
Entah sudah berapa lama Maudy menangis dalam pelukan kakak laki lakinya itu dan Aini pun tidak mempermasalahkan hal itu.
Tari yang baru masuk langsung terkejut melihat Ibunya menangis dalam pelukan seorang Pria yang Ia juga tahu itu siapa.
" Assalamu'alaikum, Mama...... ! " Tari melangkah lebih cepat ke arah sang Mama.
" Waalaikum salam, Nak !. " Jawab Maudy perlahan mendongak melihat sang Putri yang sudah berdiri tepat di belakangnya.
Tari melihat wajah kacau Ibunya, Ia benar-benar khawatir.
" Ada apa Ma, ada apa. Tenang Ma, jangan seperti ini ada Tari disini. " Tari memeluk Maudy begitu juga Maudy, Ia memeluk erat tubuh Putrinya.
Aini dan juga Bagus pun ikut terharu melihat kasih sayang keduanya yang cukup besar meskipun mereka bukan sepasang Ibu dan anak kandung.
Aini bahkan ikut menitikkan air mata sedangkan Pak Bagus lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak nampak kalau dirinya juga menitikkan air mata.
" Sini Ma, duduk dulu. "
Tari membimbing Maudy duduk di sofa setelah merasa tangis wanita itu mulai mereda.
" Tidak biasanya Mama Tari yang cantik, baik, kuat dan hmm apalagi ya, pokoknya paling the best deh, kenapa menangis seperti ini Ma. "Tari bertanya pelan tapi penuh dengan candaan agar Ibunya itu bisa tersenyum dan benar saja, usahanya berhasil.
Wanita yang sejak tadi menangis itu perlahan menampilkan senyum indahnya meskipun hanya terbit di sudut bibirnya saja.
" Nah gitu dong, senyum.... kan cantiknya bertambah. Tari nggak mau lihat Mama menangis lagi, oke. "
Maudy mengangguk pelan, selama Tari masuk dalam kehidupannya memang hidupnya jadi berubah.
" Apa sekarang sudah lebih baik, kalau Mama sudah tenang bisakah Mama ceritakan ke Tari ada apa. Apa yang menyebabkan Mama menangis seperti ini. " Masih dengan suara lembut, Ia tidak mau membuat wanita di dekatnya itu semakin bersedih.
Maudy melirik kedua saudaranya bergantian, hal itu membuat Tari meyakini kalau memang ada masalah serius dan itu menyangkut dua orang di depannya.
" Ya sudah Ma, kalau Mama belum mau cerita tidak apa apa. Apa Mama mau istrahat, biar Tari antar ke kamar sekarang. " Maudy diam dan menurut saja ketika Tari membimbingnya meninggalkan ruang tengah.
" Tante, Om. Tari pamit sebentar ya, mau ngantar Mama ke kamar dulu buat istrahat. "
Aini dan juga Bagus mengangguk, mungkin memang saat ini lebih baik adiknya itu istrahat agar pikirannya sedikit tenang. Setelah memastikan Ibunya itu baik baik saja, Tari segera turun ke lantai bawah menemui kedua orang tua El, Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sehingga membuat Ibunya nampak begitu bersedih.
__ADS_1
" Maaf Tante, Om. Agak lama. "
Aini dan Bagus tersenyum menyambut kedatangan Tari, mereka berdua serentak menggeleng pelan bahkan berkata serentak.
" Nggak apa apa Nak. " Jawab keduanya serentak seperti sudah janjian. Melihat itu Tari merasa lucu, Ia duduk di sofa menemani keduanya.
" Maaf Tante. Kalau Tari boleh tahu, ada apa sebenarnya. Kenapa Mama sedih banget seperti tadi, tidak biasanya Mama menangis. " Tari bertanya pelan
Aini dan juga Bagus saling melemparkan pandang, mereka ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Kenapa Tan, apa masalah itu sangat pribadi sehingga Tari tidak boleh mengetahuinya. Tapi apapun masalahnya kalau sudah menyangkut Mama, Tari mohon Om dan Tante mengatakan nya pada Tari. Bagaimana cara Tari menenangkan Mama kalau Tari sendiri saja tidak tahu masalah apa yang sedang di hadapi Mama. "
Aini menghela nafas berat, mungkin mereka harus mengatakan semuanya karena memang masalah ini harus secepatnya mendapatkan jalan keluar.
" Sebelumnya maafkan kami Nak. " Tari masih tersenyum mendengar permintaan maaf wanita yang masih nampak cantik meskipun di umur yang sudah tak muda lagi.
" Ini semua mengenai Arka, yang ternyata Dia adalah....
Raut wajah Tari seketika langsung berubah, perasaan nya langsung tidak nyaman.
" Cukup Tante. " Suara Tari memotong ucapan Aini.
" Ikut Tari. " Ucap Tari tiba-tiba.
