Super MOM

Super MOM
Konspirasi


__ADS_3

Beberapa orang terlihat mengawasi sebuah tempat, keberadaan mereka disini adalah untuk menjalankan perintah dari seseorang, mengintai sasaran mereka. Setelah merasa aman mereka langsung beraksi, seorang anak perempuan cantik hanya bisa meronta ketika dua orang tiba tiba menangkapnya dan membawanya kedalam mobil.


" Lepaskan Tiara Om, kalian siapa dan kenapa kalian menangkap Tiara. " Tanya Tiara ketakutan.


Bagaimana tidak takut, tidak ada seorang pun dari dalam mobil itu yang Ia kenali. Tiara berusaha keluar dan berteriak berharap ada yang bisa mendengarnya dan menolongnya.


" Diam. " Bentak salah seorang di antara mereka.


" Apa kau ingin mati, baiklah. Kau lihat itu di bawah. Aku akan dengan senang hati mendorong mu dan sudah bisa di pastikan kalau Kau akan mati. Bukankah itu mudah, biar pekerjaan kami langsung selesai kalau kau mati anak kecil. " Sambungnya lagi


Tiara semakin ketakutan, meskipun Ia ingin bebas namun bukan kematian yang Ia inginkan. Ia masih ingin bertemu dengan Ibu dan juga Ayahnya.


" Bos, semuanya beres. Anaknya sudah berada di tangan kami. "


Sementara di tempat penyekapan, Kevin sengaja di keluarkan dari tempat pengap nan gelap itu. Hampir semua tenaganya habis, bahkan untuk berdiri saja Ia tak mampu.


" Sini, kau dengar ini suara siapa hm. " Hermawan meraih rahang Kevin dan mencengkramnya dengan keras.


Tak lama terdengar suara seorang anak kecil dari ponsel yang sengaja di pakai pengeras suara.


" Papa, Tiara takut. Papa tolong Tiara, mereka jahat sama Tiara. "


Kevin mencoba merebut ponsel itu dari tangan Hermawan namun Ia tak bisa.


" Kenapa, bukankah Dia itu Putri mu Iya kan. Hm... bagaimana kalau para Pria itu menyakitinya. Ah apa ya kira kira yang cocok untuk menyakitinya, cambuk... ah itu belum seberapa. Apa kamu punya saran, hukuman apa yang cocok untuk Putri cantik mu itu. "


Kevin menatap Pria di depannya dengan penuh amarah, apalagi melihat tawa Pria itu yang menggelegar seakan sangat puas menikmati kebahagiaannya.


Di tempat lain, juga ponsel Vania berdering. Ia menautkan alisnya ketika melihat ada nomor baru. Awalnya Ia tidak peduli namun karena panggilan itu selalu mengganggunya akhir dengan perasaan dongkol Ia pun menerimanya.


" Iya ada apa. " Suaranya datar menahan kemarahan.


" Hallo Bu Vania, apa Tiara sudah pulang ke rumah. " Tanya si penelpon.


Vania yang masih bete masih tidak langsung menjawab pertanyaan lawan bicaranya.


" Bu Vania, saya bertanya. Apakah Nak Tiara sudah sampai rumah atau belum, saya Maria Ibu kelasnya Nak Tiara. "

__ADS_1


Masih dengan menggerutu Vania belum sadar dengan jam yang bertengger di tangannya.


" Hei Bu, tentu saja Tiara belum sampai rumah. Bukannya jam segini Ia ma.... sih... Ya Tuhan..... Jam dua belas, kok Tiara belum pulang juga. "


Vania baru sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul dua belas, lewat setengah jam waktu biasa Putrinya pulang.


" Apa, Tiara belum sampai rumah. Tapi tadi saya lihat Dia sudah pulang bersama dua orang Pria yang membawanya menggunakan mobil. "


Vania akhirnya panik setelah mendengar perkataan lawan bicaranya.


" Apa, mobil. Tapi buat apa Tiara pakai mobil, rumah kami dengan sekolah hanya lima ratus meter. Biasa juga Tiara pulang pergi jalan kaki atau pakai sepeda. "


Vania mengakhiri panggilan karena dirinya mulai di landa rasa cemas, meskipun Tiara tidak begitu di harapkan kehadirannya tapi jauh di lubuk hati Vania ada rasa sayang untuk Putrinya itu.


