
Bagus dan juga Aini masih setia menunggu di parkiran dengan hati yang berdebar hebat, demi kelancaran usaha mereka kali ini Bagus bahkan meminta supir pribadi Arka untuk kembali lebih dulu. Setelah lama menunggu akhirnya bel sekolah pun terdengar berdering pertanda jam pelajaran telah berakhir, satu persatu murid nampak keluar dari gerbang sekolah di jemput oleh keluarga nya masing-masing.
Arka mencari keberadaan Pak Ardi namun tidak Ia temukan.
" Dimana Pak Ardi kok nggak ada, apa tadi pulang dan belum kembali ya. Sekarang gimana caranya Arka pulang ke rumah, Oma sama Mama pasti khawatir kalau Arka terlambat pulang. " Gumam Arka.
Aini mendekat dengan wajah berbinar, menatap bocah tampan di hadapan nya sama seperti dirinya mengulang masa dua puluh sembilan tahun yang lalu. Bocah menggemaskan itu sama persis seperti Putra mereka ketika masih mengenyam pendidikan di sekolah dasar.
" Sayang... .. ! " Sapa Aini dengan senyum merekah.
Arka menoleh dan melihat Aini yang melangkah ke arahnya.
" O, Oma...... "
Aini mengangguk pelan dan berjongkok ketika berada di depan Arka.
" Oma, sama siapa kemari. " Tanya Arka.
Sebenarnya Ia masih bingung mencari supir pribadi yang di tugaskan mengantar jemput dirinya setiap hari.
" Oma sama Opa, tapi Opa nya ada di mobil sayang. "
Arka menatap mobil yang di tunjuk Aini dan secara bersamaan ada seseorang Pria turun dari sana dan melangkah ke arah mereka.
Degghh !
Jantung Bagus berdegub kencang ketika melihat tatapan mata bocah laki-laki di depannya. Senyumnya tanpa di komando langsung terbit di sudut bibirnya.
" Mas. " Aini menyapa suaminya yang sudah berdiri tak jauh dari mereka berdua.
" Ayo Ma, ajak Arka pulang. Lihatlah, hampir semua murid sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, apa masih nunggu orang lain. "
Aini menatap suaminya dan Arka bergantian masih dengan senyum yang mengembang.
" Sayang.....
" Bolehkah Arka ikut Oma, soalnya Pak Ardi sepertinya belum datang. "
__ADS_1
Aini menghentikan ucapannya ketika mendengar permintaan cucunya itu, niat hati ingin membujuk Arka agar pulang dengan mereka ternyata takdir mempermudah mereka bersama tanpa harus susah payah.
Aini langsung merubah raut wajahnya, kali ini lebih bercahaya seperti mentari di pagi hari.
" Ah, tentu saja boleh dong sayang, benar kan Opa. " Aini sengaja meminta pendapat suaminya.
Bagus akhirnya mendekat seraya mengangguk, Ia memberanikan diri menyentuh kepala bocah laki laki itu.
" Boleh dong Nak, ayo kita berangkat sekarang. Opa sama Oma kebetulan juga mau kerumah Arka. " Tidak bisa di uraikan bagaimana bahagianya Bagus saat ini.
Hanya dengan melihat tatapan mata bocah itu, Bagus sudah sangat yakin kalau bocah laki laki itu memang adalah cucu kandung mereka, penerus Atmajaya corporation di masa akan datang.
Senyum mengembang di bibir Arka, Ia meraih lengan Aini yang ingin menggandeng tangannya.
Mobil melesat meninggalkan area sekolah, Bagus menatap bahagia Istrinya yang sedang asyik bercengkrama dengan Arka di kursi belakang melalui kaca spion. Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati, tidak pernah terbayangkan akan mendapatkan kejutan yang memang sudah lama mereka impi impikan, meskipun kehadirannya melalui hubungan yang salah.
" Tidak ada yang salah, Opa akan membuat semuanya menjadi jelas Nak. Bagaimana pun latar belakang hadirnya kamu di keluarga ini, tidak ada yang bisa mengubah kalau kamu itu adalah cucu kami. " Batin Bagus.
Sesampai di tempat tujuan Bagus lebih dulu turun dan membukakan pintu untuk sang Istri tercinta dan juga bocah tampan yang terlihat sangat menggemaskan itu.
" Ayo sayang, pelan pelan saja. " Aini membantu Arka turun dari mobil dan kembali menggandeng nya masuk.
" Apa apaan si Ardi, di suruh jemput Arka pulang malah kempes ban segala. Bagaimana keadaan Arka disana, pasti Dia saat ini ketakutan karena semua teman temannya sudah pasti pulang. "
Maudy berlari kecil terburu-buru menuruni anak tangga, Ia benar-benar khawatir saat ini.
" Assalamu'alaikum. "Terdengar beberapa orang mengucap salam.
" Waalaikum salam. " Jawab Maudy.
