Super MOM

Super MOM
Membuka lembaran baru


__ADS_3

Tiara sedang duduk melamun di tempat duduknya, Ia di kejutkan dengan seseorang yang memberikannya coklat, dengn malas Tiara menoleh untuk melihat siapa si pemilik tangan itu.


" Kamu Arka, sudah balik sekolah lagi ya. "


Arka mengangguk dan tersenyum


" Nih ambil dulu, tanganku pegal tau. "


Arka masih menyodorkan satu kotak berisi coklat, dengan malas Tiara mengambilnya.


" Kalau pegal ngapain susah- susah bawain buat aku, aku kan nggak minta. "


Arka tertawa cool, tawa yang jarang Ia lakukan. Hanya orang-orang khusus yang bisa melihat tawa juga senyumnya.


" Ngapain senyum- senyum gitu, jelek tau. "


Tiara masih berucap ketus pada Arka, itu semua di sebabkan suasana hatinya yang kurang baik.


" Biarin jelek, memangnya kenapa kalau aku jelek. Atau jangan- jangan karena aku jelek jadi kamu jutek sama aku seperti itu, apa benar begitu. "


Arka kembali ketempat duduknya dengan wajah di buat sedemikian rupa, Tiara yang melihat itu menjadi tidak enak hati. Dia pun berdiri dan menghampiri Arka.


" Maaf, kamu ganteng kok. Makasih kotak hadiahnya. "


Tiara semakin merasa tidak enak hati karena Arka cuek padanya.


" Ar..... Ar.... maaf. "


Tiara memanggil Arka dan mencolek- colek lengan bocah tampan itu, Ia menyatukan kedua tangannya di depan wajahnya sebagai tanda permintaan maafnya.


" Ar, kamu benar-benar marah padaku. "


" Duduklah Ra, sebentar lagi para murid yang lain akan berdatangan karena jam pelajaran akan segera dimulai. "


Tanpa melihat Tiara, Arka meminta gadis cantik itu untuk duduk. Tiara kembali ketempat duduknya yang berada berseberangan dengan tempat duduk Arka, hatinya masih gelisah karena Arka belum memaafkannya.


" Dasar kulkas, apa Dia marah karena aku bilang jelek. Ish dasar, nyebelin banget. " Batin Tiara.


Berbeda dengan Tiara, Arka justru tertawa dalam hati melihat reaksi Tiara ketika Ia pura-pura cuek.


\*\*\*


Di rumah sakit

__ADS_1


Ilmi jadi sering uring- uringan, Ia rindu perhatian dari Risma. Biasanya tak kenal waktu, gadis itu datang menghampirinya. Meskipun yang Ia dapatkan hanyalah penolakan.


" Bro, aku punya kerjaan untuk mu. "


Ilmi akhirnya menghubungi seseorang yang selama ini sering Ia mintai tolong.


" Tolong kamu cari keberadaan seseorang, nanti aku kirim informasi lengkapnya padamu melalui email. "


Ilmi berharap dengan ini Ia bisa menemukan keberadaan Risma.


" Kamu pending saja yang lain, aku akan bayar kamu dua kali lipat jika kamu bisa berhasil menemukan keberadaan nya sekarang. "


Di tempat lain.


" Dokter Risma, pasien di kamar melati meminta ijin untuk bertemu sebelum pulang, apakah Dokter bisa menemuinya atau.....


" Saya akan menemuinya Sus, Terima kasih. "


Penampilan sekarang berbeda dengan yang dulu, dulu Ia begitu ceriah ketika bersama Tari dan juga Ilmi. Tapi disini Ia belum terlalu mengenal banyak orang jadi Ia terkesan dingin pada semua orang.


" Baik Bu. "


Risma berjalan menuju ruang tempat pasien pertama yang berakhir sembuh dalam perawatannya.


Bu Winda tersenyum bahagia, wanita berumur sekitar lima puluh tahun itu nampak sudah segar bugar.


