
Tari sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan, seperti biasa Ia yang selalu berbelanja kalau stock di kulkas habis.
Satu persatu berhasil masuk ke dalam troli, ketika akan mengambil sesuatu Ia terkejut karena sebuah tangan juga mengambil barang yang sama. Ia spontan menoleh
" Imel....... ! " Seru Tari ketika melihat siapa yang berada di sampingnya.
" Tari.......! " Kedua saling cipika cipiki
Imel melihat kembali benda di tangannya, Ia tersenyum karena ternyata tamu mereka sama sama datang. Ternyata tidak ada yang berbeda dulu dan sekarang.
" Ah ini untuk mu saja Ri. " Imel menyerahkannya pada Tari.
Karena memang stock nya seperti nya hanya tersisa satu, Tari pun merasa tidak enak hati.
" Buat kamu saja Mel, aku bisa beli yang merek lain saja. Dari dulu kan kamu cocoknya yang itu, berbeda dengan aku. Aku bisa yang mana saja. "
Imel akhirnya mengalah dan meletakkan nya kedalam troli nya, mereka akhirnya berbelanja berdua sambil bercerita banyak hal.
" Mel, kan kita lama tidak jalan jalan, bagaimana kalau kita makan bersama. Itu juga kalau kamu nggak sibuk sih. "
Imel langsung mengangguk setuju, karena saat ini dirinya memang sedang butuh teman curhat.
" Boleh, tapi kali ini aku yang traktir ya. "
" Iya deh, lumayan duit jajanku nggak jadi berkurang. " Keduanya tertawa bersama.
Mereka menuju tempat kuliner yang juga masih di dalam kawasan pusat belanjaan itu, memesan makanan favorit mereka. Keduanya sama-sama tidak sabar ingin mencicipi hidangan yang sudah tersedia di depan mereka.
" Wow ini seperti nya sangat lezat, yummy. Lama aku nggak makan seperti ini. " Imel berkata jujur.
Bukan Ia tak mampu membeli jajanan pasar itu, tapi setiap kali ingin membeli nya Ia selalu teringat Tari yang saat itu tidak di ketahui dimana rimbanya.
" Lama, maksudnya apa Mel. Jangan bilang selama nggak ada aku kamu nggak bisa beli ini. "
__ADS_1
Imel tertawa kecil dan kemudian menggeleng
" Bukan begitu Ri, tapi setiap aku ingin membeli ini aku selalu teringat padamu. "
...----------------...
Tari mengetuk ngetukkan alat tulis yang ada di tangannya, Ia langsung kembali setelah mengantar Imel ke apartemen nya. Akhirnya Tari tahu dimana sahabatnya itu tinggal.
" Aneh, bukankah Kevin mengatakan kalau Imel sedang hamil tapi tadi kenapa Imel membeli... .. Ada apa ini sebenarnya. " Gumam Tari
Keningnya sampai berkerut memikirkan misteri tentang sahabatnya.
" Sepertinya ada yang tidak beres dan aku tidak bisa tinggal diam. " Gumam Tari lagi.
Ia merogoh ponselnya dan mengetik beberapa kata disana kemudian mengirimkannya untuk seseorang.
Sementara di tempat lain terjadi perdebatan hebat.
" Kamu dari mana saja ha..... ! bukankah aku sudah melarang mu untuk keluar rumah. Apa susahnya kalau kamu itu tinggal disini, jangan kemana mana. "
" Kamu aneh deh Vin, benar benar aneh. Apa salahnya kalau aku keluar sebentar. Aku juga keluar bukan untuk melakukan sesuatu yang merugikan atau menjual diriku. Apa ada yang kamu sembunyikan dariku Vin, apa kamu takut kalau aku akan lari atau aku akan membuatmu dalam masalah kalau aku keluar. " Tanya Imel yang sudah tidak tahan dengan sikap Kevin
Kevin yang sudah di kuasai emosi menatap Imel dengan tatapan seperti ingin membunuh, matanya serta wajahnya memerah dengan tangan mengepal.
" Diam......! " Bentak Kevin.
Imel terkejut mendengar bentakan Kevin yang memenuhi seisi ruangan tempat mereka berada.
