Super MOM

Super MOM
Dua bocah lucu


__ADS_3

Tiara sedang mengerjakan tugasnya ketika sebuah ketukan di pintu mengejutkan nya.


" Nak, boleh Mama masuk. "


" Boleh Ma, masuk saja. " Jawab Tiara.


Vania melangkah masuk dengan senyum menghiasi bibirnya.


" Nak, coba tengok di luar ada siapa. "


Tiara menutup bukunya dan melangkah keluar, Ia melihat seorang bocah berdiri membelakanginya.


" Hai. "


Arka membalikkan badannya menatap kearah Tiara, gadis itu pura-pura ngambek dan duduk di sofa dengan wajah manyun sambil melipat tangannya di dada.


" Hei, masih marah ya. "


Tiara yang mendapat pertanyaan dari Arka masih juga diam.


" Ya, padahal aku bela - belain kemari mau minta maaf. Tapi ya sudah, aku pulang lagi. Sepertinya aku datang di waktu yang salah. " Arka balik arah dan ingin keluar namun Tiara menahannya.


" Tunggu Ar. "


Arka tersenyum, entah mengapa Ia suka sekali menggoda Tiara.


" Kenapa, aku pulang saja. Dari pada kamu tambah marah kalau aku ada disini, lebih baik aku pulang. "


Terpaksa Tiara harus mengalahkan egonya sendiri, dari pada bocah kulkas itu marah lagi.


" Duduklah, nanti Mama marah padaku kalau kamu pulang tiba-tiba tanpa pamit. "


Arka duduk dengan gaya cool nya, Ia melirik beberapa kali kearah Tiara. Tidak berselang lama Vania datang membawa minuman dan juga cemilan.


" Maaf Mama telat, ayo diminum dulu. "


Vania meletakkan minuman dan juga satu toples cemilan di depan kedua bocah lucu itu.


" Nak Arka kemari tadi sama siapa. " Tanya Vania.

__ADS_1


" Ah Arka kemari sama sopir, soalnya mau ketemu Tiara Tante. Arka kemari mau minta maaf sama Tiara karena pagi tadi sudah usil padanya, tapi sepertinya Tiara masih marah pada Arka. "


Vania tersenyum, Ia mengagumi anak dari mantan rivalnya itu. Bisa- bisanya Ia mencari alasan dan seolah menyalahkan dirinya sendiri.


Setelah berbincang- bincang Arka ijin pulang karena bentar lagi magrib.


" Tante, Arka pamit pulang dulu ya. Ini sebentar lagi gelap, makasih buat minum serta cemilannya ya. "


Arka berdiri dan menatap Tiara yang sejak tadi tidak berbicara sama sekali.


" Ra, aku pamit dulu ya. "


Vania ingin mengantar namun Arka melarangnya.


" Tidak usah Tante, Arka bisa sendiri. " Tolak Arka.


Setelah Arka keluar Vania menggeleng melihat Putrinya yang masih juga diam.


" Nak, apa kamu tidak ingin bicara sama sekali dengannya. Bagaimana pun juga, Arka sudah jauh- jauh datang kemari hanya untuk minta maaf padamu. Temui dia dan ucapkan terima kasih padanya. "


Mendengar ucapan Mamanya, Tiara langsung berdiri dan berlari keluar. Arka yang meliat kedatangan Tiara meminta sopir berhenti.


Mobil yang sudah ingin meninggalkan kediaman Tiara akhirnya berhenti, Tiara menghampiri Arka yang ternyata sudah turun.


" Ada apa Ra. " Tanya Arka


" Makasih, makasih Ar. Maafkan kesalahan ku pagi tadi dan juga barusan. "


Arka mengangguk dengan wajah kulkasnya.


" Tidak masalah, ya sudah. Sekarang kamu masuk, ini sudah mau magrib, di luar ada hantu. " Bisik Arka.


Ia membisikkan kata hantu tepat di telinga Tiara, Tiara terkejut dan sontak menoleh kiri kanan. Ia mulai merinding disco, apalagi kemarin ada tetangga yang meninggal dan baru di makamkan beberapa jam lalu.


" Is Arka, kamu mah. "


Tiara langsung berlari meninggalkan mobil Arka, Arka masih memandang Tiara sampai gadis kecil itu masuk kerumahnya.


" Jalan Pak. "

__ADS_1


Arka senyum- senyum mengingat tingkah Tiara yang menurutnya sangat lucu. Sopir yang menatap wajah Arka dari kaca spion ikut tersenyum meskipun heran.


" Ada apa Den Arka, kok senyum- senyum dari tadi. " Tanya sopir pribadi Arka itu.


Arka sedikit terkejut atas pertanyaan sopirnya, Ia tidak menyangka kalau sopirnya memperhatikan nya.


" Ah nggak apa- apa Mang, yuk cepat kita harus cepat tiba di rumah sebelum Mama khawatir. "


Sopir mengangguk dan kembali menambah kecepatan mobilnya.


***


Mentari memancarkan sinarnya dengan tanpa malu- malu, aktivis di ibukota kembali seperti biasa.


Di mansion Atmajaya.


Seluruh anggota keluarga sedang sarapan bersama, tidak ketinggalan juga Kevin yang kondisinya mulai membaik. Sarapan berjalan lancar tanpa ada yang berbicara.


" El, sekarang apa rencana mu. " Tanya Bu Aini pada El ketika sarapan berakhir.


" Maksud Mama. "


" Ya, apa kamu tidak ingin melanjutkan.... Hm maksud Mama, Arka pasti ingin orang tuanya utuh, apa kamu tidak ada niatan untuk mbawa hubungan kalian kearah yang serius, bagaimana pun juga semua orang harus tau siapa Arka sebenarnya, Mama ingin kamu memikirkan saran Mama ini. "


El menghela nafas, Ia juga ingin namun tidak yakin, apakah Tari akan mau menerimanya dan membangun sebuah hubungan yang lebih serius dengannya.


" Iya Ma, El akan pikirkan. Tapi El tidak bisa janji, semua tergantung Tari. Apa dia mau atau tidak, kalau dia tidak mau, El tidak akan memaksanya. "


Aini setuju dengan apa yang di katakan El, Aini juga menanyakan hal yang sama pada Kevin, apa yang harus Ia ambil.


" Kevin belum kepikiran Ma soal itu, rasanya sangat sulit mengingat bagaimana perasaan Vania selama ini, Dia sangat mencintai El. "


Aini tersenyum, Ia mendukung semua yang terbaik untuk anak-anaknya.


" Belum juga di coba sudah pesimis aja, belum tentu kan. Diantara kamu dengannya ada ikatan, sedangkan dengan El, mereka tidak punya ikatan sama sekali. "


Kevin menatap lama foto Tiara dan juga Vania serta mengelus nya perlahan.


" Aku janji akan selalu membuat kalian bahagia, baik itu kita bersama atau tidak. "

__ADS_1


Senyum kedua wanita itu membuatnya tenang


__ADS_2