
El yang marah langsung menarik lengan Ilmi dan melayangkan bogem mentah di wajah Pria itu, tentu saja Ilmi meringis karena Ia tidak ada persiapan sama sekali.
" Bajingan lu ya, lepas saja titel Dokter mu itu, kau tidak pantas jadi seorang Dokter. "
Ilmi mengelus hidungnya yang terasa kebas, beruntung hidung asli. Coba saja kalau hidung paska operasi bisa- bisa lengser dari tempat asalnya.
" Kamu ini apa- apaan, datang- datang main pukul orang sembarangan. Hei, lihat sini. Siapa yang tidak pantas buat menyandang titel Dokter, kamu bilang Dokter tapi menghajar orang. Hei, Dokter itu tugasnya menyembuhkan, bukan justru membuat orang lain babak belur dan bisa mati. "
Keduanya mulai berdebat, tidak ada yang merasa salah.
" Hei, kau itu memang pantas untuk di buat babak belur. Seharusnya orang tuamu besok menerima kabar kematian mu karena sudah main mata sama Istri orang. "
Ilmi tersenyum sinis, Ia tertawa sumbang menertawakan ke kocakan Pria yang berada di hadapannya saat ini. Meskipun begitu Ilmi bersyukur, itu tandanya Pria itu sangat mencintai Istrinya jadi Tari benar-benar jatuh ke tangan yang benar.
" Wah- wah ternyata ada yang lagi bucin rupanya, Hei dengarkan aku boy. Aku masih waras dan aku tidak akan pernah merebut bini orang, ini semua salahmu. Coba saja dulu kau tidak menelantarkan nya, bini lu yang sekarang ini tidak akan di cintai oleh laki-laki lain. Aku peringatkan, dari pada lu itu sibuk mukulin orang, lebih baik lu itu mikirin bagaimana caranya biar bisa buat tu bini bahagia. Jangan sampai bini lu lirik laki lain, terus lu nangis tuh di pojokan. "
Ilmi sengaja melakukan itu, Ia menertawakan tingkah bar- bar El yang menurut nya sangat lucu.
Tidak jauh dari tempat mereka, rupanya Tari dan Imel mendengar ada suara gaduh. Keduanya segera berlari mencari asal suara.
" Hei itu urusanku, jangan pernah berpikir untuk ikut campur. Yang pasti aku peringatkan, jangan pernah menggodanya, kondisikan tuh mata. Jangan jelalatan melihat bini orang. "
El menarik kerah baju Ilmi dan hendak melayangkan tinju namun di tahan oleh Tari.
" Sayang, sudah..... ! " Tari menahan pukulan El dengan berdiri di tengah keduanya.
Imel dan juga Ilmi nampak melongo mendengar panggilan Tari pada suaminya. Tanpa sadar Imel terbatuk yang membuat Tari menjadi malu, berbeda dengan Tari, El justru sangat bahagia. Ia bangga pada dirinya sendiri karena disini Dialah yang menjadi pemenangnya.
" Sudah- sudah, sebenarnya ini ada apa. Kenapa Mas malah mukulin Dokter Ilmi. "
El tiba-tiba merasa tidak nyaman, Ia tidak suka Istrinya membela Pria yang sudah menjadi musuh bebuyutannya itu.
__ADS_1
" Tuh tanya sendiri pada suami mu, bucin nggak kira- kira. Aku hampir mati di pukul olehnya, lihat saja sendiri. Nih, bibirku pecah, hidungku... coba kalau palsu pasti sudah lepas. "
Tari terkejut mendengar aduan dari sahabatnya, karena Ia seorang Dokter tentu jiwa penolong nya langsung muncul.
" Astagfirullah sayang, kamu apa- apaan sih, ini benar-benar luka. Apa kamu tidak mikir sebelum gebukin orang. "
Ilmi tertawa kecil berbeda dengan El yang sudah cemburu tingkat dewa, apalagi melihat Istrinya menyentuh wajah musuh bebuyutan nya itu.
" Lepaskan dia, dia memang pantas mendapatkan itu. Apa kamu tidak tau kalau sejak kita makan tadi, dia tidak henti- hentinya menatapmu. Seharusnya aku congkel saja matanya itu biar dia nggak bisa gunakan matanya itu untuk melihat sesuatu yang tidak seharusnya Ia lihat. "
El menarik Tari dan memeluknya erat, seperti orang yang takut kehilangan.