Wajahnya langsung berbinar melihat cucu kesayangan nya sudah ada di depannya. Kabut cemas yang memenuhi rongga dadanya mendadak hilang begitu saja, tapi Ia bingung melihat siapa yang datang bersama Arka.
" Sayang, kamu tidak apa apa kan. "
Maudy langsung jongkok dan memeriksa keadaan Arka kalau kalau ada sesuatu yang tidak baik terjadi dengannya.
" Oma, Arka baik baik saja kok. " Jawab Arka agar Omanya tidak semakin khawatir.
__ADS_1
Merasa di tubuh Arka tidak ada yang mencurigakan akhirnya Maudy bisa bernafas lega, Ia mengembangkan senyum lebar.
" Alhamdulillah Nak, Oma tadi khawatir banget pas tahu Pak Ardi mengalami kempes ban, tapi syukurlah kamu tidak apa apa. "
Maudy meminta Mayra untuk menemani Arka ke kamar serta mengurus semua yang Ia butuhkan.
" Baiklah kalau begitu Arka ke kamar dulu sama Mbak Mayra ya, Oma mau ngobrol sama Oma dan Opa ya. "
Arka mengangguk dan pamit, tak lupa Ia mencium punggung tangan ketiga orang dewasa di depannya.
" Mari Mas, Mbak Aini. " Maudy mempersilahkan kedua saudaranya itu untuk duduk, tak lupa juga Ia meminta pelayan menyiapkan minuman beserta dengan cemilannya.
" Makasih ya Mas, Mbak. Sudah membawa cucuku pulang ke rumah. Maaf, jadi merepotkan kalian, kalau nggak ada kalian aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya. Tapi bagaimana ceritanya Mas dan Mbak bisa pulang bareng Arka tadi. "
Aini menggeleng pelan, Ia tidak setuju dengan ucapan Maudy barusan.
" Cucu kita Cahya. " Ralat Aini sembari melirik kepada suaminya.
" Tidak ada yang merasa di repotkan Dek, kenapa kamu tidak mengatakan semua ini dari dulu. "
Suara Bagus seperti biasa terdengar menakutkan bagi yang belum mengenal bagaimana aslinya Pria itu, tapi bagi yang sudah mengenal tentu akan merasa sangat nyaman berada di dekatnya.
" Maksud Mas Bagus apa. "
Aini meraih tangan Maudy dan mengelus nya perlahan.
" Maafkan Mbak Cahya, tapi Mbak nggak bisa menyembunyikan kabar bahagia ini dari Mas Bagus. Lagipula Mas bagus juga berhak mengetahui nya. "
Maudy menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan, Ia tahu cepat atau lambat semuanya pasti akan terbongkar. Bukan maksudnya untuk ikut menutupi semua kenyataan ini dari saudaranya, namun Ia juga memikirkan bagaimana perasaannya Putrinya itu.
" Iya Mbak tidak apa apa, cepat atau lambat kalian pasti akan mengetahuinya. Tapi Mbak, Mas Bagus. Maudy mohon, tolong Mas dan Mbak jangan memaksakan keadaan sekarang harus sesuai dengan yang kalian harapkan. Pikirkan juga bagaimana perasaan Putriku, hargai semua perjuangan nya selama ini. Aku yang menjadi saksi bagaimana Ia menderita dan menerima semua siksaan demi mempertahankan janin yang tanpa sengaja hadir di rahimnya saat itu. Janin yang akhirnya berhasil Ia jaga dan menjadi alasan kebahagiaan kalian hari ini. "
Maudy menjeda ucapannya karena dadanya yang terasa sesak, mengingat bagaimana perjuangan mereka selama ini Maudy memaklumi sikap Tari yang takut kehilangan sosok yang sudah menjadi penyemangat hidupnya kini.
" Aku mohon jangan pernah berpikiran untuk memisahkan mereka Mas. " Suara Maudy tercekat di kerongkongan nya.
Bagus menatap adik kesayangan nya itu, adik perempuan satu satunya yang Ia miliki. Ia masih tidak menyangka bahwa selama ini takdir seolah mempermainkan mereka, entah itu baik atau buruk.
__ADS_1
" Aya adik kesayangannya Mas Bagus, apa kamu pikir Mas mu ini seorang mafia yang tidak segan segan menghabisi nyawa orang lain. Mas tidak akan mungkin tega melakukan semuanya, apalagi memisahkan seorang anak dari Ibunya. Alhamdulillah jadi semua ini benar adanya, Dia adalah cucu kandung kita. "
Maudy akhirnya mengangkat wajahnya pelan, Ia langsung berdiri dan menghambur kedalam pelukan saudara tertuanya itu. Ia menangis sesegukan, bahkan air matanya sudah membasahi baju Pria yang masih nampak tampan dan gagah meskipun sudah menginjak usia yang terbilang tidak mudah lagi.