Aini dan juga Bagus saling pandang dan mengangguk, mereka berdua mengikuti langkah kaki Tari menuju sebuah ruangan, Bagus yang masuk terakhir segera menutup pintu.
" Silahkan duduk. "
Meskipun hatinya bergejolak namun Ia tetap berusaha untuk bersikap normal, sungguh pengendalian diri yang bagus begitu penilaian Bagus ketika melihat wanita muda di depannya saat ini.
Bagus dan Aini duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangan itu sedangkan Tari menarik kursi kerjanya untuk Ia duduki.
" Silahkan. "
Meskipun khawatir namun Tari juga penasaran, Ia ingin tahu apa yang kedua pasangan suami istri itu katakan sebelum nya. Tari sengaja mengajak keduanya kedalam ruang kerjanya karena tidak ingin pembicaraan mereka di dengar oleh orang lain.
Bagus dan juga Aini saling dorong dorongan, siapa yang akan memulai pembicaraan lebih dulu. Sikap keduanya tidak luput dari pandangan Tari.
__ADS_1
" Om, Tante. Ada apa. "Tanya Tari tiba-tiba.
" Cucu. "Jawab kedua orang tua itu bersamaan karena terkejut.
Entah mengapa keduanya menjadi gugup ketika berhadapan langsung dengan Tari, bahkan Bagus yang tiap harinya selalu berhadapan dengan saingan saingan bisnisnya tidak pernah sampai gugup seperti yang terjadi saat ini.
" Cucu. Ada apa dengan cucu Om Bagus, Tante Aini. "Suara Tari terdengar menakutkan di telinga Bagus dan Aini.
Tari masih menunggu kedua orang tua dari El itu membuka suara agar Ia tahu apa yang sebenarnya mereka berdua inginkan.
" Apa Om dan juga Tante akan diam saja, tanpa mengatakan apapun. "
Mendengar suara Tari akhirnya Aini memberanikan diri membuka suara, meskipun sebenarnya Ia ragu.
" Sebelum nya maafkan kami Nak Tari, maaf karena kami semua menjadi penyebab penderitaan mu selama ini. Maafkan El juga yang sudah berlaku buruk terhadap mu dan tidak bertanggung jawab pada waktu itu sehingga membuat Nak Tari berjuang seorang diri melahirkan Arka, cucu kami. "
Tari menggigit bibir bawahnya, mengepal kuat kedua tangannya, menahan kesedihan amarah di dalam hatinya yang berkobar agar tidak meluap saat itu juga.
" Nak, maafkan Papa. Papa tahu El salah di masa lalu, tapi kalau boleh Papa memohon, tolong jangan halangi kami untuk dekat dengan cucu kami, cucu kandung yang sudah sangat kami harapkan selama ini. "
Bagus ikut mengeluarkan suaranya, dengan sedikit bergetar beliau begitu hati-hati mengatakan maksud mereka agar tidak menyakiti hati wanita muda di depannya.
" Apa sudah cukup bicaranya. "
Lagi lagi Aini dan Bagus hanya saling pandang.
" Karena Om dan Tante sudah mengetahui semuanya Tari tidak bisa berbuat apa apa, tapi Tari mohon tolong Om dan Tante jangan pisahkan kami berdua. Selama ini kami selalu bersama, Arka adalah kekuatan Tari, nyawa Tari. Lagipula Arka juga belum tahu siapa kalian dalam hidupnya. "
Meskipun pengendalian emosi nya selama ini sangat baik, tapi kali ini suara nya bergetar hebat bahkan mata dan juga wajahnya memerah karena berusaha meredam amarahnya agar tidak meledak dan memarahi kedua orang yang lebih tua darinya itu.
" Tolong tinggalkan Tari sendiri, Tari butuh waktu. "Lama terdiam akhirnya Tari mengangkat wajahnya dan meminta keduanya untuk keluar.
Aini dan juga Bagus saling pandang dan mengangguk, Aini keluar lebih dulu.
" Nak, jangan takut. Papa tidak akan pernah memaksa kamu Nak, apalagi kalau kamu sampai berfikir Papa akan berbuat kejam dengan memisahkan kalian berdua, itu tidak akan pernah terjadi. Arka akan selamanya bersamamu, kami hanya meminta kesediaan mu agar kami bisa sesekali bertemu dengannya ketika kami merindukannya. "
Melihat Tari yang diam, Bagus akhirnya memilih keluar dari ruangan itu, tak lupa juga Ia menutup pintu.
__ADS_1
Tubuh Tari akhirnya luruh ke lantai, kekuatan nya yang coba Ia perlihatkan di depan orang tua dari Pria masa lalunya kini menguap sudah. Ia bukan siapa siapa, hanya wanita lemah yang mencoba bersikap tegar agar tidak mudah di hancurkan oleh kerasnya kehidupan ini.
Menangis sejadi jadinya di ruangan kedap suara itu seorang diri, Ia menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Bayangan masa lampau yang kelam dan menyakitkan kembali berputar putar di memori ingatannya.