
Alvin uring- uringan, pasalnya sudah tiga wanita yang Ia bawa pulang kerumah namun tidak ada satupun yang bisa merebut perhatian Bundanya.
" Alvin, apa - apaan ini. Kamu bawa wanita yang seperti apa, tidak ada satupun yang bisa jadi calon Istri yang baik untuk kamu. Apa kamu ingin membunuh Bunda secara pelan- pelan. "
Bu Winda mengingat satu demi satu wanita yang di bawa pulang oleh Alvin.
Wanita pertama langsung di tinggalkan begitu saja oleh beliau, karena pakaian nya yang begitu terbuka, sehingga membuat Bu Winda ngeri sendiri.
" Haish anak perempuan jaman sekarang, pakai baju begitu. Belum selesai di jahit sudah di pakai. " Bunda Winda bergidik ngeri.
Wanita yang kedua datang namun tidak lolos tes, begitu juga wanita yang ketiga. Ia langsung memperkenalkan namanya.
" Nama saya Lena Bun, saya kekasihnya Putranya Bunda. "
Bunda Winda manggut-manggut memperhatikan penampilan Lena, lumayan menurut beliau karena wanita itu berpenampilan sopan.
" Baiklah, ikut Bunda. "
Lena mengekor di belakang Bunda sampai kedapur.
" Coba buka kulkas, apa yang bisa kamu buat untuk makan siang jika nanti suami mu meminta makan tiba-tiba. "
Lena yang memang menaksir Bos besarnya itu berusaha semampunya, Ia berharap bisa lolos tes.
" Saya bisa goreng telur dadar special Bunda. " Jawab Lena dengan membawa dua butir telur di hadapan Bu Winda.
Bu Winda mengerutkan kening, beliau berharap wanita mengolah bahan yang lebih dari sekedar olahan anak kelas satu SD itu.
Tapi beliau juga penasaran dengan hasil dari olahan wanita itu.
" Baiklah, coba kamu masak sekarang. Semua bumbu ada disana. "
Bu Winda menunjuk tempat semua bumbu di simpan. Lena mengangguk dan mulai mengeksekusi dua biji telur yang Ia ambil.
" Mati aku, aku harus masukin apa ini. " Lena memandangi semua bumbu yang ada disana.
Ia ingat Ibunya dirumah, setiap kali Ia pulang wanita itu memintanya untuk belajar masak namun Lena selalu menolak dengan alasan Ia sibuk bekerja. Soal makan bisa tinggal pesan di aplikasi atau warung- warung terdekat.
" Duh, coba bisa telpon Mama, aku bisa nanya goreng telur bumbunya apa. " Batin Lena.
Lena sudah menghabiskan waktu lima menit hanya untuk memperhatikan tempat bumbu.
__ADS_1
" Lena, apa ada masalah. " Tanya Bu Winda masih setia di tempat duduknya.
" Ah nggak ada Bunda, maaf sedikit lama. Maklum ini kan telur dadar spesial. "
Mendengar itu Bu Winda mencoba bersabar, mungkin benar kalau memasak telur spesial butuh waktu lama.
" Sekarang aku harus kasih garam dan penyedap rasa, ini mama garam mana penyedap rasa. "
Lena kembali bingung mengenali mana garam, gula dan penyedap rasa.
" Ayo Ma, garam yang mana dan penyedap rasa yang mana. "
Lena gelisah menunggu balasan dari Ibunya. Ia kembali di kejutkan oleh Bu Winda karena sudah menghabiskan sepuluh menit berdiri di tempat yang sama.
" Ah sudahlah, pakai ini dan juga ini. "
Lena membubuhkan garam, gula dan penyedap rasa. Setelah masak Lena membawanya di depan Bu Winda.
Bu Winda merasa aneh hanya dengan melihat penampilannya.
" Jangan di lihat penampilannya Bun, tapi rasanya yang penting. "
Bu Winda membenarkan apa yang di katakan Lena, Ia memanggil Putranya untuk ikut menikmati olahan wanita yang Ia bawah kerumah.