" Masa sih, kamu salah mungkin sayang. Coba tanyakan dulu, bisa saja kan kamu salah. "
Tari berusaha melepaskan diri namun El justru semakin erat memeluknya.
" Ilmi, coba jelaskan apa yang di tuduhkan suamiku. Apa itu benar, apa sejak tadi kamu menatapku. " Tanya Tari masih di dalam pelukan suami bucin nya.
" Sebenarnya.... sebenarnya. " Ilmi ragu, Ia menatap Imel sebentar.
Tari yang mulai curiga ada apa- apa dengan Ilmi hanya bisa tersenyum.
" Kenapa, kau mendadak gagap ya. Alaaah mengaku saja kalau kau itu salah, tidak usah cari alasan. "
" Sayang, cukup. " Tari meminta suaminya untuk diam.
" Ish kau ini, aku bukan laki-laki seperti lu ya yang suka php in orang. Aku ini tipe lelaki setia, jangan asal nuduh orang. "
Kedua Pria itu semakin berdebat dan tidak ada yang mau mengalah.
" Sudah- sudah. Ilmi, sekarang buktikan kalau kamu benar, biar suamiku ini tidak semakin gila dan menurutmu macam- macam. Bukan hanya itu, apa kamu tidak takut kalau nanti aku yang jadi sasarannya ketika di rumah. "
__ADS_1
Akhirnya Ilmi pun memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya.
" Aku sudah mengikhlaskan kamu buat si bucin tuh, lagian aku juga bersyukur karena akhirnya kamu jadi bininya si bucin. Dan buat kamu bucin, aku tidak sedang memperhatikan bini mu, tapi gadis cantik yang ada di samping binimu itu. Aku itu penasaran siapa dia sebenarnya, kemarin aku tidak sengaja menculik dia dan tiba-tiba dia ada bersama kalian di acara makan malam tadi makanya aku penasaran. "
Tari langsung menghela nafas, Ia akhirnya lega karena Ilmi akhirnya jujur dan di dengar langsung oleh yang bersangkutan.
Di saat Tari merasa bahagia, Imel justru terkejut sampai tidak sadar mulutnya sudah terbuka lebar. Tari segera menghampiri sahabatnya, Ia menutup mulut Imel dengan tangannya.
" Tutup mulutmu, malu ih. " Bisik Tari yang membuat Imel tersipu malu.
Tari mulai memperkenalkan siapa Imel sebenarnya pada Ilmi.
" Ilmi, namanya Imelda. Dia adalah sahabat ku di Jakarta, sahabatku sejak sekolah menengah pertama, sebelum aku kemari dan bertemu kalian semua. Dia juga gadis baik- baik, satu lagi dia masih singgel. "
Tari berpindah tempat dan memperkenalkan Ilmi pada Imel sahabatnya.
" Imel, dia ini Dokter Ilmi. Pria baik hati yang aku kenal selama ini, oh setelah suamiku tentunya. Dia sama seperti mu, melakukan apa saja untuk ku dan aku berhutang budi untuk itu. Satu lagi, saat ini dia juga sedang jomblo karena orang yang dia cintai satunya sudah menjadi istri orang dan yang satu sudah di lamar orang lain. "
Tari terpaksa menyebut suaminya yang terbaik karena tidak tega melihat perubahan pada raut wajah suaminya, sebelum pergi Tari membisikkan sesuatu pada Ilmi dan Pria itu mengangguk sambil tersenyum.
" Sudah sayang, jangan terlalu lama dekat dengan nya. " El langsung memeluk Istrinya dan membawanya menjauh dari Ilmi.
Tari dan juga El berpamitan karena mereka harus kerumah Mama Aini, malam ini mereka akan menginap disana karena permintaan orang tuanya itu.
" Mel, maaf ya. Aku tidak bisa mengantar mu, kami harus segera pulang kerumah Mama. Kalau tidak keberatan kamu sama Ilmi saja ya, nanti dia yang akan mengantarkan mu pulang dengan selamat. "
Ilmi tersenyum begitu juga dengan Imel, mereka berdua tidak ingin mengganggu pasangan pengantin baru itu. Tiba-tiba mereka di kejutkan dengan sikap El yang tiba-tiba memeluk Ilmi.
" Makasih Bro, makasih atas semua kebaikan mu padanya, makasih karena kamu sudah menjaganya untukku selama ini, aku berhutang budi padamu. " Bisik El.
Tentu saja Ilmi merasa senang, Ia membalas pelukan El sambil tersenyum lebar.
__ADS_1