Super MOM

Super MOM
Ancaman misterius


__ADS_3

El mengunjungi Putra sulungnya di kediaman Maudy, karena sudah beberapa hari ini Ia tidak punya waktu untuk sekedar berkunjung dan menyapa Putranya itu.


" Putra kita mana Ri " Tanya El ketika bertemu dengan Tari.


Tari mendengus kesal mendengar kata ' Kita ' di sematkan El pada anak semata wayangnya.


" Jaga ucapan mu El, dunia luar sedang tidak baik baik saja. Jangan kamu buat masalah tambah rumit, satu saja celah yang kamu ciptakan maka akan semakin banyak masalah yang muncul. Aku tidak mau semua yang terjadi saat ini mengancam keselamatan nya "


El nampak berpikir serius


" Bagaimana kalau aku umumkan saja kalau Arka adalah Putraku, jadi tidak akan ada yang berani mengganggunya lagi "


Tari tertawa kecil, sungguh Ia merasa El kali ini sangatlah bodoh.


" Apa kamu sudah hilang akal El, sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengatakan semua padanya pada publik. Kamu tahu El kalau musuhmu sekarang ini bisa saja ada dimana mana bahkan di dekat mu, tolong fokuslah pada masalah mu saat ini. Setelah semua selesai aku janji tidak akan melarang mu mengatakan pada Arka siapa kamu sebenarnya, tapi ingat apapun nanti keputusan nya jangan paksa dia "


El mengangguk, Ia setuju dengan apa yang di katakan Tari.


" Bagaimana El, apa kalian sudah mulai melakukan penyelidikan nya "


El dan yang lainnya berkumpul di ruang kerja milik Maudy, sebelum nya El sudah menghubungi sekertaris Han agar membawa apa yang di dapatkan orang orang suruhannya.

__ADS_1


" Ini Bu "


Han mengeluarkan berkas berkas yang di sertai beberapa foto foto sebagai bukti dari penyelidikan mereka.


Satu persatu mereka memeriksa foto yang di kumpulkan oleh sekertaris Han bersama orang orang suruhannya.


Tiba giliran Tari, Ia melihat dengan seksama apa yang ada di depannya. Ia mengambil sebuah foto yang menurutnya sangat tidak asing baginya dan seperti nya Ia pernah merasa berada di tempat itu.


Tari masuk ke dalam ruangan pribadinya sendiri ketika Maudy membubarkan rapat mereka di ruang kerjanya beberapa menit yang lalu.


" Aku yakin ini pasti ada hubungannya " Gumam Tari.


Ia segera mengambil sesuatu dari dalam laci lemarinya, disana tersimpan banyak hasil penyidikan yang selama ini Ia lakukan sendiri.


" Tidak~ bagaimana mungkin ini terjadi, kenapa selama ini hal yang justru dekat dengan ku malah luput dari penyelidikan ku "


Tari menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, hampir saja Ia berteriak histeris melihat kenyataan yang ada di depannya.


Tari mondar mandir di ruangan kerjanya, Ia bingung bagaimana harus bertindak. Tari mulai mengingat beberapa hari yang lalu juga dirinya melihat orang yang sama ada di kota ini tapi untuk apa, bahkan orang itu tidak nampak datang kerumah.


Ting ~~~

__ADS_1


Notif pesan di ponsel Tari, segera Ia memeriksanya.


" Nomor tak di kenal, tapi siapa " Keningnya berkerut melihat nomor pengirim nya tidak ada di deretan nama yang ada di ponselnya.


Ia mengklik apa yang di kirimkan seseorang itu. Matanya membulat


sempurna begitu juga dengan desir darah yang seakan memompa jantungnya dengan keras.


" Ini kan kalung pemberian Mama, Ya aku masih ingat itu dan kalung ini kalau tidak salah hilang pada malam itu, tapi kenapa ini ada pada orang itu, dan dari mana orang itu tahu mengenai nomor ku. Sedangkan setahuku nomor ini hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya " Gumam Tari. "


Tari mengetik beberapa kata namun belum juga terkirim sebuah pesan masuk kembali ke ponselnya.


" Kamu pasti penasaran ya siapa aku, bukankah itu milikmu dan apa kamu tidak ingin tahu kenapa itu bisa ada di tangan ku "


Tari membacanya dengan hati hati, Ia berusaha tenang meskipun tidak bisa di pungkiri kalau saat ini dirinya memang sedang gelisah, apalagi pesan itu di sertai emot tertawa yang begitu banyak.


" Kalau kau ingin tahu siapa aku maka segera temui aku di tempat yang aku inginkan, aku akan mengirim kan alamat lengkapnya padamu. Tapi kamu memang harus datang sih, karena kamu tidak punya alasan untuk menolak "


Tari bersiap siap pergi, Ia ingin mengabari El apa yang sudah Ia dapatkan namun lagi lagi pesan yang masuk ke ponselnya membuatnya menghentikan niatnya.


" Temui aku sendiri, jangan pernah memberitahukan pertemuan ini pada siapapun kalau kamu tidak ingin Putramu hari ini hanya tinggal nama nya saja. Aku tidak main main, akan ku pastikan bahwa pertemuan mu dengan Putramu terakhir adalah hari ini saja, apa kamu mengerti "

__ADS_1


Tari mulai gentar, kalau hanya menyangkut dirinya mungkin tidak akan jadi masalah, tapi kalau ini sudah menyangkut nyawa Putranya Ia tidak akan mau mengambil resiko untuk itu.


Tari memutuskan pergi sendiri, Ia keluar ruangan dengan sikap senatural mungkin agar tidak ada yang curiga padanya, apalagi mengikuti kemana Ia pergi. Ancaman orang misterius itu tidak bisa di anggap sepele.Ia tidak mau mengorbankan satu satunya alasan nya untuk bertahan hidup sampai saat ini di renggut paksa oleh orang lain.


__ADS_2