
Ingin bertanya langsung namun Tari langsung ikut berlari masuk, nampak sekali kepanikan di wajahnya.
" Mas Ilmi. " Tiba-tiba Tari menghentikan langkahnya.
Ilmi yang juga ikut berlari di belakang Tari tiba-tiba ngerem mendadak, kalau tidak mungkin tubuhnya akan bersarang di tubuh Dokter cantik itu.
" Iya Ri, ada apa. " Tanya Ilmi setelah berhasil menetralkan degub jantungnya.
" Apa pasien tadi sendiri atau bersama orang lain. " Akhirnya Tari bertanya karena Ia benar-benar mulai di liputi rasa takut.
Ilmi menggeleng sambil mengingat perjumpaan mereka.
" Tidak sayang, tadi Mas dan supir menemukannya di jalan sedang berkelahi dengan beberapa orang. " Jawab Ilmi seadanya.
Tari menghela nafas lega, namun belum bisa sepenuhnya senang karena belum mengetahui kabar yang sebenarnya.
" Baiklah, apa kamu menemukan milik pasien misalkan laptop atau apa gitu. "
Ilmi mengangguk karena memang sebelum pergi meninggalkan tempat kejadian, Dani di perintahkan mengambil laptop milik Pria itu di mobilnya yang juga sudah retak di beberapa bagian.
" Kalau boleh aku minta tolong bawakan laptop pasien keruangan ku. Untuk sekarang Mas jangan banyak tanya dulu, nanti Tari ceritakan apa yang sebenarnya. Tapi sekarang yang terpenting bantu Tari dulu. "
Meskipun bingung tapi Ilmi tetap menuruti permintaan Tari, sementara Tari dan para Dokter lain berjibaku memberi pertolongan pada sekertaris Han di tempat lain terjadi keributan.
" Bagaimana tugas kalian, apa kalian menemukan rekaman itu. " Tanya seseorang pada beberapa Pria berbadan sangar.
Beberapa Pria berpandangan dan kemudian menunduk ketakutan.
" Jawab.... aku bertanya kepada kalian, kenapa kalian malah menunduk dan diam, apa kalian mendadak bisu. " Bentuknya dengan suara keras.
" Maaf Tuan, tapi kami tidak berhasil mengambil rekaman itu, karena ada mobil polisi yang lewat sebelum kami bisa melumpuhkannya. Tapi jangan khawatir, salah satu di antara mereka mungkin sudah tidak bernyawa lagi. "
Seseorang memberanikan diri menjawab pertanyaan Bos besar mereka.
Plak
Plak
__ADS_1
Plak
Plak
Secepat kilat keempat Pria itu sudah memegang pipi dan juga perut masing-masing karena mendapatkan tamparan di sambung dengan bogem mentah dari Pria yang sedari tadi menatap mereka murka.
" Bodoh......! Aku tidak peduli dengan nyawanya, yang aku inginkan rekaman itu. Sekarang aku tidak mau tau, pergi dan pantau orang itu, ambil rekaman itu kalau ada kesempatan, aku tidak ingin mendengar kata gagal lagi dari mulut kalian. "
Keempat Pria itu lari kocar-kacir sebelum mendapatkan serangan susulan.
" Bodoh...... bodoh semua ! Tidak ada satupun yang bisa di andalkan. "Teriaknya keras memenuhi seisi ruangan.
Ruangan yang semula rapi kini tak berbentuk lagi, pecahan dan kertas berserakan dimana-mana. Giginya gemerutuk berbunyi seiring kemarahannya yang hampir sampai di ubun ubun.
Atmajaya corporation
Setelah melalui perdebatan panjang akhirnya hasil putusan rapat memilih Axell leonel Atmajaya sebagai direktur utama rumah sakit cabang surabaya. Semua orang akhirnya bisa tersenyum bahagia, tak terkecuali mereka yang awalnya meragukan Putra dari pemilik rumah sakit tersebut. Kini mereka bisa menyerahkan saham mereka di tangan yang tepat.
Kevin keluar dari ruang rapat dengan emosi yang masih menguasai dirinya, hari ini Ia di permalukan di dalam ruang rapat. Bertambahlah kebenciannya pada orang-orang yang Ia yakini adalah keluarganya selama ini.
