Super MOM

Super MOM
Tidak seburuk yang Ia pikirkan


__ADS_3

Tari turun dari mobil miliknya, setelah memastikan kondisi Arka baik- baik saja dan sudah di bolehkan pulang akhirnya. Tari memutuskan menjenguk sahabatnya yang menurut cerita Mama Maudy, Ia di rawat di klinik MCA milik Mama Maudy.


Ia langsung menuju kamar rawat tempat sahabatnya Imel di rawat.


" Mel. "


Tari langsung menghampiri brangkar tempat Imel tertidur, Ia mandangi wajah pucat sahabatnya. Sebelum kemari Ia sudah mendengar kabar kalau Imel sidah siuman dan itu membuatnya bersyukur.


" Mel, apa yang terjadi padamu. " Tanya Tari pelan seperti bergumam.


Ternyata suaranya di dengar oleh Imel, Ia membuka matanya pelan dan tersenyum melihat kalau ternyata memang Tari yang ada di sampingnya.


" Ri, apa itu kamu. "


Tari mengangguk dengan senyum mengembang di bibirnya. Ia mulai memeriksa keadaan Imel, karena Ia juga seorang Dokter.


" Bagaimana perasaanmu sekarang Mel. " Tanya Tari masih dengan tangan sibuk memeriksa infus yang masih mengalir di tubuh sahabatnya.


" Alhamdulillah Ri, aku mulai merasa nyaman sekarang. "


Tari manggut-manggut, dari hasil pemeriksaannya memang tidak ada yang perlu di khawatirkan.


" Ada yang ingin kamu ceritakan pada sahabat mu ini, kenapa sampai kamu ad disini Mel. "


Imel berjanji akan menceritakan semuanya setelah selang infus di tubuhnya lepas, Ia mulai merasa tidak nyaman, ada rasa nyeri pada bagian pergelangannya tempat infus itu di masukkan.


Setelah lepas Imel mulai menceritakan semuanya, bagaimana dirinya terkurung di apartemen dan berakhir di tolong warga yang melihat dirinya jngin bunuh diri di balkon.


Sebenarnya Ia tidak berniat bunuh diri, tapi Ia hanya ingin mencari jalan keluar karena perutnya sudah kelaparan. Terkurung tiga hari di dalam kamar bukan hal yang mudah di lalui. Hari pertama Ia masih tahan karena persediaan air minum masih banyak, hari kedua Ia pun masih tahan karena meminum air di kamar mandi, tapi di hari yang ketiga Ia tidak sanggup lagi. Meskipun minum tapi Ia juga butuh asupan nasi, karena dirinya berasal dari Jawa, rasanya tidak akan kenyang makan tanpa nasi.


Alhasil dengan tubuh lemah Imel mencoba mencari cara untuk turun, ingin lompat tapi takut mati. Kebetulan ada warga yang melihatnya dan meminta bantuan, akhirnya dengan bantuan petugas nyawa Imel bisa terselamatkan dan segera di larikan ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


" Lalu, maaf. Apa aku boleh tanya sesuatu. "


Tari sangat bersyukur karena ada orang baik yang menyelamatkan sahabatnya itu, namun saat ini Ia penasaran sama satu hal. Meski awalnya ragu namun Tari memberanikan diri untuk bertanya.


" Sejak kapan kamu harus minta ijin bertanya sesuatu padaku, biasanya juga langsung nyosor. "


Emang sih, biasanya Ia langsung bertanya, namun kali ini pertanyaan nya agak sensitif jadi Ia harus minta persetujuan terlebih dulu.


" Iya sih Mel, tapi pertanyaan ku kali ini lebih sensitif jadi aku harus ijin dulu takut kamu marah dan tiba-tiba melayangkan tinju padaku. "


Tari tertawa kecil sedangkan Imel hanya geleng-geleng kepala.


" Alhamdulillah kali ini kamu bisa selamat karena ada orang baik yang menolong kamu, tapi bagaimana dengan keponakan ku. Apa dia baik- baik saja. " Tanya Tari hati-hati hati.


