
Vania kesal ketika melihat isi rumah yang baru saja di belikan El untuknya, bagaimana bisa Ia tinggal di tempat seperti itu.
" Ya Tuhan, apa ini. AC juga cuma ada satu doang, masa iya aku harus di ruang tengah agar bisa bake AC "
Tiara yang mendengar suara keras Ibu nya sontak keluar, di lihatnya barang barang berhamburan di kamar sebelah.
" Mama, ada apa. Kenapa suara Mama nyaring sekali dan~~~ ini kenapa kamarnya berantakan Ma " Tanya Tiara bingung.
Ia yang baru saja membersihkan kamarnya sendiri, memutuskan untuk istrahat sebentar karena lelah, namun istirahat nya terganggu dengan suara Ibunya itu.
" Diam, pergi sana jangan urus urusan Mama " Bentak Vania.
Tiara yang sudah terbiasa mendengar suara keras Ibunya hanya memilih diam, namun melihat kamar yang berantakan membuatnya tidak nyaman.
Ia mulai membereskan ruangan itu menata barang barang dan mengembalikannya pada tempatnya.
" Ngapain kamu masih disini, KELUAR ~~~ " Lagi dan lagi Vania membentak Putri kecilnya.
" Tapi Ma, ruangan Mama berantakan. Tiara hanya bantu membersihkan nya saja, agar Mama bisa istrahat "
Vania diam, Ia memandang sekeliling memang benar kalau ruangan itu sudah seperti kapal pecah.
" Baiklah kalau begitu kamu bersihkan saja kamarnya "
Tiara mengangguk dan melanjutkan aktivitas nya kembali.
" Mama disini banyak debu, sebaiknya Mama duduk di luar saja, biar Tiara bersihkan dulu sebentar "
Vania langsung meninggalkan ruangannya, melihat Ibunya sudah keluar Tiara bergegas membersihkan ruangan itu.
Anak berusia delapan tahun itu nampak sangat telaten menyulap kamar itu menjadi lebih baik, Ia tersenyum melihat hasil pekerjaan nya.
" Alhamdulillah Mama pasti senang, sekarang kamarnya sudah rapi " Gumam Tiara.
Sementara di luar Vania nampak sedang menghubungi seseorang.
" Apa kamu ingin membuat kami mati disini El, ini sangat buruk tahu. Tidak ada AC, tidak ada makanan dan tidak ada pembantu. "
Vania marah marah sampai urat urat di lehernya hampir keluar, Tiara yang melihat kemarahan Ibunya hanya geleng-geleng kepala serta mengelus dada.
" Mama, kamarnya sudah bersih sekarang Mama boleh istrahat "
Vania menoleh ke arah Tiara dan kemudian melangkah masuk, Ia bahkan melewati Tiara menyenggol anak kecil itu hingga terdorong ke belakang.
Tiara tersenyum melihat Ibunya merebahkan diri di atas ranjang yang sudah Ia bersihkan. Tiara bergegas masuk ke kamarnya mencari sesuatu miliknya, pemberian El padanya.
" Ah ini dia " Gumamnya.
Ia segera mencari sebuah nomor yang sering Ia hubungi, karena tidak punya pulsa operator atau paket data maka Ia hanya mengkliknya saja dan kemudian mengakhirinya kembali.
Tidak lama kemudian ponselnya berdering, Ia segera meraihnya dan menggeser ke tombol hijau.
" Hallo, Assalamu'alaikum Pa "
Terdengar jawaban di seberang sana, Tiara nampak fokus berbicara.
__ADS_1
" Papa nggak usah belikan Tiara boneka atau selimut, lebih baik Papa belikan AC saja buat Mama "
Tiara lebih mementingkan Ibunya di banding dirinya
Gadis kecil itu tersenyum setelah selesai menerima panggilan telpon. Ngantuknya mendadak hilang, Ia memutuskan membersihkan diri karena hari mulai gelap.
Setelah berganti pakaian Ia merasa lapar, perlahan Ia melangkah keluar melihat sang Ibu yang ternyata masih tidur.
" Mama pasti lapar, tapi aku harus apa. Aku nggak mungkin masak karena pasti tidak ada yang bisa di masak " Gumamnya.
Ia kembali ke kamarnya mengambil sesuatu dan segera berlari keluar.
" Ma, Tiara pergi dulu mau cari makan buat Mama. "
Ia menutup pintu dengan pelan, takut suaranya membangunkan sang Ibu yang masih tertidur nyenyak.
Ia berdiri di luar memandang sekitar, bukan hanya mereka orang baru namun dirinya yang baru berumur delapan tahun membuatnya bingung.
" Aku harus cari dimana, tapi kalau aku nggak cari kasihan Mama. Mama pasti lapar nanti "
\*\*\*
El menenteng beberapa kantong plastik, Ia melangkah dengan senyum mengembang.
