
Alvin tanpa sadar senyum- senyum sendiri melihat interaksi antara Risma dan juga Bundanya. Nampak jelas kalau sang Bunda sangat menikmati kebersamaan mereka.
" Wah ternyata Dokter pandai masak juga, paket komplit deh. Sudah cantik, baik lagi dan ini makanannya benar-benar enak, bahkan lebih enak dari makanan restoran loh. "
Bu Winda langsung memuji kepandaian Risma dalam hal mengolah masakan ketika selesai mencicipi nya.
" Ah Ibu terlalu berlebihan, Risma juga baru belajar masak. "
Mereka menata semua menu yang sudah mereka eksekusi hari ini.
" Alvin, waktunya makan siang. Kita makan siang bareng Dokter yuk. "
Alvin bergabung, Ia duduk berseberangan dengan tempat duduk Risma, Bu Winda mengambilkan nasi dan lauk untuk Alvin. Ketika hendak mengambilkan untuk Risma, Dokter cantik itu menolak.
" Biar saya saja Bu, saya bisa sendiri. "
Risma mengambil menu makan siang untuk nya sendiri dan makan dengan tenang. Alvin melihat kedua wanita yang sudah makan lebih dulu, Ia menatap makanan miliknya yang berada di depannya. Awalnya Ia ragu, Alvin trauma pada rasa makanan yang pernah Ia makan sebelumnya.
" Alvin. " Tegur Bu Winda ketika melihat sang Putra hanya melamun saja.
Alvin tersenyum dan mulai memakanan hidangan di depannya, Ia terkejut ketika suapan pertama masuk kemulut nya.
" Kenapa Pak, apa rasanya tidak nyaman. "
Risma bertanya hati- hati, itu dikarenakan Alvin seakan enggan untuk menyantap menu makanan yang Ia buat.
Bu Winda melototkan matanya pada Alvin, bisa- bisanya Ia bertingkah seperti itu di depan Dokter Risma.
" Ah Dokter, tidak apa. Mungkin Alvin terkejut karena rasanya yang nyaman, benarkan Alvin. "
Alvin mengangguk dan mulai menyantap makanan lezat di hadapannya, sudah lama Ia tidak memakan masakan rumahan seperti itu.
Bu Winda tersenyum melihat Putranya begitu lahap seakan sangat menikmati menu makan siang mereka.
Sore hari, akhirnya Risma berpamitan pulang. Bu Winda rasanya enggan melepas kepulangan Risma, bersama gadis itu sebentar saja sudah membuat Bu Winda menyukainya.
" Biar saya yang antar Bu. "
Risma mengangguk, Bu Winda mengantar sampai di pintu gerbang.
" Hati-hati di jalan Nak, makasih ya sudah menemani Bunda. Kapan- kapan kalau ada waktu, kemari lagi ya. "
Bu Winda tersenyum Ia memandangi mobil Alvin sampai hilang di tikungan, di dalam mobil Risma memilih diam. Alvin merasa segan, padahal sejatinya Ia ingin mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
" Makasih Bu, makasih sudah buat Bunda senang. Oh ya, boleh minta...... nomor telpon. "
Alvin salah tingkah, Ia malu dan menyesal sudah meminta nomor ponsel wanita itu.
" Maaf, maaf kalau saya terlalu lancang. "
Risma tersenyum, Ia mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Alvin.
" Ini, ketik saja nomor Bapak disitu soalnya aku juga tidak hafal nomornya. "
Risma memang belum hafal nomor ponselnya, karena Ia baru saja mengganti nomornya ketika Ia pindah ke Jakarta.
" Oh.. baik. "
Alvin menuliskan nomornya dan mencoba menghubungi nomor ponselnya, setelah itu Ia menyerahkannya kembali pada Risma.
" Makasih, oh ya tunggu sebentar. "
Alvin berlari kecil mengambil sebuah amplop di mobilnya.
" Ini untuk mu. "
Alvin menyerahkan sebuah amplop berisi uang untuk melunasi perjanjian mereka sebelumnya.
" Ini sebagai ucapan terima kasihku, karena Dokter sudah berhasil membuat Bunda bahagia. "
Risma terkejut, Ia tidak menyangka kalau Pria itu benar-benar akan menghargai pekerjaannya hari ini dengan uang.
" Maaf, saya tidak mengharapkan balasan apapun dari apa yang saya lakukan hari ini. Saya bersyukur bisa membantu orang lain, uangnya Bapak simpan saja. "
Risma menyerahkan kembali amplop itu ke tangan Alvin, mau tak mau Alvin mengambilnya kembali.
" Benar nih tidak apa- apa. "
" Iya tidak apa- apa Pak, kalau begitu saya masuk duluan. "
Risma meninggalkan Alvin seorang diri, karena Ia tidak nyaman dengan para tetangganya kalau sampai melihat dirinya membawa pulang seorang Pria.
" Dok tunggu. "
Risma menghentikan langkah nya dan menoleh.
" Iya, ada apa Pak. " Tanya Risma.
__ADS_1
Alvin mempertahankan jempolnya, hal yang Ia lakukan tiap kali merada gugup.
" Makasih Dok, oh ya. Makasih juga buat makan siang nya. Makanannya sungguh sangat enak. "
Alvin merasa malu setelah Ia usai berkata jujur.
" Ah sama- sama Pak. "
Karena merasa malu akhirnya Alvin pamit pulang.
\*\*\*
Sudah seminggu semenjak kedatangan Risma kerumah Alvin, tanpa sengaja Ia meninggalkan sesuatu disana. Bu Winda selalu mengintip melalui jendela ketika sang Putra kembali, berharap Alvin kembali bersama wanita yang Ia harapkan namun ternyata Bu Winda selalu kecewa.
" Ada apa Umi, kok makanannya nggak dimakan. Apa Umi sakit, kita ke rumah sakit yuk. "
Alvin sangat menyayangi sang Ibu, apapun akan Ia lakukan untuk membuat wanita yang melahirkan nya itu bahagia.
" Bunda tidak apa- apa. " Jawab Bu Winda.
Alvin memperhatikan gerak gerik Bundanya, Ia ingin tau apa yang terjadi padamu.
Bu Winda memandangi layar ponselnya seraya mengusapnya pelan, Alvin mendekat secara diam-diam diam. Ia terkejut ketika melihat siapa yang ada di layar ponsel Bundanya.
Hatinya miris melihat kondisi Bundanya sekarang. Alvin mengeluarkan ponselnya, Ia mengklik beberapa kata disana.
" Bunda, ini. "
Alvin menyerahkan ponselnya pada Bundanya
" Ada apa Nak. " Tanya Bu Winda.
" Itu lihat saja. "
Bu Winda melihat ponsel Putra nya, terlihat sedang melakukan panggilan, tiba- tiba senyumnya merekah sempurna.
" Dok, Dokter.... eh iya waalaikum salam. "
Alvin meninggalkan Bundanya di sofa, Ia memantau dari jauh sambil ikut tersenyum. Alvin tidak menyangka kalau Bundanya akan langsung ceria ketika Ia berbicara dengan Dokter Risma.
" Ya Allah, apa aku salah telah mengajak Dokter Risma kemari. Bagaimana kalau Bunda..... ah tidak. Ini tidak mungkin, aku tidak mungkin akan terus merepotkan Dokter Risma. " Gumam Alvin.
Alvin terus memperhatikan gerak gerik Bundanya, Ia ikut tersenyum namun juga dilema. Ia tidak menyangka bahwa Dokter Risma mampu merebut hati Bundanya, terbukti beliau sangat bahagia ketika mendengar suara Dokter wanita itu.
__ADS_1