
El masuk kedalam ruangan, Ia langsung menemui Tari, tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu El langsung memeluk tubuh Tari. Maudy dan Aini yang melihat itu memilih pergi menjauh.
" Mas, anak kita..... ! " Tari mulai menangis dalam pelukan El.
Tanpa sadar Ia mengucapkan kata anak kita dan memanggil El dengan sebutan Mas, El mengelus kepala dan juga pundak Tari mencoba menyalurkan kekuatan nya pada wanita itu. Ia tahu seberapa wanita itu mencoba kuat, dia hanyalah seorang Ibu yang pasti merasa sangat terpukul dan bersedih dengan kejadian ini.
" Sstttt, tenang Ri dia pasti akan baik baik saja, anak kita adalah anak yang kuat sama seperti Mamanya yang super mom dan anak kita adalah super hero. " Bisik El tepat di telinga Tari.
" Jangan bohongi aku Mas, aku tahu kalau anak kita saat ini sedang tidak dalam keadaan baik. "
Tari akhirnya menangis dalam pelukan El hingga tubuhnya berguncang.
" Jangan pesimis dulu, kita akan melakukan apapun untuk kesembuhan nya Ri, kalau perlu kita datangkan saja semua Dokter hebat di dunia ini agar Putra kita mendapatkan penanganan yang maksimum. Aku janji Ri, Arka pasti baik baik saja. "
Setelah mengeluarkan tangisannya di pundak El, Tari merasa sedikit lega, Ia menarik tubuhnya dari Pria itu.
" Dimana hasil pemeriksaannya Mas, aku ingin melihatnya. "
El mengambil hasil pemeriksaan yang sudah mereka dapatkan beberapa jam lalu, Ia memberikan nya kepada Tari. Tari menerima nya dan memeriksanya secara detail, tidak ada satu kata pun yang terlewatkan.
" Papa juga sudah memerintahkan orang orang kepercayaan nya untuk mengamankan CCTV di tempat kejadian dan juga mencari siapa pelakunya yang saat itu langsung kabur, namun semua perbuatan mereka sangat terekam dengan jelas di CCTV, jadi polisi tinggal mengejar mereka untuk meminta informasi lebih lanjut. Semoga semuanya bisa segera terungkap, siapa dalang dari semua ini. "
__ADS_1
Tari memeriksa semua laporan medis Putranya dan kemudian menyentuh lembut tangan Arka. Meskipun hatinya bisa di katakan hancur saat ini namun Ia harus berusaha tegar demi Putranya, agar Putranya bisa kembali bersamanya lagi.
" Maafkan Mama sayang, Mama tidak bisa lindungin kamu dari mereka yang berbuat jahat. Bertahanlah sayang, meskipun Mama tahu ini sangat sulit. Lihat Mama Nak, Mama disini untuk mu. Jangan tinggalkan Mama, bukankah kamu sudah janji akan menjaga Mama. Cepat buka mata Nak, lihatlah disini ada Mama dan juga Papa sayang. Bukankah ini yang kamu inginkan sayang, kamu ingin sekali bertemu dengannya. Mama janji setelah siuman nanti Mama akan memberitahukan siapa Papa sebenarnya, jadi bertahanlah. Mama dan Papa akan mengusahakan yang terbaik untukmu Nak. " Batin Tari bermonolog
El menghampiri Tari dan mengelus pundak wanita itu pelan.
Di tempat lain lagi lagi suara menggema di sebuah ruangan.
" Bodoh kalian semua, kenapa kalian malah mencelakainya. Aku hanya meminta kalian menculiknya saja untuk kita jadikan sandera sampai rapat dewan besok selesai. Kenapa pekerjaan kalian akhir akhir ini tidak ada yang becus, menghabiskan uang saja tapi tidak ada hasilnya sama sekali. Bukannya memperlancar malah membuat masalah semakin rumit. "
Beberapa Pria yang yang mendapatkan amukan dari bos nya hanya saling pandang, mereka kemari hanya ingin mendapatkan perlindungan karena mereka takut berurusan dengan pihak berwajib.
" Ini, pergilah sejauh mungkin. Aku rasa ini cukup untuk kalian, ingat.... jangan pernah singgung namaku kalau ada di antara kalian yang terpaksa berurusan dengan pihak berwajib. "
" Tunggu apalagi, cepat ambil dan pergi dari sini. " Bentak si Pria itu gusar, Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan mengacak acak rambutnya dengan tangannya sendiri.
Mendapat bentakkan dari Pria yang menjadi Bos mereka akhirnya salah seorang dari mereka mengambil amplop itu dan melangkah pergi meninggalkan ruangan dimana Ia berada saat ini.
" Sial..... ! sekarang kita harus kemana Toni. " Tanya Tono pada rekannya.
" Entahlah Toni, aku nggak yakin kita bisa lolos dari sini dengan selamat, kita sama sama tau kalau kita sedang berurusan dengan siapa. Bukankah kita sama sama tau kalau anak itu adalah cucu pertama dari keluarga terpandang di kota ini. " Toni menimpali sedangkan satu teman mereka hanya diam saja.
__ADS_1
Toni dan Tono menatap Joni bersamaan dengan tatapan heran dan penuh selidik.
" Joni, sejak tadi kamu hanya diam saja. Apa rencanamu sekarang. " Tanya Tono
Joni menggeleng pelan, Ia juga tidak tau harus kemana.
" Eh ini uangnya, sebaiknya kita bagi saja dulu. Lumayan buat modal kita di tempat lain, semoga kita bisa kabur dari sini dengan selamat. "
Toni mulai membagi uang yang mereka dapatkan dari Bos mereka sebelumnya.
" Sama seratus lima puluh juta, tinggal lima puluh juta kita bagi sama lagi. "
Tono mengangguk dengan cepat, untuk sementara waktu masalahnya hilang ketika melihat lembaran kertas berwarna merah itu.
" Kalian bagi dua saja Ton, aku cukup dengan ini saja. "
Joni segera berpamitan pada kedua rekan kerjanya, dan tersisa Tono dan Toni yang masih membagi uang mereka dengan adil.
" Oke Joni, terima kasih. " Joni mengangguk dan pergi meninggalkan kedua rekannya di tempat persembunyian.
Tono dan Toni tertawa senang, bagaimana pun juga sekarang mereka mendapat bagian lebih.
__ADS_1
" Bodoh ya Dia Ton, sudah capek capek kerja tapi uangnya malah di kasih ke kita secara cuma cuma lagi. Ah sudah, biarlah. Kita bagi dua saja, itung itung ini rezeki kita. " Ucap Tono dengan perasaan bahagia.
Karena uang mereka melupakan nasib mereka untuk sesaat, tanpa mereka pikirkan bagaimana nasib mereka kedepannya.