
Tari akhirnya mengalah, setelah menyelesaikan tugasnya Ia segera kembali ke ruangannya dan ternyata El masih setia menunggunya disana.
" Astaghfirullah nih orang, apa nggak ada kerjaan lain apa Dia. " Batin Tari malas.
El masih setia duduk di tempat semula sebelum Tari meninggalkan nya, hanya saja pagi tadi El duduk santai. Yang membedakan sekarang, Pria tampan itu tertidur dengan tangan masih menyilang di depan dada.
" Ehmm... Em. ... Ahhhh. .. " El membuka matanya pelan dan sedikit meringis karena tubuhnya merasakan ketidak nyamanan, mungkin karena tidak biasa tidur sambil duduk.
" Apa sejak tadi kamu disini saja dan tidak kemana mana. " Tanya Tari.
Ia berharap ketika Ia pergi Pria itupun akan pergi juga, namun ternyata harapannya salah. Pria itu membuktikan ucapannya, dengan menunggu sampai Tari menyelesaikan pekerjaan nya.
" Ya ! bukankah aku sudah mengatakan itu padamu tadi pagi. "
Tari segera merapikan barang barangnya Ia ingin segera pulang.
" Buruan El, mau pulang apa mau lanjutkan lagi tidurnya. " Ucap Tari sembari berlalu pergi.
Brukhh. ! karena terkejut lututnya dan perkakas nya terbentur meja.
" Aduhh...... " El merintih karena merasakan ngilu yang hebat.
" Aduh es mambo ku..... Eh Ri, tunggu aku. " El berlari kecil sambil menahan si junior yang masih terasa sakit.
Tari melirik ke arah El, Ia heran melihat tingkah laki laki itu.
" Kamu kenapa El, apa ada yang salah. Apa tidurmu tadi belum puas, kenapa wajah mu memerah gitu, dan itu. Kenapa jalan mu aneh, kaya anak kecil yang habis sunatan. "
El mendadak malu, Ia tidak mungkin mengatakan kalau Es mambonya baru terbentur dan rasanya ngilu sekali.
" Ah nggak apa apa, ayo. Sini, mana kuncinya. Biar aku yang nyetir. " El mencoba melangkah dengan benar, Ia menerima kunci mobil dari Tari.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Tari hanya diam saja. Ia memperbaiki duduknya dan tanpa Ia sadari sudah tertidur dengan posisi duduk.
" Ri, bagaimana menurut mu kalau ternyata yang di jodohkan Mama dan juga Tante itu adalah kita. Kamu yang di inginkan Mama untuk menjadi menantunya, bagaimana tanggapan mu. "
El bertanya sambil terus fokus menyetir, detik berlalu namun tidak ada jawaban.
__ADS_1
" Ri...... "
Karena tidak ada jawaban El pun menoleh dan terkejut melihat ternyata orang yang di ajaknya bicara sudah tertidur. Berarti sejak tadi Ia bicara sendiri. El menghentikan mobilnya, Ia memandangi wajah cantik Tari. Menyibak anak rambut yang menutupi wajahnya, dan nampaklah wajah cantik meskipun nampak sedang lelah.
El menggeleng pelan, bisa bisanya wanita itu tertidur disaat sedang bersama orang lain. Apa Ia tidak takut kalau orang lain itu akan berbuat jahat padanya.
El terus menatap wajah Tari, fokusnya beralih melihat bibir merah walau tanpa lipstik. El berulang kali menelan salivanya sendiri ketika menatap benda merah itu dan juga menuruni leher jenjang putih bersih itu.
Tanpa sadar Ia sudah mendekatkan wajahnya, semakin dekat hingga terdengar bunyi klakson bersahutan dan seseorang mengetuk kaca mobil.
" Hei Pak, lihat tuh di belakang. Bapak sudah membuat kemacetan. "
El menoleh kebelakang dan benar saja dirinya sudah menghalangi jalan sejak tadi.
" Ah, i- iya Pak, sebentar. " El mengusap wajahnya kasar dan segera melakukan kembali mobil miliknya.
