Super MOM

Super MOM
Kawin Lari


__ADS_3

Tari berulang kali melirik jam yang melingkat di tangannya, dia mencoba mengikhlaskan semuanya karena Ia yakin tidak ada yang akan terjadi dalam hidup ini tanpa campur tangan sang pemilik kehidupan.


flashback On


Tari yang sedang berada di ruang kerjanya tiba-tiba mendengar Pintu ruangannya di ketuk pelan.


" Sayang, boleh Mama masuk. "


" Masuk saja Ma, pintunya nggak di kunci kok. " Sahut Tari dari dalam.


Maudy melangkah masuk seperti biasa dengan senyum mengembang di bibirnya.


" Apa kamu sibuk Nak. " Tanya Maudy menghampiri Tari.


Tari menutup laptopnya dan mengajak Mama Maudy duduk di sofa.


" Ada apa Ma. "


Maudy berdehem untuk mengurangi rasa khawatir nya.


" Sayang, sebenarnya ada hal penting yang ingin Mama bicarakan sama kamu Nak. Emm, bukan bicarakan sih tapi.... lebih tepatnya meminta sesuatu padamu, itupun juga kalau boleh. "


Tari mengangguk angguk pelan, Ia melihat wajah Maudy yang nampak serius.


" Apa itu Ma, tentu saja boleh. " Jawab Tari


Maudy meremas tangannya yang sudah basah dengan keringat.


" Sepertinya tidak jadi deh Nak, Mama tidak yakin kalau kamu akan menyetujuinya. Dari pada Mama nanti terlalu berharap lebih baik tidak jadi, oh ya lanjutkan saja pekerjaan nya, Mama keluar dulu. Maaf ya Nak, sudah ganggu waktunya. "


Maudy langsung berdiri dengan niat meninggalkan ruangan Tari namun Tari menahannya.


" Mama tunggu. " Maudy menghentikan langkahnya.


Tari meraih tangan Maudy dan mengajaknya duduk kembali.


" Tari janji, kalau Mama sangat berharap Tari mengabulkannya maka Tari akan mengabulkannya. Coba katakan apa itu Ma. "

__ADS_1


Sebenarnya Maudy tak enak hati melakukan semua itu tapi ini demi kebaikan Tari di masa depan.


" Sebenarnya Mama punya kenalan, seorang Pria. Dia baik, tampan dan juga penyayang. Mama ingin kamu bertemu dengannya, sebenarnya Mama berharap kamu bisa mencoba menjalin hubungan dekat dengannya, tapi rasanya itu tidak mungkin. Untuk itu Mama ingin kamu bertemu dengannya dulu, Dia baru dari luar kota dan kedatangan nya kemari untuk mencari pasangan hidup. "


Mendengar ucapan Maudy sebenarnya Tari tidak setuju dan ingin langsung menolak, namun melihat raut wajah Mamanya itu membuat Tari menjadi tidak tega.


" Sudahlah Ri, hanya bertemu kan. Kamu bisa menolaknya kalau merasa tidak cocok. " Batin Tari.


flashback off


Lagi dan lagi Tari melirik jam di pergelangan tangannya, karena terlalu lama menunggu akhirnya Tari memilih pergi dari tempat Ia duduk sekarang.


Baru beberapa langkah Ia melihat seseorang yang sangat di kenalinya.


" El. "


" Tari, kamu ngapain disini. " Keduanya sama sama terkejut.


El memandang sekeliling namun tidak melihat siapapun yang menemani Tari.


" Tidak ada, aku sendiri. Lalu kamu sendiri ngapain disini. "


" Duduk sini Ri, mau nggak temani aku sebentar. "


Tari mengangguk dan duduk di samping El, keduanya memilih diam dalam waktu yang lumayan lama.


" Sebenarnya aku kemari menunggu seseorang. " El akhirnya membuka suara.


Tari menoleh sekilas dan kemudian kembali menatap kedepan.


