
Pagi hari di mansion Atmajaya, semua sedang menikmati sarapan pagi sebelum berangkat bekerja.
" El, kapan rencana mu membawa cucu dan juga menantu Mama kerumah ini. " Tanya Aini setelah sarapan selesai.
El mengira hal penting apa yang membuat Ibunya mengajak nya bicara, ternyata soal kelanjutan hubungannya.
" Jangan bilang kalau kamu tidak ada rencana kearah sana, apa harus Mama yang...
" Tidak perlu Ma, El akan mencari waktu yang senggang untuk mengajaknya membahas masalah ini. Meskipun El tidak yakin apa El masih punya kesempatan untuk itu. "
Aini bahagia mendengar ucapan El, paling tidak Putranya itu ada niatan baik.
" Semangat Kakak. " Aini menyemangati El hingga membuat El salah tingkah.
Di ruangannya El jadi serba salah, duduk pun tak tenang. Bagaimana caranya Ia mengutarakan maksudnya pada ibu dari anaknya itu.
Hingga jam istrahat makan siang, El di kejutkan dengan kedatangan seseorang. El yang begitu penasaran mencoba menguping pembicaraan keduanya.
" Hai sayang. "
" Eh, Hai Mas. Wah dah lama nggak kemari, ada apa nih. " Tari terkejut dengan kedatangan Ilmi.
Ilmi nampak sangat bahagia bertemu dengan Tari.
" Iya nih lagi sibuk belakangan ini, oh ya. Kamu sibuk nggak, kita makan siang bareng ya, pakai mobilku saja. Nanti aku antar lagi setelah selesai makan siang. "
Tari melirik jam di pergelangan tangannya, kemudian mengangguk seraya tersenyum.
" Oke, boleh Mas, ayo. "
Ilmi sumringah, tidak menyangka kalau Tari akan menerima ajakannya, mereka melangkah beriringan menuju mobil Ilmi. El bersembunyi, Ia merasa marah melihat keakraban Tari dan juga Ilmi, alhasil El membuntuti kemana keduanya pergi.
" Ish ngapain juga harus satu mobil. "
Ilmi mengajak Tari ke restoran terdekat dari rumah sakit, sampai disana keduanya turun dan memilih gazebo untuk tempat mereka duduk.
" Kita duduk di samping saja Ri, tempatnya nyaman dan sejuk. "
Tari mengangguk dan menyerahkan semuanya pada Ilmi, mereka memesan menu yang ingin mereka makan. Keduanya menyantap makan siangnya dalam diam. Tidak jauh dari mereka duduk, El juga memilih gazebo namun tidak memesan makanan. Ia hanya memesan minuman saja.
" Ri, sebenarnya aku kemari ingin menanyakan soal alamat Risma. Bisakah kamu bantu aku, aku sudah menyewa orang untuk mencarinya, namun tidak ada hasil apapun. Apa kamu tidak kasihan padaku, sebagai sahabat bukannya kita tidak pernah menyusahkan satu sama lain. "
Tari nampak berpikir, hingga Ilmi menggenggam kedua tangannya memohon.
Tari mengelus tangan Ilmi dan tersenyum, lama-lama Ia kasihan juga pada sahabatnya itu.
" Baiklah, melihat Tekadmu yang begitu membara kasihan juga kalau tidak aku beritahu. "
Ilmi bersorak girang, mendengar akhirnya Tari membantunya.
__ADS_1
" Yes, makasih sayang. "
Tari geleng-geleng kepala, Ia merasa lucu melihat tingkah Ilmi.
" Dia pindah ke Jakarta, bekerja di rumah sakit pondok indah. Oh ya sekalian ini ada nomor barunya, kamu bisa menghubunginya kapan- kapan. "
Tari memberikan ponselnya pada Ilmi, dengan senang hati Ilmi menyalin nomornya kedalam ponselnya.
Setelah mendapatkan semua informasi tentang Risma, akhirnya Ilmi mengantarkan Tari kembali ke rumah sakit.
Keduanya bercanda bersama tanpa mereka tau kalau sejak tadi sudah ada bom yang hampir saja meledak dan mungkin akan meledak sebentar lagi.
" Makasih Mas untuk makan siangnya. " Tari segera turun setelah mereka tiba di parkiran rumah sakit.
" Ah tidak apa- apa sayang, kalau kamu mau kita bisa makan siang tiap hari. "
Tari tertawa seraya menggeleng- gelengkan kepalanya. Ia tidak akan merepotkan sahabatnya itu tiap hari, hanya karena makan siang. Tempat mereka bekerja lumayan jauh dan memakan waktu untuk bertemu.
