
El baru kembali dari rumah sakit dan langsung kerumah orang tuanya, kali ini kepulangan nya sekalian memeriksa kondisi Kevin.
" Aku baik- baik saja Bro, tidak perlu terlalu berlebihan memeriksaku seperti ini. " Protes Kevin karena El memintanya melepaskan bajunya agar bisa melihat luka bekas operasi di belakang Kevin.
El tidak peduli, Ia tetap memaksa meminta Kevin melepas bajunya.
" Jangan ngeyel Vin, kamu mau cepat sembuh atau tidak. Satu lagi, jangan panggil Bra Bro. Ingat aku ini kakak mu, aku lebih tua darimu. Panggil aku dengan panggilan yang sopan. "
Kevin mendengus kesal sembari melepas baju yang Ia kenakan.
" Selama kamu belum sembuh jangan dulu kamu temui Tiara. "
Kening Kevin berkerut, bagaimana mungkin Ia tidak di ijinkan bertemu Putrimu, sedangkan saat ini Ia butuhkan ada gadis kecilnya sebagai penyemangat untuknya.
" El, nggak gitu juga kali. Aku hari ini ingin bertemu dengannya. "
El menatapnya tajam
" Al, El, Al, El, Aku bilang panggil baik- baik. Soal kamu yang belum boleh ketemu dengannya, itu juga demi kebaikan kalian berdua. Apa kamu mau Tiara sedih karena melihat Ayahnya meringis setiap kali ingin mengangkat tubuhnya. Vin, untuk saat ini fokus sama kesehatan mu dulu. "
Kevin berpikir sejenak dan akhirnya memilih diam.
" Baiklah, kondisinya sudah semakin membaik. Tolong obatnya diminum rutin, jangan di lihat luarnya saja. Mentang- mentang sudah kering lalu kamu hentikan pengobatannya. Lukamu ini luka dalam jadi harus di perhatikan dengan baik, jangan pernah menganggap sepele sebuah penyakit."
El merapikan alat- alat medisnya kedalam tas kecil miliknya.
" Iya Abang, makasih. " Jawab Kevin
El sontak menatap Kevin, Ia terkejut mendengar panggilan Kevin untuknya. "
" Ya, sama - sama. Aku keluar dulu, cepat sembuh ya. "
El sedikit salah tingkah sekaligus bahagia mendengar panggilan Kevin padanya. El tersenyum setelah menutup pintu, Ia melangkah ke kamar nya masih dengan senyum menghiasi wajahnya.
Sampai di kamarnya El berniat membersihkan tubuhnya di bawah guyuran shower, mungkin dengan melakukan itu akan mengurangi sedikit rasa lelahnya.
Dreet~ Dreet. !
El merogoh ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
" Arka. "
Tanpa menunggu lama Ia menerima panggilan tersebut.
" Uhuk - uhuk, uhuk- uhuk. "
" Arka, kamu kenapa Nak. Kamu baik- baik saja kan disana, Mamanya mana Nak. " Tanya El namun yang ditanya tidak menjawab hanya terdengar batuk dan juga nafas yang terasa sesak.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang El langsung berlari keluar dengan wajah panik.
" El, anak itu ada disini, sejak kapan. " Gumam Aini.
Ia ikut berlari mengejar langkah kaki El, meskipun tidak bisa mengejarnya.
" Nak.... ! El, kamu mau kemana Nak, baru juga tiba sudah pulang lagi. "
El menghentikan langkahnya dan menoleh melihat Ibunya yang berlari kearahnya.
" Ma, El keluar sebentar. Ada sesuatu yang penting, hanya sebentar saja Ma. Nanti El balik lagi. "
El mencium punggung tangan dan juga pipi Ibunya.
" Dah Mama, Assalamu'alaikum. " Seru El pamit sambil berlari menuju parkiran.
" Waalaikum salam, Hati-hati Nak. Hm.... apa ada pasien darurat lagi dirumah sakit. " Aini menghela nafas.
Rasanya di rumah itu semua selalu sibuk, Anak-anaknya bahkan suaminya sendiri.
" Pak, cepat buka gerbangnya ya. " Pinta El pada satpam.
Satpam bergegas membuka pintu gerbang, dan El langsung tancap gas ketika pintu gerbang terbuka.
El sambil menghubungi Tari namun ponsel wanita itu tidak aktif.
" Kamu kemana Ri, anakmu mungkin sekarang sedang dalam bahaya. Tunggu Papa Nak. " Gumam El sembari menambah kecepatannya.
" Pak, tolong parkirkan mobilnya. "
Tanpa menunggu jawaban dari satpam, El segera berlari masuk kedalam rumah.
" Nak, Tari.... ! " Panggil El memanggil kedua Ibu dan anak itu.
Tidak ada jawaban hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang bingung melihat El berlari menaiki tangga dengan wajah panik.
" Nak, Arka ada didalam kan. Ini Papa, eh..... ini Om El. Buka pintunya Nak. "
El semakin panik karena tidak ada jawaban juga.
