Super MOM

Super MOM
Ujian


__ADS_3

Tari menangis seorang diri di dalam ruang pribadinya, disini Dia bisa meluapkan semuanya kesedihannya. Semua kepura-puraan nya selama ini, mencoba terlihat kuat demi sang buah hati yang butuh perlindungan.


Entah sudah berapa jam Ia tertidur, Tari mengerjapkan matanya pelan dan mendapati dirinya tertidur di lantai. Di liriknya jam tangan yang tergantung di dinding dan terkejut kalau hari sudah hampir siang, waktu dua rakaat pun sudah lewat.


Ia melangkah pelan memasuki kamar mandi yang ada di dalam ruang kerjanya, membersihkan dirinya disana. Tubuhnya terasa sakit semua, mungkin di karenakan Ia tertidur di lantai sepanjang malam.


Ia keluar setelah memakai pakaian baru, menghela nafas berat seolah dadanya di timbun benda berton ton beratnya.


" Mama. "


Tari terkejut ketika membuka pintu ternyata Maudy sudah berdiri di depan pintu dengan raut wajah khawatir. Tanpa menunggu aba aba Maudy langsung menarik tubuh Tari kedalam pelukannya.


" Kamu tidak apa apa Nak. " Tanya Maudy pelan.


Meskipun Ia tahu bahwa Putrinya itu pasti sedang tidak dalam keadaan baik sama seperti dirinya, namun sebisa mungkin Maudy bersikap sewajarnya karena saat ini sepertinya Putrinya itu sudah mulai membaik.


" Tari tidak apa apa Ma, maaf tadi malam Tari ketiduran di dalam. Oh bagaimana Arka, apa sudah bangun dan siap siap ke sekolah. "


Maudy mengucap syukur yang tak terhingga dari dalam hati karena ke khawatirannya semalam tidak terjadi.


Maudy yang mendadak panik saat tahu kalau Tari belum juga keluar dari ruangannya setelah kepulangan saudaranya, bergegas mengetuk ngetik pintu ruangan Tari namun tidak ada jawaban. Maudy mencari kunci duplikat namun karena panik jadi lupa dimana Ia meletakkan nya.


Mengingat sikap Tari selama ini akhirnya Maudy memilih tidur di sofa ruang tengah, memantau kalau kalau Tari akan bangun dan keluar tapi ternyata tidak.


Meskipun begitu Maudy percaya kalau Putrinya akan baik baik saja, meskipun dalam keadaan bersedih.


" Arka disini Ma. " Seru Arka saat melihat Ibunya sedang berbicara dengan sang Oma dan memang tanpa sengaja mendengar pertanyaan Ibunya yang menanyakan keadaan nya.


Maudy dan juga Tari serentak menolah ke asal suara, keduanya sama sama melangkah menghampiri bocah tampan itu.

__ADS_1


" Wah, anak Mama sudah rapi. Sudah siap mau kesekolah ya. "


Arka mengangguk pelan dengan senyum menghiasi bibirnya.


" Iya Ma "


Hari ini Tari mengantarkan Putranya kesekolah sebelum ke tempat kerjanya.


" Mama, apa ada masalah. " Tanya Arka di tengah kebisuan.


Tari yang sedang fokus menyetir sontak menoleh, Ia menatap wajah Putra semata wayangnya itu.


" Sayang, begini. Hmm...... setiap mahluk hidup itu terkadang di uji dengan beberapa masalah. Hidup ini tidak melulu seperti apa yang kita inginkan, namun melainkan apa yang Allah kehendaki. Terkadang yang kita anggap baik belum tentu baik buat kita, begitu juga sebaliknya. Nah hal itu yang biasa di sebuat ujian, adapun ujian itu ada yang berat dan juga ada yang ringan, semua itu semata-mata untuk menguji kadar keimanan setiap hamba. Mungkin begitu juga dengan Mama saat ini. Tapi, Arka tidak perlu memikirkan apapun, fokus pada pelajaran saja ya. Biasalah orang tua, bukankah memang orang tua itu selalu punya sedikit masalah tapi nanti juga akan baik dengan sendirinya. Jadi Arka nggak usah pikirin lagi ya. "


Tari menjelaskan secara hati hati, memberi pengertian pada anaknya itu. Ia tidak ingin lagi mengatakan tidak apa apa dan baik baik saja, yang tentu semua itu adalah kebohongan semata karena tidak ingin Putra kesayangan nya itu memikirkan sesuatu yang memang belum rananya. Meskipun Ia juga tahu kalau setiap Ia berbohong Putranya itu tetap akan menyadarinya.


Tari kembali melajukan roda empat nya hingga tiba di parkiran sekolah.


" Hati hati sayang. " Tari membantu Arka turun.


Bocah tampan itu mencium punggung tangan Ibunya sebelum memilih masuk kelas, Tari mengusap rambut Arka pelan.


" Semangat belajarnya ya Sayang, ingat jangan kemana-mana. Nanti pulang sekolah di jemput Pak Ardi ya seperti biasa. "


Tari melanjutkan perjalanan nya ketika Arka sudah masuk kelas, kembali melajukan mobil mewahnya itu hingga tiba di rumah sakit tempat Ia bekerja.


Dengan langkah tegap Ia memasuki lorong rumah sakit menuju keruang kerjanya. Baru juga membuka pintu Ia langsung di kejutkan dengan hadirnya orang lain di dalam ruangannya. Tari memperlambat langkah kakinya menuju kursi kebesaran nya.


" Hai. " Suara itu menyapanya.

__ADS_1


" Hm, ada apa El. Baru pagi pagi kamu sudah ada di ruangan ku, menyusup seperti maling, ada hal penting apa El. " Tari bertanya sembari membuka laptop miliknya.


Seolah kehadiran El tidak ada artinya untuknya.


" Aku ingin bicara dengan mu, sekarang. "


" Ingin bicara, ya sudah sekarang bicaralah. "


Kedua duanya sama sama dingin, tidak seperti biasanya.


" Cukup Ri, aku ingin bicara serius dengan mu. Bisakah kita mencari tempat yang lebih santai. " Nada bicara El mulai meninggi sedangkan Tari tidak terlalu menanggapinya.


Tari menghela nafas berat, bukan maksud nya untuk mengacuhkan ajakan El tapi Ia belum ingin berurusan dengan Pria itu setelah sebelumnya orang tuanya yang sudah datang menemuinya.


" Maaf El, tapi aku tidak bisa. Sebentar lagi aku ada jadwal operasi dan aku harus mempersiapkannya lebih dulu. "


El menatap wajah serius Tari, di benaknya apa wanita itu tidak merasa khawatir atau merasa terganggu dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


" Baiklah, aku akan menunggumu disini sampai pekerjaan mu selesai. "


El duduk di salah satu kursi dengan bersedekap dada, niatnya hari ini adalah berbicara berdua dengan Tari walau tampaknya wanita itu tidak tertarik dengan semua yang Ia katakan.


" El, cukup. Apa kamu tidak punya pekerjaan lain sehingga melakukan hal yang buang buang waktu seperti ini. "


Tari mulai terganggu dengan kehadiran El di ruangannya, melihat sikap El yang seperti saat ini membuat konsetrasi nya hilang.


" Aku tidak buang buang waktu, tapi kamu sendiri yang bilang pagi ini ada pekerjaan penting. Untuk itu aku akan menunggumu sampai selesai. "


Sama sama keras kepala akan sulit menyatu kalau tidak ada yang mau mengalah

__ADS_1


__ADS_2