" Nak, sayang, ini Papa. Kamu dimana Nak "
Berulang kali El memanggik namun tidak ada jawaban, akhirnya El yang tadinya duduk di sofa memilih mencari keberadaan Tiara.
Ia membuka pintu kamar Tiara namun Ia terkejut karena sang anak tidak ada disana.
El menutup kembali pintu ruangan itu dan mencari ketempat lain, memanggil manggil nama Tiara namun tak kunjung mendapat jawaban.
Ia masuk ke ruangan lain dan melihat Vania yang sedang tertidur disana.
" Dimana Tiara, di kamarnya nggak ada disini juga nggak ada, kemana dia " Gumam El.
Ia mulai panik karena tidak menemukan keberadaan Tiara, kepanikannya mulai bertambah ketika menghubungi ponsel Tiara dan ternyata anaknya itu tidak membawa ponselnya.
Baru saja Ia membangunkan Vania samar samar Ia mendengar suara yang Ia cari.
" Papa, Papa disini " Tiara yang baru kembali mencari makan malam untuk mereka berdua nampak bahagia karena melihat mobil El terparkir di luar rumah itu.
Bergegas El keluar mencari suara tersebut.
" Sayang, kamu dari mana saja Nak, Papa khawatir cariin kamu "
Tiara tersenyum kepada El, El memperhatikan apa yang ada di tangan Putrinya.
" Kamu keluar mencari ini " Tanya El dan Tiara mengangguk.
" Tiara takut Mama nanti bangun lapar jadi Tiara mencari warung yang buka di sekitar sini "
El mengelus dadanya pelan
__ADS_1
" Sayang, lain kali jangan begini lagi. Jangan keluar sendirian di malam malam begini, maafkan Papa karena terlambat membawakan makan malam untuk kalian " El sangat merasa bersalah.
Tiara mengangguk mengiyakan
" Bagus sayang, anak pintar. Baiklah ini Papa juga bawa makan malam untuk Tiara, bagaimana kalau kita makan dulu " El membuka kotak yang Ia bawa.
Tiara memperhatikan makanan yang di bawa El nampak sangat enak, Ia sudah sangat lapar. Ingin rasanya segera menyantap makanan itu namun Ia teringat sang Ibu.
" Bentar Pa, Tiara bangunin Mama dulu " Ucap Tiara.
El mengangguk dan memperhatikan Tiara memasuki ruangan Ibunya.
" Ma, Mama bangun "
Dengan pelan Tiara membangunkan Ibunya, Ia mengulangi nya hingga beberapa kali.
Perlahan Vania membuka mata, Ia terkejut melihat kehadiran Tiara disana.
" Tiara, sudah berapa kali Mama bilang sama kamu. Jangan ganggu Mama kalau Mama sedang istrahat, kenapa kamu masih saja selalu ganggu ha~ "
Tiara menunduk takut, Ia bulannya tidak ingat pesan sang Ibu, namun Ia memikirkan kesehatan Vania kalau terlambat makan nanti penyakitnya akan kambuh lagi.
" Tiara hanya membangunkan Mama untuk makan, tadi Tari sudah beli "
Vania menghela nafas
" Kamu mengerti tidak, Mama bisa cari sendiri kalau Mama lapar " Bentak Vania.
El segera masuk mendengar suara keras di dalam kamar Vania, Ia terkejut melihat Tiara yang menunduk dan juga Vania yang masih saja mengoceh tidak jelas.
" Apa apaan kamu Vania, kamu memarahinya "
El menghampiri Tiara dan menariknya dalam pelukannya, Ia mengelus kepala Tiara pelan.
" Eh El, kamu disini sayang "
Vania segera bangun melihat El ada disana.
" Aku bukan memarahinya El, Aku hanya menasehati nya agar tidak selalu mengganggu ketika Aku sedang tidur " Vania memberi alasan
El menggelengkan kepalanya, bisa bisanya Is mencintai orang seperti ini.
" Menasehati katamu, kamu tahu tidak. Tadi dia keluar rumah sendiri mencari makan malam karena dia menghawatirkan kamu kalau bangun nanti kamu kelaparan, seharusnya kamu bersyukur karena mendapat anak yang begitu peduli padamu, bukan membentaknya "
Vania menatap Putrinya yang menunduk karena bentakkan dirinya.
" Jangan salahkan aku dong, kamu tahu semua ini salahmu. Gara gara kamu tidak menyiapkan apa apa di rumah ini bahkan pembantu makanya dia keluyuran. "
Vania melangkah keluar meninggalkan El dan juga Tiara tanpa merasa bersalah sama sekali.
π΅π΅π΅
Hallo yang minta Up akhirnya author bisa up lagi, tolong jempolnya dong. Kasih komentarnya ya sama klik vidio gratis oke, biar karyanya bisa masuk beranda π
Makasih π
__ADS_1