Super MOM

Super MOM
Berkaitan


__ADS_3

Tari merasa senang ketika melihat putra semata wayangnya baik baik saja, pulang dalam keadaan sehat dan tidak kurang satu apapun.


" Mama...... ! " Seru Arka memanggil sang Ibu.


Tari yang memang sejak tadi menunggu kepulangan Arka langsung memeluknya erat.


" Sudah pulang sayang, capek ya. Yuk masuk, Mama sudah masakkan udang kesukaan mu Nak "


Tidak ingin berlama-lama di luar Tari akhirnya menggandeng Putranya untuk masuk ke dalam rumah. Ia menemani Arka makan, belajar dan juga bermain sampai menidurkan nya. Ia turun perlahan dari ranjang Putranya dan turun kebawah setelah mendapat pesan singkat.


Tari masuk ke ruang kerjanya karena disana El sudah menunggu dirinya. Meskipun terasa berat tapi Tari akhirnya mengatakan semua yang sudah menimpah dirinya di masa lalu, hal itu Ia lakukan hanya semata mata demi keselamatan Putra semata wayangnya


Ia membuka laptop miliknya dan mengetikkan kata sandi tempat menyimpan beberapa file penting yang Ia simpan selama ini.


El memperhatikan semua dengan seksama


" Sejak kapan kamu menyelidiki ini semua Ri " Tanya El tanpa melihat ke arah Tari karena matanya fokus pada apa yang ada di depan matanya.


Sudah terlanjur basah ya nyelam sekalian, pikir Tari.


" Sejak kejadian malam itu " Jawab Tari pelan.


Menceritakan ini sama saja dengan membuka luka di masa lalunya yang selama ini sudah Ia tutup rapat rapat.


" Kejadian apa "


Dengan menghela nafas panjang akhirnya Tari menceritakan semua.


" Tanggal dua puluh lima juli dua ribu empat belas " Tari memalingkan wajahnya berusaha kuat dengan semua yang sudah terjadi.


El menghentikan aktivitas nya dan menatap Tari. Ia mengulang apa yang di ucapkan Tari.


" Tanggal 25 Juli 2014, bukannya itu ulang tahun ku. Apa malam itu.... yang membuat Arka hadir. Tapi bagaimana bisa, sedangkan waktu itu.... "

__ADS_1


" Iya, waktu itu aku tidak mendapatkan undangan. Lebih tepat nya setiap tahun aku tidak pernah mendapatkan undangan yang sama, dan lebih mirisnya hanya aku saja "


El mencoba mengingat semuanya tapi ingatan nya di malam itu memang benar-benar hilang, seakan ada sebuah penghalang yang menutup memori nya di hari itu.


El tiba-tiba mengambil ponselnya dan menguhubungi orang kepercayaan nya.


" Pergi ke rumah lama dan periksa semua CCTV tanggal 25 Juli 2014 sekitar jam 9 keatas. Aku ingin impormasinya secepatnya "


El bersama sekertaris Han masih mengotak ngatik beberapa bukti yang mereka bersama orang-orang suruhannya kumpulkan.


" Kenapa kosong, di jam itu nampak tidak ada siapa pun termasuk aku " Ucap El, Ia menggeleng pelan.


" Apa Tari berbohong mengenai kejadian malam itu. "


" Seperti nya tidak Pak, semua yang di katakan Bu Tari benar adanya " Ucap Han sembari menunjukkan sesuatu pada laptopnya.


El memicing kan matanya ketika melihat seorang wanita keluar dari kediamannya dengan langkah tertatih, Ia meninggalkan tempat itu seperti orang ketakutan.


" Jadi benar mengenai malam itu dan karena malam itu Arka hadir di antara kami. "


El manggut-manggut sambil bolak balik di dalam ruangan itu, banyak hal yang begitu misterius.


" Han, bukankah ini terlihat sangat ganjal. Tidak kah terpikirkan oleh mu kalau rentetan kejadian ini sangat bertautan. Maksud ku tidakkah mereka adalah orang yang sama, mengingat cerita Tari dia bahkan sempat ingin menemui aku ketika tahu dia hamil tapi semua itu dia urungkan karena ada seseorang yang menghalangi nya "


Di tempat lain, Sarah sedang bersama Pak Handoyo.


" Mas, jadi kapan nih mau nikahin aku. Bukankah kita sudah lama saling kenal dan anak anak juga sudah setuju kalau kita melanjutkan ke jenjang yang lebih serius "


Handoyo meraih secangkir kopi dan meneguknya perlahan.


" Secepatnya Sarah, tapi yang pasti bukan sekarang. Saat ini aku masih harus mempersiapkan pernikahan Putri pertama ku dulu baru setelah itu kita menikah " Jawab Handoyo


Sarah yang mendengar itu menjadi gusar, Ia tidak suka dengan pernyataan Handoyo

__ADS_1


..." Melangsungkan pernikahan, dasar anak tidak tahu diri. Merugikan orang tua saja, apa susahnya. Nikah ya tinggal nikah saja, sekarang juga boleh " Batin Sarah...


Ia mendengus kesal karena Pria di depannya itu lebih memilih anaknya di bandingkan dengan dirinya.


" Ini tidak bagus untukku, tapi tunggu. Kalau dia menikah sekarang ada bagusnya juga sih jadi dia nggak akan selalu minta uang pada Ayahnya. "


Sarah merubah dengan cepat raut wajahnya, Ia tersenyum semanis mungkin.


" Iya Mas, tentu dong. Kita harus menikahkan anak kita lebih dulu biar mereka bisa bahagia dengan pasangan nya, setelah itu baru giliran kita "


" Anak kita. " Tanya Handoyo seperti bergumam.


Sarah mengangguk mengiyakan.


" Iya Mas, anak kita. Bukankah anak Mas Handoyo sama juga seperti anakku. Kalau kita menikah mereka akan memanggil Mama atau Ibu padaku, ah rasanya aku sangat bahagia sekali Mas "


Handoyo meraih tangan Sarah dan menggenggam nya, Ia tersenyum bahagia.


" Makasih Sarah, kamu baik sekali. Aku janji, setelah Bianca menikah kita akan segera menyusul "


Sarah mengangguk, Ia mengelus tangan Handoyo yang menggenggam salah satu tangannya.


" Baiklah, untuk menebus hari bagaimana kalau kita berbelanja saja. Kamu bisa beli apa pun yang kamu mau "


Sarah bersorak dalam hati, inilah yang Ia inginkan. Andai saja tanpa menikah dia bisa mendapatkan uang belanja seperti ini, pasti Ia akan memilih tidak menikah sama sekali. Ia tidak ingin terikat pada satu hubungan atau hanya melayani satu orang saja dalam hidupnya, Ia ingin bebas melakukan apapun yang Ia mau.


" Ah Mas, apa tidak apa apa kalau kita berbelanja, aku takut anak anak marah kalau aku berbelanja dan menghabiskan sedikit uangmu "


Handoyo tertawa kecil, Ia menggandeng tangan Sarah meninggalkan tempat dimana mereka berada saat ini.


" Kamu ini ada ada saja, kalau soal itu jangan di pikirkan. Sudahlah.... gimana jadi pergi nggak nih "


Sarah mengangguk pelan, dalam hati Ia bersorak. Bodoh amat mikirin anaknya, yang penting Ia bisa berbelanja dengan gratis.

__ADS_1


__ADS_2