" Ada apa Bu. " Tanya Yuni, sang asisten rumah tangga


Ia ikutan bingung melihat majikannya yang nampak gelisah.


" Bibi, Vania belum pulang. Tadi pihak sekolah mengabarkan kalau ada dua orang Pria yang menjemput Tiara menggunakan mobil. "


" Kevin, ya... aku harus menghubungi Kevin. "


Berulang kali Vania mengklik nomor Kevin namun tidak ada jawaban, membuat Vania menjadi dongkol.


" Brengsek kamu Vin, kamu dimana sih. Anakmu lagi dalam bahaya, kamu tidak ada. Pergi saja ke neraka sekalian. " Maki Vania


Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena Ia bingung harus menghubungi siapa, akhirnya Ia mencari nama El di list nama yang ada di ponselnya. Ya, hanya Pria itu yang mungkin bisa membantunya.


Satu panggilan saja langsung tersambung, terdengar suara Pria itu di seberang sana.


" El, Tiara hilang. "


" Iya El, tadi ada guru di sekolahnya yang melihat kalau Tiara di bawa oleh dua orang Pria menggunakan mobil. Aku khawatir El. "


" Baik El, kabari aku secepatnya kalau ada kabar tentang Tiara. "


Sementara di mansion Atmajaya, lagi lagi kepanikan terjadi setelah Aini tau kalau Tiara menghilang.

__ADS_1


" Mas, bagaimana ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang. Belum selesai masalah Kevin sekarang Tiara, tapi apa hubungannya anak kecil itu dengan Kevin atau kita. Kenapa Dia juga harus ikut dilibatkan dalam masalah ini. " Aini semakin diliputi kebingungan.


Berbeda dengan Axell dan Bagus Setiawan yang mulai memahami keadaan yang terjadi saat ini.


" Tentu saja Ma, karena Tiara adalah bagian dari keluarga Atmajaya, Dia adalah Putri Kevin dengan Vania. " Akhirnya El mengatakan kebenaran.


Aini terkejut, ternyata Tiara juga cucunya. Hal itu semakin membuat kekhawatirannya menjadi jadi.


" Dan juga setelah ini sepertinya akan ada konspirasi. " Timpal Bagus dengan sedikit senyum di sudut bibirnya.


El menatap Ayahnya, Ia juga sepemikiran dengan apa yang di pikirkan Ayahnya.


Disaat mereka sedang memikirkan jalan keluar, dari luar seseorang berlari tergesa-gesa ingin menghadap.


" Maaf Tuan. "


" Iya ada apa Ruli. "Tanya Bagus.


" Anu Tuan, di luar ada Tuan Muda kedua dan juga....


" Hallo sahabatku, bagaimana kabar mu. "


Belum selesai Pak Ruli menyampaikan maksudnya, dari luar sudah terdengar sebuah suara. Suara yang begitu sangat di kenali oleh Bagus dan juga Aini. Meskipun sudah puluhan tahun namun suara itu masih sangat jelas di kenali oleh keduanya.


" Kenapa, apa kau sudah tidak mengenaliku Bagus. " Tanya Hermawan dengan mata sedikit memicing.


Bagus tersenyum tapi tidak dengan Aini yang nampak ketakutan melihat Pria yang pernah hadir di masa lalunya itu.


" Hei Aini, kamu masih cantik saja meskipun sudah di usia sekarang ini. " Mendapatkan tatapan aneh dari Hermawan semakin membuat Aini merasa ketakutan.


" Oh sahabat ku, bagaimana mungkin aku tidak mengenalimu. Dari mana saja kamu selama ini. "


Bagus melangkah mendekat ingin memeluk tubuh Hermawan, namun Ia merasa ada sesuatu yang menyentuh dadanya. Bagus menoleh dan melihat sebuah pistol sudah mengarah ke dadanya.


" Cepat lakukan tugas mu Kevin atau kau lebih memilih melihat Putri kecilmu menjadi mayat di depan mu demi menyelamatkan wanita yang selama ini sudah berlaku tidak adil padamu. " Titah Hermawan pada Kevin


Ia masih melancarkan jurus mautnya, menyiram cuka pada sebuah luka yang menganga.

__ADS_1


__ADS_2