Kening Imel berkerut, Ia tidak mengerti maksud dari perkataan Tari.


" Maksudnya keponakan. Keponakan siapa Ri. "


" Bukankah maaf, bukankah kamu sedang hamil. "


Bughhhh. !


Benar saja, meskipun sudah berbicara hati-hati ternyata Tari masih mendapat amukan dari Imel yang terkejut oleh ucapan Tari.


" Apa kamu sudah tidak waras Ri, bisa- bisanya kamu bilang aku hamil. Boro- boro hamil, kawin saja belum. "


Hilang sudah profesi seorang Dokter dimata Imel, Ia bahkan tidak segan- segan memukul sahabatnya dengan bantal yang Ia pegang. Untung saja yang ada di tangannya adalah bantal, coba kalau benda keras. Bisa- bisa Tari yang gantian di rawat di brangkar itu menggantikan Imel.


" Sabar - sabar, haish jangan marah- marah terus. Baru juga sembuh dari sakit langsung marah- marah, apa nggak takut kalau nanti kambuh lagi. "


Tari sangat bersyukur akhirnya yang Ia takutkan tidak jadi kenyataan, berarti digaannya selama ini adalah benar.

__ADS_1


" Bagaimana aku tidak marah, sahabatku sendiri meragukanku. Parahnya lagi Dia menuduhku hamil padahal Dia sendiri sudah tau bagaimana aku. Kalau kamu tidak percaya, ini..... nih..... nih silahkan di tes. Orang masih ting- ting juga. "


Tari menarik selimut dan menutup bagian bawah tubuh Imel.


" Iya- iya aku percaya deh. Cieee yang masih ting- ting, terus merit nya kapan. "


Wajah Imel semakin memerah ketika Tari menggodanya, memang sih sekarang umurnya bisa di katakan sudah matang. Umurnya dan umur Tari sama, tahun ini menginjak umur dua puluh enam tahun namun Ia belum menikah juga.


" Hish punya teman kejam banget. Do'a in dong biar cepat dapat jodoh. Eh tapi ngomong- ngomong kamu tau dari mana kalau aku hamil, maksudnya dengar dimana sampai kamu berpikir kalau aku hamil. "


Akhirnya Imel penasaran


" Ya, siapa lagi. "


" Maksud kamu, Kevin begitu. " Tanya Imel memiringkan sedikit kepalanya.


Tari bergumam dan mengangguk membenarkan.


" Mana ada. "


Imel mulai menceritakan pada Tari hubungan dirinya dan Kevin selama ini, bagaimana Kevin memperlakukan dirinya.


" Entahlah, tapi aku sampai saat ini belum tau kabarnya. Terakhir dia pergi setelah seseorang menelponnya dan dia marah- marah lalu mengunci pintu apartemen. Setelah itu aku tidak tau dimana keberadaannya. "


Tari menepuk pundak Imel pelan, ternyata semuanya tidak seburuk yang Ia pikirkan. Ia juga bertanya apakah Imel ingin bertemu dengan Pria itu dan di angguki oleh Imel yang memang ingin bertemu dengan Pria itu.


" Siapkan dirimu jika ingin bertemu dengannya, kalau kamu sudah merasa baikan aku akan mengajakmu menemuinya. "


Setelah di pastikan pulih, Tari memenuhi janjinya pada sahabatnya. Ia membawa Imel ke rumah sakit Atmajaya, Imel bertanya tanya dalam hati, untuk apa Tari mengajaknya kesana.


" Ri, untuk apa kita kemari. Bukannya aku sudah di pastikan sehat, aku tidak mau di suntik lagi, aku takut. "

__ADS_1


Kedua sahabat yang takut dengan jarum suntik, benar- benar aneh. Tapi yang lebih aneh adalah Tari, padahal hampir setiap hari Ia menyuntikkan jarum di tubuh pasiennya Ia tidak kenapa kenapa. Giliran Dia yang sakit takut untuk di suntik.


__ADS_2