" Aku juga sama, Mama Maudy memintaku menemui seseorang tapi sampai sekarang orang itu belum datang juga. " Tari menghela nafas berat.


" Apa kamu di jodohkan oleh Tante Maudy. " Tanya El


Tari mengangguk namun kemudian menggeleng, hal itu sontak membuat El mengerutkan keningnya.


" Di jodohkan tapi nggak, maksudnya apa Ri. "

__ADS_1


" Mama Maudy tidak memaksa aku untuk menerima nya sekarang, setidaknya kami bertemu dulu. Tapi sebenarnya Mama berharap kalau kami bisa mencoba menjalani hubungan yang lebih serius. " Tari bercerita tanpa memandang sedikit pun pada El.


El menatap wajah Tari yang nampak santai santai saja, seakan tidak ada beban sama sekali.


" Dan kamu menyetujui nya Ri, kenapa kamu tidak menolaknya langsung kalau kamu tidak mau. Secara kan Tante Maudy itu bukan Mama kandung kamu, kamu....


" hustt, jaga ucapan mu El. Kamu tahu apa mengenai aku dan Mama Maudy, mungkin bagi kamu Dia bukan Mama ku tapi tidak bagi aku. Mama Maudy memang bukan wanita yang sudah mengandung dan melahirkan aku kedunia ini tapi kasih sayangnya melebihi dari seorang Ibu kandung. Aku tidak mungkin tega menyakiti hatinya, apalagi selama ini Mama Maudy tidak pernah meminta apapun dariku. Jadi kali ini aku akan mengabulkan harapan Mama Maudy. "


El menatap wajah Tari sejak Ia berbicara sampai sekarang, ada sesuatu yang entah kenapa tiba-tiba mendera hatinya.


" Meskipun kamu tidak menyukainya Ri. " Tanya El pelan dan di jawab anggukan pelan oleh Tari.


" Iya El, aku akan menerimanya. Aku yakin kalau pilihan Mama Maudy adalah pilihan yang terbaik. Karena selama ini Mama Maudy begitu menyayangi kami berdua, Mama Maudy tidak pernah pernah sekalipun membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada kami. "


El akhirnya manggut-manggut, Ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Keduanya sama-sama diam.


" Eh Ri, kenapa kita tidak kawin lari saja. Ya dari pada kita di jodohkan dengan orang yang tidak kita kenal kan lebih baik kita berdua yang kawin lari. "


Tari yang tadinya melamun terkejut mendengar ucapan El yang menurutnya sangat konyol.


" Apa kamu sudah kehilangan akal ya....!bisa bisa nya ngajakin kawin lari. Pikirin tuh wanita yang mau di jodohin oleh Tante Aini, belum lagi tuh wanita pujaanmu yang juga pasti masih mengharapkanmu. "


Tari sontak berdiri dan pergi meninggalkan El yang menatap kepergian nya dengan tatapan datar.


" Ada ada saja si El, sudah gila kali. Apa dia nggak mikirin hati orang tuanya gimana, main ajak kawin lari saja. " Gerutu Tari.


Ia segera menuju parkiran di mana mobilnya terparkir, perlahan mobil miliknya melesat meninggalkan area parkir.


Dari jauh ada dua wanita yang sama sama menepuk kening mereka pelan karena rencana mereka yang tidak berhasil.


" Eh itu calon menantuku kenapa pergi, ah kalau begini mah gagal deh. "


" Dasar sableng, ini semua karena anak nakalmu itu. Tuh kan Putriku yang cantik jadi cemberut, au ah.... aku juga mau pulang sekarang. "


Maudy akhirnya pun memilih pulang dan tinggallah Aini seorang diri menatap Putranya nanar.


" Dasar anak nggak peka, sudah susah payah di bantuin masih juga gagal. El El, kalau begini mah kapan Mama mu ini punya menantu. "

__ADS_1


Aini menghela nafas berulang kali dan kemudian ikut meninggalkan tempat itu.


__ADS_2