
Maudy melangkah tergesa-gesa, memasuki halaman rumah.
" Aku harus cepat masuk, tidak boleh ketahuan Tari. " Gumamnya seraya mempercepat langkahnya.
Pak Ardi yang melihat tingkah majikannya itu menjadi heran, tidak lama kemudian mobil Tari juga memasuki halaman rumah. Ia heran melihat ada yang aneh disana.
" Pak Ardi, apa Mama tadi baru dari luar. " Tanya Tari namun tidak mendapat jawaban dari Pak Ardi.
Ardi ragu untuk menjawab pertanyaan Tari karena melihat tingkah majikan besarnya yang aneh.
" Ah sudahlah Pak, lupakan saja. Aku masuk dulu. "
Tari melangkah masuk dengan pikiran yang masih berkecamuk.
" Aneh, tidak biasanya Mama tidak memarkirkan mobilnya dengan benar. " Batin Tari.
" Sayang..... ! Kapan sampainya, udah lama ya. Loh, kok wajahnya di tekuk begitu. Gimana tadi pertemuan nya, Mama penasaran deh. "Maudy langsung menyambut Tari dengan senyuman.
Tari duduk di sofa begitu juga dengan Maudy.
" Nggak ada Ma, maaf karena Tari mengecewakan Mama kali ini. Tadi Tari sudah nungguin disana tapi sampai hampir satu jam Pria itu nggak nongol juga, jadi Tari putuskan pulang saja. "Jawab Tari merasa tidak enak hati.
Maudy tersenyum dan meraih dua tangan Tari dan mengelus nya pelan.
" Tidak apa apa sayang. "
" Tapi Ma.....
" Sudah tidak apa apa, kan masih ada lain waktu. Nanti kita atur waktu untuk ketemuan lagi atau mungkin bisa bareng Mama sama orang tua Pria itu. "
Tari menghela nafas, sudah terlanjur Ia setuju. Mungkin ini memang sudah takdirnya begitu batinnya bergumam.
" Iya Ma, Mama atur saja waktunya. Oh ya Ma, Tari naik ke atas dulu ya. "
Maudy mengangguk, melihat raut wajah Tari membuat Maudy sedikit merasa bersalah karena menyetujui usul Aini. Seharusnya Ia katakan saja apa yang sebenarnya.
" Maafkan Mama Nak. "
__ADS_1
Di tempat lain Vania merogoh ponselnya karena ada sebuah notif dari ponsel itu.
" Apa ini. " Gumam Vania ketika melihat beberapa foto yang di kirimkan seseorang yang Ia kenal.
Karena penasaran Tari langsung menghubungi si pengirim gambar. Tidak butuh waktu lama panggilan nya pun terhubung.
" Apa maksudnya ini Mas. " Tanya Vania langsung ketika panggilan tersambung.
Ia mendengarkan dengan seksama dengan tangan mengepal begitu keras.
" Sial, rupanya kau ingin main main dengan ku. " Geram Vania dengan kilatan kemarahan di matanya.
***
Vania masih setia menanti seseorang meskipun waktu yang di janjikan keduanya sudah lewat, setelah hampir satu jam menunggu akhirnya orang yang di tunggu pun tiba.
" Ada apa sih ngajakin ketemuan, di tempat seperti ini lagi. "
El langsung protes dan bertanya perihal Vania mengajak dirinya bertemu. Vania yang awalnya ingin marah dan semua kekesalan meluap luap di dadanya entah lemah ketika melihat kehadiran El, Ia tersenyum lembut menyambut Pri itu.
El melirik jam yang melingkar di tangannya, hari ini Ia sangat lelah. Operasi yang baru saja selesai sangat menguras pikiran nya, rasanya Ia ingin pulang dan berendam di air hangat namun permintaan Vania juga tidak bisa Ia tolak.
" Kamu saja yang makan, aku sudah kenyang. " El terpaksa berbohong padahal Dia juga belum makan sama sekali.
Hari ini benar-benar melelahkan, bukan hanya jadwal operasi namun juga masalah permintaan Ibunya yang belum terealisasikan.
" Kenapa diam, kenapa nggak jadi pesan makanannya. " Tanya El lagi, Vania tersenyum menanggapi pertanyaan Erik.
" Aku lupa kalau aku juga sudah makan, mungkin karena terlalu bahagia bertemu dengan mu makanya otakku nggak berfungsi dengan baik. " Jawab Vania.
El menggeleng pelan
" Baiklah kalau begitu, lalu apa tujuanmu mengajakku bertemu. "
Vania menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan.
" Apa tidak ada kesempatan lagi untukku El, cobalah lupakan semuanya dan kembali bersamaku lagi. Kita ulang semua dari awal karena Aku masih sangat mencintaimu. "
__ADS_1
El tersenyum miring, cintanya pada wanita itu sangatlah besar namun kenyataan yang di berikan wanita itu sangat pahit sehingga sulit untuk di toleran.
" Cinta.... saat ini aku sedang tidak memikirkan cinta Vania, apalgi cintamu. "
Giliran Vania yang tersenyum miring
" Jangan membodohi ku El, kamu bilang tidak ingin memikirkan cinta, lalu apa yang sudah kamu lakukan di belakang ku. " Vania mulai tersulut emosi.
" Maksud mu apa Vania, apa yang aku lakukan. "
El mendadak bingung, setiap hari Ia sibuk bekerja dan memang untuk saat ini Ia tidak ingin memikirkan hal yang aneh.
" Kamu pikir aku tidak tahu El kalau kamu sedang di jodohkan dan kamu menerimanya. Apa kamu nggak pernah memikirkan bagaimana perasaan Tiara ketika Ia tahu Ayahnya ingin menikah lagi dengan orang tua dari temannya sendiri. "
El semakin bingung mendengar ucapan Vania.
" Teman, apaa maksud mu Vania. " Tanya El kemudian.
" Kamu pura-pura bodoh apa pikun, kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu di jodohkan sama wanita kampung itu dan bodohnya kamu malah menerima nya. " Nada suara nya mulai meninggi.
El menggeleng geleng pelan.
" El, apa sih yang Dia punya sekarang dan yang aku tidak punya dari dia. Tidakkah kamu merasa kalau dirimu sangatlah aneh, apa jangan jangan kamu di guna guna sama dia sampai sampai kamu tega meninggalkan kami demi dia. "
El menatap wajah Vania bingung, Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud dari ucapan Vania.
" Apa maksudmu, dan Dia.... Dia siapa yang kamu maksud. "
Vania menatap tak percaya pada El, bagaimana bisa Ia berpura-pura sampai sesukses ini.
" Sudahlah El, bukanlah kamu di jodohkan dengannya. El, tidakkah kamu ingat bagaimana dulu kamu membenci nya, bahkan mendengar namanya saja kamu ilfeel lalu kenapa sekarang kamu malah ingin menikah dengannya. "
El akhirnya kembali setelah perdebatan panjang dirinya dan juga wanita yang selama beberapa tahun bertahta di hatinya.
" Benarkah, jadi wanita yang di jodohkan Mama adalah Tari, tapi kenapa. " Gumam El.
Ingatan nya kembali pada pertemuan keduanya sore tadi, bahwa mereka sama sama menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Ia ingin segera kembali dan menanyakan nya langsung pada wanita yang sudah melahirkan nya itu.
__ADS_1