Super MOM

Super MOM
Perjuangan terakhir sekertaris Han


__ADS_3

Suasana kembali mencekam ketika pemungutan suara sedang berlangsung, grafik naik nampak naik turun di layar monitor yang terpampang jelas di depan mereka.


Ternyata banyak yang memilih Kevin, karena menurut penilaian mereka Pria itu lebih menghargai waktu mereka dan akan lebih bisa di andalkan nanti kalau Pria itu jadi pemimpin dimasa mendatang menggantikan Pak Bagus.


Kevin tersenyum bahagia, Ia menatap El dengan tatapan meremehkan. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, tanpa mereka sadari grafik mulai berubah, entah apa yang terjadi. Raut wajah Kevin mendadak memerah seketika menahan emosi.


" Apa apaan ini, ini tidak benar. Kenapa kalian malah memilih Dia yang sudah jelas jelas tidak kompeten, ini semua salah. Hei El, kamu pasti berlaku curang kan, ini semua pasti perbuatan mu.. ! " Bentak Kevin menggebrak meja dengan sekuat tenaganya


Semua mata menatap ke arah Kevin yang tiba tiba meluapkan emosinya dengan menggebrak meja. Terdengar desus desus dari peserta rapat yang terkejut melihat reaksi pemimpin yang mereka pilih.


" Kevin, tolong kamu jaga sikap mu. Lihat dimana kamu sekarang berada, ini bukan di markasmu atau di rumah mu yang bisa seenaknya saja kamu berteriak seperti itu. " Tegur El yang juga terkejut melihat reaksi adik angkatnya itu.


Kevin menatap El dengan sorotan tajam, kebencian nya pada Pria itu semakin menjadi jadi. Semuanya diam ketika mendengar suara Pak Bagus.


Di tempat lain beberapa puluh menit yang lalu.


Han terus melawan beberapa Pria dengan tubuh kekar, sudah tidak terhitung berapa kali tubuhnya terkena hantaman kayu. Hingga detik detik Ia hampir tak sanggup lagi, sebuah mobil melintas.


" Pak, sepertinya di depan ada perkelahian. Tapi lihatlah itu, sepertinya dia hanya sendiri melawan beberapa Pria berbaju hitam itu. " Pak Dani si supir melaporkan.


Seorang Pria yang sejak tadi asyik memainkan ponselnya segera menoleh ke arah yang di maksud.


" Bagaimana ini Pak, apa kita berhenti saja untuk menolongnya. " Tanya supir itu lagi.

__ADS_1


Pria yang tak lain adalah Dokter Ilmi segera mengangguk.


" Iya Pak, cepat. Kita harus segera memberikannya bantuan. "


Kedua Pria itu nampak bingung, tidak mungkin mereka melawan para Pria sangar itu, yang ada mereka juga akan babak belur.


Ilmi tersenyum dan segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya, Ia menekannya beberapa kali hingga mengeluarkan suara sirine khas dari kepolisian.


Ilmi dan juga Pak Supir segera turun dari mobil, para Pria yang mendengar bunyi sirine dari kepolisian itu segera lari kocar kacir dengan kendaraan besar mereka.


" Pak, cepat bantu. Bawa kedalam mobil. "


Ilmi dan juga supir pribadinya segera membantu Han, mendudukkan nya di jok belakang.


Dani langsung melaksanakan tugasnya, namun di tahan oleh sekertaris Han.


" Pak, tolong saya... ! Nyawa saya tidak ada artinya di banding dengan ini, tolong antarkan ini ke gedung Atmajaya corporation. Tolong Pak. "


Dengan sisa tenaganya dan juga kesadaran nya, Han masih sangat berharap bisa membantu Bos sekaligus orang yang sudah di anggap saudaranya itu. Mungkin ini bisa Ia lakukan sebagai perjuangan terakhirnya membantu saudaranya itu, meskipun mungkin setelah ini Ia tidak akan bisa menghirup udara di bumi ini karena terlambat mendapatkan pertolongan.


" Tapi saya ini seorang Dokter dan ini apa, saya tidak tau apa apa dan saat ini keselamatan Anda lebih penting. " Ucap Ilmi menatap Han dengan perasaan bingung.


Ilmi yang memang seorang Dokter tentu tahu jelas kalau kondisi Pria itu sekarang sedang tidak baik baik saja, namun Ia masih berusaha kuat untuk sesuatu yang membuat Ilmi bingung.

__ADS_1


" Baiklah " Akhirnya Ilmi pun memilih mengalah melihat kondisi Han.


Mobil melaju dengan kecepatan penuh, di dalam mobil Han mengatakan apa yang harus Ilmi lakukan dan Ilmi pun melakukan nya. Ia menuruti apa yang di katakan sekertaris Han, meskipun awalnya bingung.


Hanya beberapa menit saja mereka sudah tiba di parkiran, Ilmi membantu Han melakukan tugasnya, melalui laptop yang Ia punya Pria itu menekan tombol kirim kepada email beberapa yang sudah mereka jadikan target.


Setelah menekan tombol, Han menarik nafas yang sudah terasa sesak di tenggorokan nya dan menutup mata dengan senyuman yang terukir jelas di wajahnya.


Ilmi yang melihat hal itu segera meminta Pak Dani melajukan mobilnya sementara dirinya memberikan penanganan sebisa mungkin dengan alat seadanya.


" Lebih cepat lagi Pak, kondisinya kritis. Kita harus segera tiba disana. " Pinta Ilmi pada sang supir.


Ilmi juga tidak tinggal diam, Ia pun menghubungi pihak rumah sakit agar segera menyambutnya. Setelah tiba mereka langsung di sambut brangkar rumah sakit yang sudah di siapkan Tari dan Dokter yang lainnya.


" Tolong angkat dengan pelan, hati hati dengan leher pasien. " Ilmi membantu memindahkan tubuh sekertaris Han.


Tari terkejut melihat Pria yang sangat di kenalinya itu, jantungnya berdegub kencang dengan perasaan tak menentu.


" Ah cepat bawah ke ruang IGD, ah tolong hati hati. "


Ilmi bingung melihat kekhawatiran di wajah Tari, apa sepenting inikah pasien yang Ia temukan itu. Tidak mungkin kekhawatiran nya itu karena Dia seorang Dokter.


" Siapa Dia, apa masih termasuk kerabat Tari. "

__ADS_1


Ilmi pun ikut berlari di belakang Tari, sebenarnya kedatangannya kemari ingin mengunjungi Arka yang juga di rawat di rumah sakit. Biarlah sekalian Ia menjenguk setelah ini, batinnya


__ADS_2