Sebelumnya Bayu ingin langsung membawa Kevin ke pihak berwajib untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, namun El melarangnya. Ia tidak mau kebencian saudaranya itu semakin menjadi jadi, saat ini bukan hukuman yang harus di berikan padanya, namun ada yang lebih penting dari itu. Mereka harus meluruskan kesalah fahaman yang sudah terjadi pada keluarga mereka.
Kevin berontak berusaha melepaskan diri dari beberapa Pria yang tiba-tiba menangkapnya.
" Lepaskan aku, kenapa kalian menangkap ku. Lepaskan bodoh..... ! "
Sekuat apapun Dia berontak tetap saja tidak membuahkan hasil, pergerakannya justru membuat tubuhnya terkunci dan tak bisa bergerak lagi.
" Diam Tuan Muda, sebaiknya Tuan muda menyerah dan ikut kami secara baik baik. Ingat, meskipun Anda adalah Tuan Muda di keluarga Atmajaya tapi kami tidak akan segan segan menghilangkan nyawa Anda kalau Anda mempersulit tugas kami. " Bentak salah seorang bodyguard Pak Bagus, suaranya bahkan lebih menyeramkan di banding suara Kevin sendiri.
Pria itu paling terkenal kejam di antara semua, bukan hanya kejam tapi dia adalah bodyguard paling lama dan terpercaya. Di tangannya sudah banyak nyawa yang melayang, kekejamannya tanpa ampun. Tentu saja Kevin tau soal itu karena dirinya sudah lama berada di kediaman Atmajaya.
Kevin akhirnya menyerah dan ikut masuk kedalam mobil.
" Michel, kamu ambil kemudi biar aku yang jaga disini, jadi kalau dia berontak akan langsung aku pataskan saja tangan dan juga lehernya. "
Pria bernama Michel segera mengangguk dan membuka pintu disamping kemudi, Ia kemudian melajukan mobil ke mansion yang di maksud.
__ADS_1
" Nak, tunggu. Kamu mau kemana. " Tanya Bagus pada Putra sulungnya.
" Pa, El harus mencari Han, tadi El tinggalkan disana sendirian, semoga dia tidak kenapa kenapa. " Jawab El.
Dari wajahnya nampak sama sekali tidak ada kebahagiaan seperti yang seharusnya setelah Ia memenangkan suara terbanyak dan menjadi direktur utama rumah sakit cabang di kota ini.
" Iya Nak, hati hati. Kalau sudah ketemu kamu langsung nyusul ke mansion utama ya. "El hanya mengangguk dan pergi dari sana memakai motor miliknya yang Ia tinggalkan di tempat itu.
El melaju dengan kecepatan penuh hingga tak memerlukan waktu lama untuk tiba di tempat kejadian. Di parkirkannya motornya di pinggir jalan, Ia mencari dan memanggil sekertaris Pribadinya itu.
" Han....... ! " Panggilnya berulang ulang.
Ia membuka mobil miliknya yang masih terparkir seperti semula namun tidak menemukan Han disana.
" Ya Tuhan, dimana Dia. Tolong selamatkan Dia, semoga ada yang menyelamatkannya Ya Tuhan...... jangan biarkan Dia pergi. "
El mengusap wajahnya kasar serta mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia merogoh ponselnya ingin menghubungi seseorang namun tiba-tiba ponsel itu berdering. Dengan segera Ia menerimanya.
" Iya Ri, ada apa. " Tanya El langsung.
" Ya, aku baik baik saja, tapi....
" Baik, baik.... aku akan segera kesana, terima kasih. "
Tak menunggu lama El segera melajukan motor miliknya menuju rumah sakit miliknya sendiri.
" Alhamdulillah Ya Tuhan, alhamdulillah terima kasih. " Tak henti hentinya bibirnya mengucapkan syukur karena Ia bisa mendapatkan kabar sekertarisnya itu.
Meskipun belum tau bagaimana kondisinya, paling tidak Ia sudah bersyukur bisa menemukan sekertarisnya itu.
Motor di parkirkan sembarang arah, lebih tepatnya tidak di parkirkan. Ia bahkan lupa mencabut kuncinya dan langsung berlari.
" Dokter. " Beberapa orang menyapanya namun tidak di hiraukan oleh El.
Ia terus berlari sampai di depan ruangan VVIP, tanpa menunggu Ia langsung membuka pintu ruangan itu. Langkahnya memelan ketika melihat tubuh sekertarisnya terbujur di atas brangkar rumah sakit.
__ADS_1