Super MOM

Super MOM
Calon Ibu


__ADS_3

Pintu ruangan terbuka, banyak yang ikutan masuk. Aini langsung menghambur memeluk Tari, Ia sudah tau kalau Arka siuman dari Suster yang tadi. Suster sebenarnya ingin memberitahukan kabar bahagia tapi karena Tari sudah parno duluan, takut Putranya kenapa- kenapa, jadi Ia malah berlari lebih dulu.


" Alhamdulillah Ri, Dia sudah siuman. Allah mengembalikan Dia pada kita. " Bisik Aini pelan.


Tari mengangguk dalam pelukan Aini, wanita itu benar. Allah sudah mengembalikan kebahagiaan terbesarnya.


" El mana Tan. " Tanya Tari.


El yang sejak tadi di luar menunggu antrian akhirnya masuk.


" Aku disini Ri. "


Tari tersenyum dan meminta El untuk mendekat, sedangkan Tari menghampiri Putranya.


" Sayang, karena Arka sudah berjuang sampai sekarang maka ada seseorang yang ingin bertemu dengan Arka. Oh ya, Arka saat ini mau ketemu siapa. " Tanya Tari pelan.


Arka menatap semua yang ada di ruangan itu, ruangan dengan ukuran besar. Disana ada Aini yang berdiri dekat dengan El, sedangkan jauh dari tempat itu ada Bagus dan juga Aluna dan seorang Suster.


" Arka ingin ketemu Papa Ma. " Batin Arka dalam hati.


Ia benar-benar ingin bertemu Pria yang selama ini Ia rindukan.


" Nggak ingin ketemu siapa- siapa Ma, Arka hanya mau sama Mama. " Jawab Arka.


Ia terpaksa berbohong pada Ibunya karena tidak ingin melihat wanita yang begitu sangat disayanginya bersedih.


Tari tersenyum dan mengelus kepala Putra tampannya itu.


" Nak, disini ada seseorang yang sangat ingin ketemu dengan Arka, begitu juga Arka. Dia adalah orang yang selama ini Arka rindukan, apa Arka ingin menemuinya. "


Aini memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya yang jatuh agar tidak terlihat yang lain.


" Papa, apa itu Papa Ma. Apa Papa Arka sudah kembali. " Tanya Arka pelan namun sangat nampak kalau Ia begitu antusias.


Tari mengangguk kecil berulang kali, Ia mencoba menahan air matanya yang hampir jatuh.


" Iya sayang, kalau Papa ada disini apa yang akan Arka katakan pada Papa Nak. "


Arka menatap Ibunya, entah apa yang ada dalam pikiran anak itu.


" Arka ingin bilang kalau Arka sangat merindukan Papa, Arka juga ingin di peluk Papa. Tapi......


Arka menjeda ucapannya, membuat Tari yang menunggu lanjutannya langsung bertanya.


" Tapi apa sayang. "

__ADS_1


" Tapi Arka juga ingin bertanya kenapa Papa tega ninggalin Arka, apa Papa tidak sayang sama Arka. " Bocah tampan itu menunduk, dengan butiran bening jatuh di pipinya.


Tanpa di minta akhirnya El melangkah mendekat, bahkan Tari mundur beberapa langkah memberi ruang pada Ayah dan anak itu.


" Papa sayang sama Arka kok, siapa bilang Papa tidak sayang. " Suara El hampir tercekat di kerongkongan nya.


Meskipun Ia ragu akan mendapat penolakan dari Putranya namun mungkin ini saatnya, yang penting Ia sudah berusaha. Apapun keputusan Putranya Ia akan menerimanya, hal yang wajar kalau Arka menolaknya.


" Om El, eh Om Dokter. "


Hati El terasa di tusuk- tusuk mendengar bibir mungil itu memanggilnya Om.


" Bukan Om sayang, tapi Papa. "Ralat El dengan suara pelan.


Arka melihat Ibunya yang tersenyum padanya kemudian beralih pada El yang nampak menyedihkan, Arka kemudian tersenyum.


" Oh iya, Om bisa kok manggil Arka anak. "


Tari menggeleng, Ia ikut menghampiri Putranya.


