Super MOM

Super MOM
firasat Tari


__ADS_3

Tari baru saja akan menuruni tangga setelah mengambil tas nya yang tertinggal, hari ini entah mengapa perasaan nya tidak nyaman, seperti akan ada hal buruk yang akan terjadi.


" Ri, kamu mau kemana, kenapa nampak buru buru. " El yang memang berniat menjemput Tari nampak semakin khawatir kala melihat wanita itu nampak terburu buru, takut wanita itu sudah mengetahui semua yang terjadi.


Sementara El berusaha tersenyum walau hatinya juga berkecamuk menahan amarah dan kesedihan.


" El, aku harus pergi menemui Imel. Entah mengapa perasaan ku sejak pagi tidak nyaman, semoga saja tidak terjadi apa apa padanya. "


" Ada apa El, apa kamu ingin mengatakan sesuatu, atau apa jangan jangan sudah terjadi sesuatu. " Tanya Tari dengan wajah serius


" Iya Tari, maaf ini sesuatu yang sangat penting. Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, dan aku akan menjelaskan nya semuanya di perjalanan. "


Melihat wajah serius El Tari langsung mengangguk dan mengikuti langkah kaki El, mereka melangkah tergesa-gesa keluar dari rumah mewah itu.


" Ada hal penting apa El, dan ini kenapa kita ke rumah sakit. El aku harus menemui Imel lebih dulu. "


Tari yang sejak tadi sudah gelisah tak sanggup lagi diam, apalagi melihat raut wajah El yang nampak serius, meskipun begitu dari raut wajahnya nampak Pria itu juga gelisah sama sepertinya.


El masih nampak fokus menyetir, Ia bingung harus bagaimana menjelaskan pada Tari mengenai kabar ini. Apakah Tari akan baik baik saja setelah tau apa yang terjadi.


" Sebaiknya kamu lihat saja sendiri setelah kita tiba disana. " Tari akhirnya diam meskipun hatinya dilanda kecamasan yang mendalam.


El buru buru memarkirkan mobilnya dan mengajak Tari turun, mereka juga memutar jalan lain yang membuat Tari semakin bingung. Belum lagi pada jalan yang mereka lalui ada beberapa Pria bertubuh menyeramkan yang sungguh membuat nyali seorang Tari menciut.


El menemui salah seorang Pria itu untuk memastikan semua baik baik saja.

__ADS_1


" Bagaimana, apa ada yang mencurigakan " Pria yang di tanya langsung menjawab.


" Tidak ada Bos. "


" Baiklah, perketat semua penjagaan, jangan sampai lengah sedikit saja. "


Setelah menaiki sebuah lift akhirnya mereka tiba di lantai atas, ruangan VVIP yang hanya di peruntukan untuk orang orang penting saja.


Ketakutan Tari semakin menjadi ketika El mengarahkan nya pada salah satu ruangan.


" Untuk apa kita kemari El, dan ini ruangan apa. " Tanya Tari dengan suara mulai bergetar karena mulai di landa rasa cemas berlebih.


El memeluk tubuh Tari dengan erat, memintanya untuk bersabar dan menguatkan diri sebelum masuk kedalam ruangan itu, hal itu membuat Tari semakin yakin kalau sesuatu yang buruk telah terjadi. Apalagi tidak jauh dari sana nampak Pak Bagus Ayah dari El sendiri nampak tengah menempol seseorang dengan wajah yang seperti menahan emosi.


" El cepat kita masuk sekarang, kamu tidak perlu takut. Aku pasti kuat, apapun yang ada di dalam aku pasti kuat. "


Tari membuka pelan pintu ruangan serba putih itu, baru masuk Ia sudah di suguhkan dengan pemandangan yang menyayat hati. Ia melihat dua wanita yang sedang berpelukan sambil menangis.


Semua orang yang ada di ruangan itu sontak menoleh mendengar pintu terbuka, semua mata menatap sedih pada Tari.


" Nak. " Maudy langsung berlari kecil memeluk Tari, di susul oleh Bu Aini yang juga mengelus pundak Tari pelan.


Tari membalas pelukan Maudy meskipun Ia juga bingung dan penasaran dengan apa yang terjadi.


" Ada apa Ma, apa yang terjadi. " Tanya Tari mulai tidak sabar.

__ADS_1


Karena tidak ada jawaban Ia pun melihat tirai yang berada di sampingnya, Ia pun membuka tirai itu. Aini mengejar langkah nya bermaksud menahan Tari agar tidak melihat kondisi seseorang di balik tirai itu.


" Nak.... "


" Biarkan saja Mbak.....


" Tapi Aya...


" Sudah Mbak, jangan lupa kalau Tari juga adalah seorang Dokter, dia pasti bisa menahan diri. " Maudy mengingatkan.


Jantung Tari seakan berhenti berdetak, sepersekian detik Ia merasa dunianya seolah runtuh ketika melihat siapa yang berada di atas brankar rumah sakit dengan berbagai selang dan alat menempel di tubuhnya.


" Nak, Arka anakku.... ! " Jerit Tari tak mampu Ia tahan.


Maudy dan juga Aini berlari dan langsung memeluk Tari bersamaan.


" Sabar Nak, kita harus sabar. Mama yakin Arka anak kuat dan mampu melewati semua ini. " Maudy mencoba memberi kekuatan pada Putrinya.


Bagaimana rasanya perasaan seorang Ibu melihat Putra semata wayangnya terbaring lemah seperti ini, begitu juga yang Tari rasakan. Ingin berteriak namun mungkin karena dirinya seorang Dokter jadi sedikit banyaknya Ia tahu bagaimana kondisi Putranya.


Dengan wajah yang masih shock dan mata yang memerah, Tari menatap wajah Ibunya sendu.


" Apa yang terjadi Ma " Tanya Tari dengan suara bergetar.


Bagaimana tidak sedih, pagi tadi anaknya berangkat masih segar bugar tiba tiba siang harinya tergeletak lemah tak berdaya.

__ADS_1


" Tante belum tau pasti Nak, tapi tadi kami menemukan Nak Arka dan juga Pak Ardi sudah di kerumuni orang orang banyak. Tadinya Tante mau ke sekolah, ada yang Tante urus tapi Tante malah menemukan mereka disana dalam keadaan yang sudah menghawatirkan. " Aini menjelaskan kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu.


Tari merintih dalam hati, menatap sedih wajah putra tunggalnya yang terlihat memucat.


__ADS_2