
Sore hari Vania kembali mengajak Tiara kesebuah tempat, Tiara sangat bahagia sekali. Ia mengira kalau Vania akan mengajaknya kembali kerumah sakit.
Vania menghela nafas ketika memandangi sebuah bangunan bertingkat di depannya, tiba-tiba timbul keraguan dihatinya.
" Ma, kok nggak jadi masuk. " Tanya Tiara.
Meskipun Ia agak terkejut karena Vania ternyata mengajaknya ketempat itu, namun Tiara tidak ingin bertanya hal yang akan membebani pikiran Ibunya.
" Yuk Ma. " Ajak Tiara.
Vania akhirnya ikut masuk, namun ketika didalam rumah mereka malah disuguhkan sebuah pemandangan yang membuat langkah mereka terhenti.
" Maaf Ma, untuk saat ini biarkan Arka sendiri. "
Tari ingin membujuk Putranya namun El melarang nya.
" Ri, sudah. Tidak apa- apa, jangan di paksakan. Biar pelan- pelan saja. "
Tari yang memang saat ini sedang lelah memilih duduk namun kemudian Ia melihat kehadiran Vania dan juga Tiara.
" Ri........ El. " Sapa Vania.
El yang melihat Tiara langsung menghampiri Putri kecilnya itu, begitu juga dengan Tari. Ia meminta Vania untuk duduk.
" Hai sayang. "
" Hai juga Pa, eh... Om El. " Tiara meralat ucapannya.
El menggeleng dan menoel hidung mancung Tiara, Ia tertawa kecil.
" Tidak apa- apa Nak, panggil Papa juga boleh. Papa juga kan Papanya Tiara. "
Tiara mengangguk dengan senyuman mengembang di wajah cantiknya.
***
__ADS_1
Tiara melangkah pelan setelah beberapa saat Ia berdiri memperhatikan seseorang.
" Hai. "
Arka melihat sebuah tangan memegang tisu terulur kearahnya, kemudian Ia kembali berkutat dengan pikiran nya. Melihat itu Tiara tidak putus asa, Ia kembali memberikan coklat pada Arka.
Arka menatap Tiara dengan tatapan tajam
" Untuk apa kamu kemari, keluar....! Jangan ganggu aku. "
Arka mengambil coklat dari tangan Tiara dan membuangnya ke sembarang arah. Di luar pintu Tari ingin masuk dan menegur anaknya karena telah membentak Tiara namun di tahan oleh Vania.
Keduanya ikut naik diam- diam keatas setelah Tiara ijin menemui Arka.
" Tidak apa- apa Ri, biarkan saja. "
" Tapi Vania. "
Vania menggeleng pelan seolah mengatakan semua akan baik- baik saja dan benar saja, bukannya marah akan perlakuan Arka padanya. Tiara malah tersenyum dan mengambil coklat itu kembali.
Tiara malah duduk tepat di depan Arka dengan wajah imutnya.
" Ada apa hm..... ini enak loh. "
Tiara tidak berputus asa, Ia memberikan kembali coklat yang Ia pegang ke tangan Arka. Namun lagi-lagi Ia mendapat penolakan serta bentakkan keras dari Arka.
" Kamu faham nggak sih Ra, tinggalkan aku sendiri. "
Untuk yang kedua kalinya Tiara mulai ikut tersulut emosi.
" Kenapa ha, kamu marah- marah tidak jelas. Aku datang kemari baik- baik ingin bertemu dengan mu. Tapi apa, kamu memperlakukan aku seperti ini. "
Kali ini giliran Vania yang merasa tidak enak pada Tari karena Tiara berkata keras pada Arka. Ia ingin menghampiri Tiara namun di tahan oleh Tari.
" Aku sudah bilang sama kamu, pergi.....! Aku ingin sendiri. "
__ADS_1
" Kenapa ? Kamu marah pada semua orang Arka. Marah karena apa, apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan mereka karena kamu diamkan seperti ini. "
Tari dan Vania saling pandang, Vania menahan nafas. Ia tidak tau bagaimana Putri kecilnya yang biasanya diam kini bisa berubah dan berkata kata seperti saat ini. Padahal Ia sendiri tidak pernah mengajarkan hal semacam itu.
" Ra, sebaiknya kamu diam. Kamu tidak tau apa- apa soal aku, kamu bisa mengatakan ini karena kamu tidak mengalami semua hal yang aku alami saat ini. " Suara Arka mulai memelan.
" Siapa bilang, siapa bilang kalau aku tidak mengalami apa yang kamu alami saat ini. " Tiara melipat kedua tangan di dadanya.
Arka mendongakkan wajahnya, menatap wajah Tiara dengan tatapan penuh tanda tanya.
" Hm...... Aku dulu mengira kalau Om El adalah Papaku, tapi ternyata bukan. Aku baru tau dari
Mama kalau Papaku ternyata adalah orang yang bahkan selama ini belum pernah aku temui. Arka.... bukankah kita punya nasib yang sama. Coba katakan padaku, apa aku juga harus membenci Papaku, padahal selama ini aku sangat ingin bertemu dengan sosok itu. Arka, kita memang belum tau apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang membuat orang tua kita menutupi semua ini dari kita. Tapi aku yakin Ar, kalau orang tua kita pasti punya alasan yang kuat di balik ini semua. "
Arka tidak lepas memperhatikan wajah Tiara sejak tadi, ketiga gadis kecil itu berbicara panjang lebar padanya.
" Mungkin kamu benar Ra, tapi sayangnya aku tidak sekuat kamu. Tolong tinggalkan aku sendiri. "
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Arka kembali meminta Tiara untuk meninggalkannya seorang diri. Sementara itu diluar Vania dan juga Tari bergegas melarikan diri sebelum ketahuan mengintip.
" Baiklah Ar, aku akan pergi. Tapi Ar, dengarkan aku. Mungkin kita memang tidak seberuntung dibandingkan teman- teman kita yang lain di luaran sana. Tapi bukan berarti kita tidak berhak bahagia, baik kamu atau aku, kita. Ya kita, kita sama- sama ingin merasakan keluarga yang utuh, dan untuk itulah Ar. Mungkin kita di paksa berpikir dewasa melebihi dari umur kita, tapi aku yakin Ar. Kalau kamu mencoba membuka hati dan menerimanya dengan ikhlas maka hatimu akan tenang. "
Tiara menghela nafas berat dan melangkah pergi meninggalkan Arka seorang diri.
" Ra, makasih. "
Tiara menghentikan langkahnya dan tersenyum ketika Arka mengucapkan terima kasih padanya. Tiara mengajak Ibunya pulang karena Ia juga merasa lelah.
" Ma, kita pulang sekarang yuk. " Ajak Tiara.
Tiara berpamitan pada Tari, Dokter cantik itu memeluk erat tubuh Tiara. Tiara tersenyum dan kemudian mencium punggung tangan Tari sebelum akhirnya mereka meninggalkan tempat itu.
Didalam mobil Tiara diam membisu, Ia menunduk sembari mengusap bulir bening yang jatuh di pipinya agar sang Ibu tidak melihatnya.
Berusaha menjadi kuat dan memahami keadaan yang Ia sendiri tidak mengerti ternyata tidak mudah, tapi ini semua harus Ia lakukan. Semua itu hanyalah semata-mata Ia tidak ingin menyakiti hati Ibunya.
__ADS_1