" Sayang, maafkan Mama. Tapi Om El memang adalah Papanya Arka, Papa yang selama ini Arka rindukan. "


Arka menatap bingung pada Tari dan El, banyak pertanyaan yang melintas di benaknya.


" Papa, maksud Mama. Apa Papa El yang sudah mengirimkan hadiah ultah buat Arka selama ini. " Tanya Arka seraya menatap El dan Ibunya bergantian.


" Papa, nggak mungkin Ma. Kenapa Papa tidak langsung mengatakan kalau beliau adalah Papanya Arka dan kenapa Papa ninggalin kita Ma. Ma, Arka memang merindukan Papa tapi tidak menyayanginya. Arka lebih sayang Mama. "


Tari ingin menjelaskan semua kepada Arka namun El melarang nya, Ia tidak ingin Putranya itu semakin kebingungan apalagi takut padanya.


" Ri, biarkan saja dulu, jangan di paksakan. Dia masih kecil dan baru juga siuman, nanti aku akan menjelaskan padanya secara pelan- pelan dan sekaligus meminta maaf padanya. "


Tari akhirnya mengangguk seraya menghela nafas berat, ternyata tidak semudah yang Ia bayangkan.


" Sabar Nak, nanti kita coba jelaskan perlahan. " Bisik Aini.


Ketika sedang asyik mengobral tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kondisi Aluna, sejak tadi wajahnya sudah pucat.


" uek.... ueekkk. "


Aluna berlari ke kamar mandi mencoba memuntahkan sesuatu yang ada di dalam perutnya yang sudah ingin meronta keluar.


Aini yang khawatir segera berlari menyusul kekamar mandi.


" Nak, kamu kenapa sayang. " Tanya Aini khawatir.

__ADS_1


Aluna menggeleng, wajahnya sudah pucat dengan keringat bercucuran di wajahnya.


Ueek Ueekk. ! lagi lagi Aluna ingin memuntahkan sesuatu dari kerongkongan nya namun tidak ada.



" Kamu telat makan lagi Nak, kamu kan punya penyakit maaag, kalau telat makan beginilah jadinya. "


Aini membantu Putrinya keluar dari kamar mandi sedangkan Tari mengambilkan air putih untuk Aluna.


" Ini di minum dulu Lun. "


" Makasih Dok. " Tari menanggapinya dengan senyuman.


" Maaf Lun, kalau boleh tau kapan terakhir kamu mendapatkan tamu bulanan. " Tari bertanya pelan takut pertanyaan nya salah.


Namun Tari merasa curiga, melihat ciri - ciri dari saudara El itu. Aluna mengusap pelipis nya yang mengeluarkan keringat.


" Masih lama Dok, masih tanggal 7. " Jawabnya nggak konsen.


Aini dan Tari saling pandang, mereka mempunyai pemikiran yang sama.


" Lun sayang, ini tanggal tujuh belas. Apa tanggal tujuh bulan ini kamu sudah dapat tamu bulanan. " Tanya Aini.


Aluna menarik nafas berat, rasanya Ia tak nyaman dengan kondisi saat ini.


" Mama, memangnya ini tanggal berapa. "


Aini dan juga Tari tersenyum melihat tingkah Aluna, Ia belum sadar apa yang terjadi padanya.


" Luna sayang, lihat ini tanggal berapa. " Aini menyodorkan ponselnya.


Dengan rada malas Aluna menatap layar ponsel Ibunya.


" Hari Jum'at tanggal tujuh belas Ma. " Jawabnya membaca apa yang ada di layar ponsel Ibunya.



" Iya tanggal tujuh belas Nak, artinya apa. "


Aluna menggeleng dengan kening mengkerut, Ia bingung dengan tingkah kedua wanita di depannya yang dari tadi senyam- senyum.


" Artinya ya tanggal tujuh belas Ma, Mama sama Dokter Tari kenapa, dari tadi cengengesan nggak jelas. " Aluna mulai protes.


__ADS_1


" Tari bawa dan periksa calon Ibu muda ini, dari tadi nggak ngeh juga. "


Aini akhirnya mulai tak tahan, Ia geregetan pada otak Putrinya yang benar-benar keterlaluan.


__ADS_2