Sesekali Ia melirik wanita yang tertidur di sampingnya, bibir merah itu masih saja menarik perhatian nya, begitu juga sesuatu di bagian bawah tubuhnya yang seperti nya mulai bereaksi ingin di keluarkan dari dalam sangkarnya.
El melangkah masuk lebih dulu setelah tiba di kediaman Maudy, Ia tidak tega membangunkan Tari. Ingin menunggunya namun takut kalau dirinya tak mampu menahan sesuatu yang terus saja menyiksanya.
" Aku nggak tega membangunkan nya, biarkan saja Dia tidur, Pak Ardi hanya cukup melihatnya sekali sekali, oh iya kalau perlu tutup saja gerbangnya, jangan sampai ada orang yang bermaksud jahat. "
Ardi mengangguk dan segera menutup gerbang sementara El berlari kedalam rumah, Ia harus segera menenangkan juniornya yang terasa memenuhi bagian bawahnya.
" Ahhh...... sial, ngapain bangun. " Gerutu El sambil mengguuur tubuhnya di bawah shower.
Setelah sekian lama adik kecilnya itu akhirnya bangun, seolah ingin buka puasa. El merasa heran kenapa bagian bawahnya bisa bereaksi ketika melihat Tari, padahal selama ini Ia selalu melihat Vania berpakaian lebih terbuka dari itu bahkan sengaja menggodanya namun juniornya tidak pernah seperti ini.
El keluar setelah merasa segar, Ia mengenakan pakaian nya kembali karena tidak membawa baju ganti.
ceklek. ! Bunyi pintu terbuka.
Tari terkejut melihat ada orang lain di kamarnya, Ia yang baru masuk sedangkan El juga baru keluar dari kamar mandi.
" El, ngapain kamu di kamar ku. " Tanya Tari yang masih berdiri di depan pintu.
El mendadak gugup, Ia menjawab dengan terbata bata.
__ADS_1
" A, aku.... aku mengantuk Ri, kamu tahu kan kalau aku tadi tidurnya belum puas. Jadinya aku langsung numpang mandi, apa tidak boleh. "
Tari enggan untuk berdebat karena Ia pun sama, rasa ngantuk masih saja menderanya. Ia melangkah masuk dan menggeleng geleng kepalanya dengan keras, hal yang Ia lakukan ketika merasa tidak nyaman pada kepalanya. Biasanya kebiasaan itu selalu mujarob apalagi sampai berbunyi krek krek duh kepala terasa ringan.
" Ya sudah El, sekarang cepat keluar, karena aku juga ingin membersihkan diri. "
El segera mengambil langkah kaki seribu, Ia tidak mau mengulang mandi yang kedua kali.
...----------------...
" Apa yang ingin kamu bicarakan El. " Tanya Tari ketika hanya mereka berdua di dalam ruang kerja Tari.
El duduk di sofa sedang Tari duduk di kursi kebesaran nya.
" Ini soal......
Tari menunggu lanjutan dari ucapan El namun tidak terdengar lagi.
" Soal apa, kenapa kamu mendadak lemot. "
" Ini soal perjodohan. " Jawab El dengan suara pelan.
Tari tersenyum miring, Ia melangkah ke arah jendela membukanya agar ada udara bebas masuk dari sana.
" Perjodohan, lalu apa hubungannya dengan ku. Kamu dari pagi bela belain nungguin aku hanya untuk membicarakan ini. "
El menatap Tari, Ia bingung apa harus Ia katakan yang sebenarnya tentang perjodohan itu.
" Iya Ri, tentu saja ada hubungannya dengan mu. "
Tari menatap El sekilas dan kembali menatap keluar.
" Kenapa dengan ku, apa karena Arka. Soal Arka kamu tidak perlu khawatir, karena dengan siapapun kamu berjodoh tidak akan ada yang bisa memungkiri kalau dia adalah Putramu. "
Senyum terbit di sudut bibir El, entah mengapa Ia begitu bahagia mendengar ucapan Tari.
" Ri, bagaimana kalau yang di jodohkan Mama denganku itu adalah kamu. " El menunggu reaksi Tari, bagaimana reaksi wanita itu ketika mendengar apa yang Dia ucapkan.
__ADS_1