" Nggak usah Mas, lagian Mas juga harus segera mencarinya kan. Dengar- dengar disana dia di taksir banyak cowok tampan, kalau kamu lambat bisa- bisa keduluan yang lain. " Goda Tari.
Raut wajah Ilmi langsung murung hingga lagi- lagi membuat Tari tertawa.
" Sudah, jangan murung gitu. Lagian aku hanya bercanda kok, jangan di tanggapin serius begitu. "
Akhirnya Ilmi bisa tersenyum kembali dan berpamitan pulang, Tari melamun di ruangannya setelah apa yang sudah Ia lakukan. Padahal Ia sudah berjanji untuk tidak mengatakan pada siapapun soal alamat baru Risma.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, Tari heran melihat wajah El nampak tidak bersahabat.
" Lagi bahagia ya. "
Tari mengerutkan keningnya, Ia tidak mengerti apa yang di maksud El.
" Bahagia, apa maksudmu El. " Tanya Tari.
Rasanya ingin Ia mengatakan apa maksudnya namun rasanya berat.
" Sudahlah, aku yang salah. Oh ya, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu tapi bukan disini, apakah kamu punya waktu luang. "
Tari memandang wajah El, Ia tau kalau saat ini Pria itu sedang tidak dalam kondisi baik.
" Baiklah El, datanglah kerumah seperti biasa. Sekalian ketemu Arka bagaimana. "
Tiba-tiba raut wajah El berubah, Ia bisa tersenyum walau ngirit.
" Baiklah, aku akan kesana malam ini, makasih atas waktunya. "
" Sama-sama. " Jawab Tari masih dengan wajah bingung.
Malam pun tiba, El sudah berada di parkiran rumah Tantenya. El menghela nafas berat, Ia harus mengatakan ini sebelum nantinya Mamanya yang beraksi dan itu akan membuatnya malu atau merasa tidak nyaman.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum. "
" Wa' alaikum salam. "
Dari tangga Arka melihat kedatangan Ayahnya, Ia segera berlari menuruni anak tangga dan menghambur kedalam pelukan El.
" Sayang, bagaimana kabarmu. "
" Baik Pa, Papa kok lama tidak berkunjung kemari. Arka kangen tau. "
Maudy tersenyum melihat interaksi cucunya dan juga keponakannya.
" Maaf Nak, biasa sayang. Belakangan ini Papa banyak sekali pasien di rumah sakit, jadi Papa jarang punya waktu jalan- jalan. Maafkan Papa ya. "
Arka tersenyum dan mengangguk
" Tidak apa- apa Pa, yang penting sekarang Papa sudah disini. "
" Ah iya sayang, Oh iya Papa lupa. Ini untuk mu. "
Arka mengambil bingkisan dari tangan sang Papa dengan wajah bahagia.
" Makasih Papa. "
Satu kecupan mendarat di pipi El, satu hal kecil namun mampu membuat mood Pria itu baik.
" Iya sayang, Oh iya Nak. Mama kemana sayang. " Tanya El.
" Ah mungkin ada di ruang kerja Pa, Papa mau kesana. "
El mengangguk, Ia harus mengutarakan maksudnya hari ini. Apapun keputusannya nanti El serahkan semuanya pada Ibu dari Putranya, meskipun Ia berharap apa yang di inginkan Mamanya terwujud, karena itu juga adalah keinginannya.
El mengetuk pelan pintu ruang kerja Tari, Tari yang sudah tau itu siapa langsung mempersilahkannya masuk.
" Masuk saja Mas. "
El masuk kedalam ruangan Tari, jantungnya berdebar kencang. Ia mendadak grogi.
" Silahkan duduk, sebentar aku ambilkan minum dulu. "
El yang gugup hanya bisa mengangguk, Ia mengelus dadanya pelan setelah Tari keluar dari ruangannya.
" Gimana, jantung aman. "
El menoleh dan ternyata itu adalah suara Tante Maudy.
" Semangat El, kalau kamu ingin mendapatkannya maka kamu harus berani mengungkapkannya. Kalau kamu terlambat maka kamu akan kehilangan kesempatan, asal kamu tau kalau ada Pria yang ingin melamar Tari untuk di jadikan Istri, jadi pikirkan saja. "
Maudy meninggalkan El setelah mengatakan kata- kata yang ternyata menjadi penyemangat untuk sang keponakan.
__ADS_1