" Kalau aku bilang diam ya diam, apa kamu faham Imelda.....! Jangan buat aku terpaksa berlaku kasar padamu. "
Imel melihat kilatan kemarahan yang baru pertama kali Ia lihat, biasanya Pria itu hanya menegur dirinya dan kemudian memilih pergi.
" Vin, apa ini maksud kamu mengajakku kemari, dengan mengurung diriku disini. Sudah cukup, aku tidak tahan lagi Vin. Aku ingin kembali ke Jakarta sekarang juga dan jangan pernah mencoba menghalangi aku. "
__ADS_1
Imel melangkah dengan cepat ke kamarnya mengambil koper miliknya, Kevin yang kebingungan mengejar Imel kedalam kamar gadis itu.
" Berhenti atau kamu akan menyesali semua perbuatan mu. " Bentak Kevin lagi.
Imel tidak peduli, Ia tetap melanjutkan aktivitas nya memasukkan semua barang barang miliknya membuat Kevin jadi murka.
Ia menarik tubuh Imel menghadap nya dan dengan cepat ******* bibir merah muda milik Imel, tangannya pun tidak tinggal diam bergerilya di tubuh gadis itu.
Imel menjadi ketakutan, tubuhnya gemetan akibat perbuatan Kevin. Ia memukul mukul dada Pria itu karena tidak memberinya waktu untuk bernafas. Aktivitas nya terhenti ketika ponselnya berdering, dengan cepat Kevin merogoh nya sedangkan Imel langsung terhuyung ke lantai, karena kakinya seakan tidak bisa menopang tubuhnya.
Kevin menatap Imel dan kemudian berlari keluar dari kamar Imel dan menguncinya dari luar.
" Jangan pernah kamu menguji kesabaran ku Imel, atau aku akan melakukan hal yang lebih kejam dari ini yang tidak kamu sangka sangka. " Itu yang di katakan Kevin sebelum akhirnya keluar.
Imel mengelus bibirnya yang terasa memanas dan membengkak, Ia tidak menyangka akan mendapatkan serangan seperti saat ini.
Imel berlari ke arah pintu dan menggedor gedor pintu itu namun tentu saja tidak bisa terbuka atau di bukakan oleh Pria itu.
" Aku harus pergi dari sini, tapi bagaimana caranya. "
Imel benar-benar di buat ketakutan dan bingung, Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ingin menghubungi sahabatnya tapi ponselnya saja di pegang oleh Kevin. Ia berlari ke arah balkon dan menatap ke bawah, berharap bisa kabur dari sana tapi ternyata terlalu tinggi. Kalau pun Ia berhasil sampai kebawah belum tentu juga nyawanya tertolong.
" Ibu...... Tari..... tolong aku. Keluarkan aku dari sini. " Imel menjerit seorang diri.
Ia akhirnya hanya bisa duduk dan menangis di balkon berharap ada yang membawanya pergi dari sana.
Di dalam mobil, Kevin masih saja di kuasai amarah. Belum masalah Imel sekarang di tambah lagi laporan dari orang orang kepercayaan nya. Ia mengemudi mobil dengan ugal ugalan, tanpa memikirkan keselamatan pengguna jalan lainnya. Pikiran nya sudah kalut ingin segera sampai di tempat tujuan.
" Cari Dia dan juga anaknya itu sampai ketemu, bawa kehadapan ku hidup atau mati. " Titahnya dengan suara keras pada sambungan telpon.
Berulang kali Ia menghubungi nomor orang yang di katakan hilang itu, namun nomornya tidak bisa di hubungi.
" Sial, jangan sampai Dia masih hidup dan buka mulut mengenai semuanya sebelum aku mencapai tujuan ku. "
__ADS_1
Saking emosinya Kevin sampai menghempaskan ponselnya ke lantai, alhasil ponsel mahal itu hancur seketika. Napasnya masih turun naik, waktunya tinggal dua hari lagi untuk mendapatkan semua yang Ia inginkan selama ini.
Selama ini usahanya selalu lancar, namun tiba tiba menjadi kacau. Itupun terjadi di hari hari terakhir kemenangan nya.