" Waalaikum salam, alhamdulillah baik. Ini semua berkat kebaikan Dokter cantik. "


Risma tersenyum dan semakin memancarkan aura kecantikan nya.


" Ibu bisa saja, ini bukan karena saya tapi karena semangat Ibu yang tinggi buat sembuh. Oh ya, Ibu akan pulang hari ini. Apa keluarga Ibu sudah dikabari. " Tanya Risma.


Bu Winda mengangguk, dengan senyum masih terpancar di wajahnya.


" Sudah Bu, ada anak saya. Mungkin sebentar lagi datang. "


Ternyata benar, baru juga Bu Winda selesai bicara terdengar pintu di ketuk dari luar.


" Assalamu'alaikum Bunda. "


Seorang Pria tampan nampak memasuki ruangan dan berlari kecil memeluk Bu Winda.


" Waalaikum salam. " Jawab Bu Winda dan juga Risma.

__ADS_1


Risma memandang pemandangan yang menyejukkan hati, seorang anak yang begitu menyayangi Ibunya.


" Bunda bagaimana keadaan nya sekarang, apa sudah enakkan. Kalau masih sakit biar Bunda dirawat disini dulu, Alvin tidak mau Bunda sakit kembali. "


Pria itu bahkan tidak menyadari ada orang lain, mungkin karena fokusnya hanya pada Bundanya.


" Sayang, kenalin. Ini Dokter Risma, Dokter yang merawat Bunda selama disini. "


Alvin menoleh kebelakang dan membungkukan sedikit tubuhnya sebagai ucapan salam. Risma pun melakukan hal yang sama.


" Ya sudah Bu, sekarang keluarganya sudah datang. Saya pamit dulu, Ibu jangan lupa untuk tetap jaga kesehatan. Obatnya diminum secara teratur ya, semoga Ibu selalu sehat. "


Risma meninggalkan ruangan Bu Winda setelah selesai berpamitan, masih banyak lagi pasien yang membutuhkan bantuannya.


" Dok, Dokter Risma. "


Risma menghentikan langkahnya ketika mendengar seseorang memanggilnya.


" Iya Pak. "


Risma melihat ternyata yang memanggilnya adalah anak dari pasien yang Ia rawat.


" Makasih, makasih karena sudah merawat Bunda saya. "


" Sama-sama Pak, sudah menjadi tugas saya. "


Keduanya langsung diam, bingung karena tidak ada yang mereka bicarakan.


. " Ah maaf Pak, kalau sudah tidak ada yang di bicarakan saya ijin pamit keruangan saya. Oh ya, tolong Bu Winda diberi perhatian yang cukup, sebab seorang Ibu bukan hanya mementingkan materi namun lebih kearah perhatian dari keluarga. Ya sudah, saya pamit dulu, Assalamu'alaikum. "


Alvin memandangi langkah kaki Risma, Ia masih menimbang- nimbang apa yang baru saja di katakan wanita itu.


" Apa benar kalau selama ini Bunda merasa kesepian, tapi Bunda tidak pernah mengatakan itu. " Batin Alvin.


Risma kembali disibukkan dengan rutinitasnya di rumah sakit, disini Ia nampak sibuk, berbeda dengan ketika berada di surabaya. Disana Ia hanya mengerjakan beberapa tugas, meskipun begitu Ia mencoba menikmati semua status barunya di kota yang baru.


Di pandangi nya foto seseorang yang Ia jadikan wallpaper di ponselnya, Ia nampak mengotak- ngatik ponselnya itu.


" Mungkin sekarang waktunya aku melupakan mu, semoga kamu bahagia dengan orang yang benar-benar mencintaimu Mas. " Gumamnya.


Ia menggirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya kembali, perlahan Ia mencoba melupakan semua kenangan yang membelenggu hatinya selama beberapa tahun.


Bertepuk sebelah tangan rasanya tidak mudah, tapi lebih sulit lagi mencoba melupakan semuanya dan membuka hati untuk kebahagiaan diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2