hanya tersenyum meskipun kesadaran nya sudah hampir hilang, namun Ia bahagia setelah melihat wanita yang selama ini menyayanginya baik baik saja.


" Maafkan Kevin Ma, maaf..... ! " Kevin mencium lembut tangan yang selama ini selalu memberikan kehangatan padanya.

__ADS_1


El di bantu yang lain akhirnya mengangkat tubuh Kevin dan membawanya kedalam mobil agar segera di larikan kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.


" Segera ke rumah sakit Pak. " Pinta El yang duduk di belakang memeluk tubuh Kevin yang masih terus mengeluarkan darah segar.


Wajah pucatnya nampak tersenyum, Ia memilih mengorbankan dirinya menjadi sasaran timah panas dari Hermawan yang sebenarnya di arahkan pada Aini.


flashback on.


Kevin yang terkurung di dalam ruangan pengap dan gelap itu samar samar mendengar ucapan seseorang yang begitu sangat Ia kenal, tangannya mengepal ketika baru mengetahui sebuah kenyataan yang menyakitkan hati. Ia ingin keluar dan menghabisi mahluk tidak berperasaan itu, namun apalah dayanya. Tubuhnya juga sudah mulai kehilangan kesadarannya.


Di tengah keputusasaannya Kevin memohon agar Ia bisa keluar dari tempat itu.


" Ya Allah, ijinkan aku keluar dari ruangan ini dan berlutut meminta maaf pada mereka yang sudah aku sakiti. "


Ia baru mengetahui bahwa selama ini Ia membenci orang yang salah, selama ini Ia selalu mendengar apa yang di katakan Hermawan dan membenci keluarga yang begitu menyayanginya.


Hingga akhirnya takdir menjawab keinginannya, pintu tiba-tiba terbuka. Namun alangkah terkejutnya Ia setelah mendengarkan tangisan Tiara, Putrinya bersama Vania.


Hermawan mengancam akan membunuh Putrinya itu kalau Ia tidak mau menuruti permainannya, tentu saja Kevin tidak ingin hal itu terjadi. Putrinya masih kecil dan masa depannya masih panjang.


" Aku mohon Om, jangan sakiti Dia. Dia masih kecil dan tidak tau apa apa, dan bukannya dalam hal ini seharusnya Om lindungi Dia. "


Hermawan tertawa keras, saat ini Ia tidak peduli apapun. Di hatinya hanyalah menghabisi seorang yang menjadi penyebab kehancurannya, yang membuat dirinya bahkan tidak menikah hingga di usia senja.


" Aku tidak peduli asal usul kalian, yang penting saat ini wanita itu harus mati. Kau tinggal pilih saja, Putrimu atau wanita sialan itu. "


flashback off.


Mobil yang di kendarai Bagus juga melaju dengan kecepatan penuh mengejar mobil yang membawa tubuh Kevin, Aini terus terisak di pelukan Aluna.

__ADS_1


" Mas, lebih cepat lagi. Semoga Kevin baik baik saja. "


Bagus tersenyum Ia juga khawatir seperti Istrinya dan berharap Putranya baik baik saja.


__ADS_2