" Arka, Om buka pintunya ya. "
El memegang Handel pintu dan langsung terbuka.
" Eh nggak di kunci ternyata. " Gumam El.
Ia melangkah perlahan dan dengan wajah heran mengamati seisi kamar Putranya. Satu persatu mainan Arka berjejer di lantai.
__ADS_1
" Arka, ini Om. Maaf ya Om El masuk. "
El terus melangkah hingga tiba di kado terakhir, Ia melihat kearah ranjang Putranya namun tidak ada siapapun disana.
Kreek ! Pintu kamar terbuka lebar.
El sontak menoleh dan terkejut sekaligus bingung melihat Arka yang berdiri disana, tak ketinggalan juga Tari yang berdiri di belakang Arka.
" Arka, kamu baik- baik saja kan. Ri, ini ada apa sebenarnya. "
El masih nampak bingung, Ia tadi sudah sport jantung karena mendengar suara Putranya. Meskipun begitu Ia bersyukur karena ternyata Putranya baik- baik saja.
" Ah iya Maaf Arka. Papa, eh.... Om maksudnya. Om minta maaf karena sudah lancang masuk kedalam kamar Arka, tadi Papa, eh.... Om khawatir karena mendengar suara Arka ditelpon. Om El kira Arka sedang sakit, Mama Tari juga di telpon nomornya nggak aktif. " El nampak gelagapan berhadapan dengan Putranya langsung.
Arka melangkah pelan dan berdiri disamping kado ultah pertamanya, Ia mulai bertanya pada El perihal kado itu namun El bingung harus menjawab apa, karena memang bukan dirinya yang memberikan kado itu pada Arka.
Sampai pada kado terakhir yang Ia dapatkan, Arka menanyakan hal yang sama, namun yang Ia dapatkan tetap sama.
Pria yang mengaku sebagai Ayahnya itu tidak memberikan jawaban sesuai yang Ia inginkan.
" Maafkan Om Arka, sebenarnya. Sebenarnya........ ! "
" Sebenarnya selama ini bukan Papa yang mengirimkan semua hadiah ini untuk Arka, benar kan. "
El dan Tari terkejut mendengar panggilan Arka pada El.
" Apa Nak, Papa..... Arka memanggil Om dengan sebutan Papa. "
El susah payah menahan tangisnya, matanya dan hidung mancung nya sudah memerah. Berbeda dengan Tari, Ia yang sudah mengetahui itu hanya menyunggingkan senyum bahagia.
" Iya Pa. Sebenarnya Arka masih marah sama Papa, karena ternyata Papa tidak sebaik yang Arka bayangkan. Bukan Papa yang mengirimkan semua kado itu di setiap tahunnya, Arka ingin marah Pa. Dimana Papa selama ini, saat Arka dan Mama butuh sosok Papa, saat semua teman- teman Arka mencemooh dan mengatakan kalau Arka anak haram. "
Arka menghela nafas begitu juga dengan El yang sudah tidak mampu menahan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
" Kalau Arka menuruti kata hati Arka, jujur Arka masih belum bisa memaafkan Papa. Tapi Arka tidak mau egois, mungkin benar apa yang dikatakan Tiara kalau orang dewasa memang punya masalah yang sulit di mengerti. Saat ini Arka tidak ingin mengerti hal itu, yang Arka tau kalau Mama selama ini sangat menghargai Papa. Mama tidak pernah membiarkan Arka mengetahui kalau Papa bukan orang baik yang tidak peduli pada anaknya, dari situ Arka belajar untuk menerima Papa. Mama saja yang tersakiti dalam hal ini bisa memaafkan Papa, akan sangat tidak baik kalau Arka membenci Papa. "
El berlutut di hadapan Arka dengan air mata yang tidak bisa Ia kontrol lagi.
" Maafkan Papa Nak, maaf atas segala kesalahan Papa dimasa lalu yang tidak peka terhadap situasi waktu itu, hingga tidak menyadari kehadiran mu. Mungkin Papa tidak pantas di sebut Papa, dan panggilan Papa memang tak sepantasnya disematkan untuk Pria seperti Papa. Tapi saat ini dengan tulus Papa ingin minta maaf padamu Nak, maafkan Papa. "
El tidak sanggup menatap mata Putranya, Ia menunduk masih dengan posisi berlutut. Arka menatap Tari dan Tari pun mengangguk.
Sebuah pelukan dirasakan El
" Maafkan Arka Pa. " Bisik Arka tepat ditelinga El.
Bak anak kecil El tidak mampu menahan tangisnya, tangisannya bahkan terdengar keluar membuat beberapa asisten rumah tangga ikut naik keatas karena penasaran.
__ADS_1
Tak ketinggalan juga Maudy yang heran melihat para asistennya naik ke lantai atas. Senyum dan rasa haru juga dirasakan Maudy ketika melihat pemandangan di depannya.
Akhirnya Arka mau memaafkan Ayahnya.