Satu demi satu menampakkan ekspresi mengerikan, Alvin langsung berlari menuju wastafel dan mengeluarkan isi di mulutnya. Pria itu nampak mencuci mulut disana.
Berbeda dengan Bu Winda, beliau langsung memegang dada dan jatuh dari tempat duduk. Alvin langsung panik begitu juga Lena yang di selimuti kebingungan.
" Menjauhlah Lena, jangan sentuh Bundaku. "
Alvin menepis tangan Lena yang ingin membantu mengangkat tubuh Bu Winda.
" Kamu kenapa sih Vin, aku salah apa. Lagipula Bunda saja lebay, masa makan begitu saja pingsan. "
Alvin menatap Lena dengan tatapan penuh amarah.
" Kamu bilang tidak salah Len, coba kamu makan masakan mu itu. Oh salah, bukan masakan tapi racun. "
Alvin menggendong Bundanya keluar, memanggil tukang kebun membukakan pintu mobil.
Lena ikut muntah ketika mencicipi masakan nya sendiri, Ia berlari keluar mengejar Alvin namun ketika tiba di parkiran, mobil Alvin sudah melewati meninggalkan parkiran.
__ADS_1
" Alvin, tunggu. " Teriak Lena.
Lena begitu frustasi ketika sampai dirumah, tadi Ia kembali menggunakan taksi online.
" Apa- apaan sih Lena, kok datang langsung teriak- teriak begitu. Malu tau di dengar tetangga. "
Lena mondar-mandir di depan Ibunya, pikirannya kacau.
" Ma, Lena lagi pusing. "
" Pusing kenapa Nak. " Tanya Ibunya.
Lena menceritakan semua yang terjadi kurang lebih satu jam yang lalu.
" Itulah kenapa Mama memintamu belajar masak. Emansipasi wanita itu memang perlu Nak, tapi jangan lupakan tentang kodrat kita sebagai wanita. Sekaya apapun nanti suamimu, suatu saat Ia pasti minta di layani Istrinya. Memakan masakan Istrinya sendiri, sekarang tunggu apalagi. Kamu ke rumah sakit dan minta maaf pada Bu Winda. "
Lena mengangguk, apa yang di katakan Mamanya benar juga. Namun ternyata kenyataan tidak seindah hayalan, Lena harus siap menerima kenyataan kalau Ia harus kehilangan pekerjaannya yang Ia tekuni selama ini.
Alvin memandang wajah Bundanya yang kembali menjadi penghuni rumah sakit, dan ini semua karena kesalahannya. Ia telah membahayakan nyawa Bundanya dengan membawa wanita yang salah.
Risma terkejut ketika mendapati ada orang lain di ruangan Bu Winda.
" Ah maaf Pak Alvin, saya pikir tidak ada orang lain selain pasien. Saya ijin memeriksa kondisi pasien ya. "
" Iya silahkan, tidak apa- apa. "
Alvin mengamati apa yang di lakukan Risma, sampai tak sadar kalau Risma memanggilnya setelah pemeriksaan nya selesai.
" Pak Alvin, hallo. " Risma melambai- lambaikan tangannya di depan wajah Alvin hingga membuat Alvin salah tingkah.
Bisa- bisanya Ia memperhatikan sesuatu yang seharusnya tidak boleh Ia lakukan.
" Ah i, iya maaf. Tadi Dokter bilang apa. "
Risma tersenyum dan sontak senyum itu membuat Alvin semakin salah tingkah.
" Saya belum mengatakan apapun Pak, tadi saya panggil- panggil namun Bapak sepertinya tidak mendengar nya.
" Ohhh maaf. " Alvin tersenyum malu.
" Iya tidak apa- apa. Oh ya Pak, tolong di jaga makanan yang harus dan tidak harus di konsumsi Bu Winda. Jangan sampai terjadi hal seperti ini terus menerus, karena tidak baik untuk kesehatan nya. "
__ADS_1
Alvin mengangguk, Ia semakin merasa bersalah pada Bundanya. Sekarang Ia harus mencari wanita yang benar-benar bisa membuat Uminya menyukainya, tapi Ia bingung dimana menemukan wanita seperti itu.